Suara yang Tak Pernah Didengar

Nadzir Arafah
Chapter #23

Bunga Melati di Penghujung Senja

Hari peluncuran buku tiba. Gedung kesenian kota dipenuhi oleh tamu undangan, mahasiswa, rekan media, serta orang-orang yang mengikuti perkembangan kasus Ayah sejak awal. Foto besar sampul buku Jejak yang Tertinggal di Balik Hening terpajang di panggung utama, menampilkan ilustrasi sebuah boneka beruang krem yang tergeletak di dekat jendela bersinar.

Aku berdiri di balik panggung, meremas jariku yang dingin. Paman Satya, Tante Rani, Fira, Mila, dan Rina berdiri menyemangatiku. Tiga sahabat lamaku khusus meluangkan waktu mereka dengan datang ke sini.

"Kamu siap, Din?" tanya Rina sambil merapikan kerah blazer hitam yang kukenakan.

Aku menarik napas panjang, meresapi kehangatan dari orang-orang yang mencintaiku di ruangan ini. "Aku siap."

Saat namaku dipanggil oleh pembawa acara, aku melangkah keluar menuju podium. Tepuk tangan riuh menyambutku. Cahaya lampu panggung terasa hangat membasahi wajahku. Di hadapanku, puluhan pasang mata menatap dengan penuh simpati dan rasa hormat.

Aku berdiri di depan mikrofon, menatap hadirin sejenak sebelum mulai berbicara.

"Selamat sore semuanya," ucapku dengan gema jernih di seluruh ruangan, "terima kasih sudah hadir di sini hari ini. Aku ingin memulai dengan satu hal yang banyak orang bertanya padaku, mengapa aku memilih untuk mempublikasikan kisah yang begitu kelam dan penuh duka ini? Mengapa tidak membiarkan masa lalu itu terkubur bersama orang-orang yang telah pergi?"

Aku jeda sejenak, memandang ke arah Paman Satya yang mengangguk bangga di barisan depan.

"Jawabannya adalah karena duka yang disembunyikan akan menjadi racun," lanjutku. "Selama bertahun-tahun, aku hidup dalam racun kemarahan dan prasangka. Aku menyalahkan ayahku atas kematian ibuku, aku menyalahkan ibuku atas kepergian adikku, dan yang paling parah, aku membenci diriku sendiri karena merasa menjadi penyebab kehancuran keluarga kami."

Lihat selengkapnya