Di pertengahan tahun kedua sejak peluncuran buku Jejak yang Tertinggal di Balik Hening, kesibukanku di lembaga swadaya masyarakat mengalir dengan irama tanpa henti. Hari-hariku kini dipenuhi oleh wajah-wajah mungil yang menyimpan ketakutan serupa dengan apa yang kurasakan di masa lalu. Anak-anak yang kehilangan pegangan, yang jiwanya terguncang oleh perpisahan, kekerasan, atau kepergian orang tua yang mendadak.
Di salah satu sudut ruang konseling yang kupimpin, ada sebuah meja kayu kecil dengan vas berisi bunga melati segar. Di atas raknya, terikat rapi beberapa salinan bukuku. Bukan untuk dijual, melainkan untuk dibaca oleh para pendamping atau orang tua asuh yang sedang berjuang memahami betapa rumitnya labirin emosi seorang anak yang terluka.
Seperti sore itu, seorang wanita setengah baya datang menemuiku. Wajahnya lelah, garis-garis kecemasan terukir jelas di sekitar matanya. Ia membawa seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun yang menunduk dalam-dalam, menolak menatap siapa pun, sembari meremas kuat-kuat ujung gaun mewahnya yang sudah agak kotor.
"Mbak Dina ...,” suara wanita itu bergetar saat kami duduk di ruang tamu lembaga. "Saya membaca buku Mbak. Saya datang ke sini karena ... saya tidak tahu lagi harus berbuat apa pada Nisa. Sejak ayahnya meninggal dalam kecelakaan dua bulan lalu, dia tidak bersuara sama sekali. Dia mengunci dirinya dalam diam, persis seperti yang Mbak ceritakan tentang diri Mbak dulu."
Aku berlutut di hadapan anak perempuan bernama Nisa itu. Usianya mungkin sekitar sepuluh tahun—usia di mana Aruna takkan pernah bisa mencapainya. Tatapan matanya yang kosong dan menolak dunia luar memantulkan bayangan diriku saat baru saja kehilangan seluruh anggota keluargaku. Aku seperti melihat diriku sendiri di tubuh yang berbeda.
"Hai, Nisa," sapaku lembut. Aku tidak memaksanya untuk menatapku atau menjawab. Aku hanya menarik sebuah kursi kecil dan duduk di sebelahnya.
Dari dalam tas kerjaku, aku mengeluarkan sesuatu yang selalu kubawa belakangan ini: sebuah buku gambar berukuran sedang dan sekotak pensil warna. Aku meletakkannya di antara kami, lalu mulai menggoreskan warna biru di atas kertas putih.
"Kamu tahu, Nisa?" ucapku pelan, seolah berbicara pada angin, "dulu, waktu Kakak sangat sedih dan marah pada dunia, Kakak juga tidak mau bicara. Kakak pikir, kalau Kakak bicara, tidak akan ada yang mengerti. Kakak pikir, diam adalah satu-satunya cara agar rasa sakit di dada ini tidak makin membesar."
Jemari kecil Nisa berhenti meremas gaunnya. Dia hanya diam. Meski kutahu gadis kecil itu mulai mendengarkan.
"Tapi ternyata," lanjutku seraya mewarnai gambar sesosok beruang kecil di bawah pohon, "rasa sakit itu seperti air yang terjebak di dalam gelas berpenutup. Kalau ditahan terus, gelasnya bisa pecah. Bicaranya tidak harus pakai suara, Nisa. Bisa pakai warna, bisa pakai gambar, atau bisa cuma dengan duduk diam ditemani seseorang yang siap mendengarkan semua keluhanmu."
Aku menggeser pensil warna merah muda itu. Kutaruh di dekat tangan kecilnya. Selama beberapa menit, hanya ada suara detak jam dinding dan gesekan halus pensil warnaku di atas kertas. Wanita di seberang kami menahan napas, menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.