SUARA YANG TEREDAM

Dariyanti
Chapter #2

Bab 1. Rumah yang Tenang

Rani baru sadar nasi di rice cooker terlalu lembek saat Ardi sudah duduk di meja makan. Tidak ada suara marah. Itu justru yang membuat perutnya mengeras sejak tadi subuh. Ardi menarik kursi pelan. Bunyi kayunya bergesek sebentar dengan lantai keramik. Rani cepat-cepat mengambil mangkuk.

“Sebentar, Mas.”

Ardi tidak langsung makan. Dia melihat lauk di meja dulu. Tempe orek, telur dadar, sayur bening kencur. Lalu matanya berhenti di rice cooker yang masih terbuka.

“Airnya kebanyakan ya.” Bukan pertanyaan.

Rani memaksakan senyum kecil. “Tadi kayaknya berasnya beda.”

“Oh.” Ardi mengangguk pelan sambil mengambil sendok.

Cuma itu. Rani berdiri dekat meja makan sambil meremas ujung baju rumahnya sendiri. Ardi menyendok nasi sedikit. Diam sebentar waktu melihat teksturnya. “Kalau bikin nasi tuh harus pake feeling.”

Rani mengangguk cepat. “Iya, maaf Mas.”

“Aku heran sebenarnya.” Ardi meniup sayur bening sebelum memakannya. “Hal yang tiap hari dikerjain kok masih bisa salah.” Nada suaranya datar. Seperti sedang membicarakan cuaca.

Rani duduk perlahan di kursi yang ada di seberang.

Di luar rumah terdengar motor tukang roti lewat. Ada suara anak kecil nangis dari gang depan. Pagi di rumah itu selalu terdengar everyday untuk orang luar.

Ardi makan pelan.

Rani jadi sulit menelan makanannya sendiri.

“Aku dulu mikir,” kata Ardi lagi sambil tetap melihat piringnya, “perempuan kalau udah jadi istri minimum keadaan rumah bikin tenang.”

Rani langsung menjawab kecil. “Iya.”

“Soalnya laki-laki capek di luar.”

“Iya, Mas.”

“Tapi kalau di rumah masih harus mikirin hal begini terus.” Dia mengangkat sendok nasi sedikit. “Cape juga.”

Rani buru-buru mengambil rice cooker.

“Nanti aku bikin lagi aja, Mas.”

Ardi menghela napas pendek.

“Udah gak usah. Jangan boros Listrik!”

Kalimat itu lebih menusuk daripada bentakan. Mereka lanjut makan dalam diam. Jam dinding berdetak keras sekali di ruang makan.

Rani hafal ritme rumah itu sekarang. Kapan Ardi mulai tidak suka sesuatu. Kapan dia sengaja diam. Kapan dia akan membawa kesalahan kecil sampai malam nanti. Yang paling melelahkan justru karena Ardi jarang benar-benar marah. Kalau marah, orang bisa melawan. Kalau seperti ini, Rani selalu merasa mungkin memang dirinya yang kurang benar.

Setelah makan, Ardi berdiri sambil mengambil tas kerjanya. “Sendoknya jangan ditaruh campur sama spatula lagi.”

Rani langsung menoleh. “Hah?”

“Kemarin aku nyari sendok sup lama.”

“Oh… iya.”

“Aku nggak suka dapur berantakan.”

Padahal dapur itu nyaris selalu bersih.

Ardi memakai sepatu di dekat pintu depan. Sebelum keluar dia menatap Rani sebentar. “Kamu jangan kebanyakan tidur siang. Makanya suka lemot.”

Lalu pergi begitu saja. Suara pagar ditutup terdengar nyaring. Rani berdiri lama di ruang makan. Sunyi lagi. Rumah itu selalu terasa berbeda begitu Ardi keluar. Bukan lebih nyaman. Cuma seperti sesuatu berhenti menahan napas. Rani mulai membereskan meja. Piring dicuci, sisa nasi dibuang sedikit demi sedikit, meja dilap ulang meski sebenarnya sudah bersih.

***

Dapur berada di belakang rumah, sempit dan pengap. Ventilasinya kecil menghadap tembok tetangga. Di siang hari pun bagian situ terasa agak gelap. Rani sedang mencuci perabotan tiba-tiba mendengar bunyi kecil.

Tok.

Lalu berhenti.

Air keran masih mengalir tipis.

Tok… tok….

Seperti sesuatu jatuh pelan.

Rani menoleh ke lorong belakang dekat gudang. Gelap, mungkin tikus, pikirnya. Dia kembali mencuci. Lalu terdengar lagi. Kali ini bukan bunyi barang jatuh. Seperti… orang batuk, suara rendah, serak. Rani perlahan mematikan keran.

Dapur langsung jadi sangat sunyi. Dan dari ujung lorong belakang rumah, terdengar suara pelan seperti seseorang sedang menarik napas berat.

Rani berdiri terlalu lama di depan lorong belakang sampai air dari keran menetes memenuhi baskom cucian.

Tidak ada suara lagi. Cuma lorong sempit dengan lampu kuning redup di ujungnya. Menuju gudang kecil dan tempat jemuran belakang.

Rumah itu memang sering bunyi macam-macam. Kayu memuai, atap bunyi, tikus lewat plafon.

Rani menelan ludah lalu membuka keran lagi lebih besar, sengaja membuat suara air memenuhi dapur.

Ibunya dulu pernah bilang, “kalau perempuan telalu mikirin hal aneh-aneh terus nanti gampang stres.” Kalimat itu tiba-tiba muncul sendiri di kepala.

Sore harinya Rani menyapu ruang tengah sambil menunggu Ardi pulang. Televisi menyala kecil tanpa benar-benar ditonton. Acara gosip sore dengan suara presenter terlalu ceria.

Rumah itu rapi sekali, terlalu rapi malah. Semua benda seperti punya aturan sendiri, sandal harus sejajar, gelas tidak boleh beda warna, lap dapur ada lap khusus meja dan lap khusus tangan. Ardi bisa tahu kalau ada yang berpindah sedikit. Awalnya Rani sempat menganggap itu tanda lelaki bersih. Sekarang rasanya seperti tinggal di rumah contoh yang tidak boleh disentuh.

Menjelang magrib, suara motor Ardi masuk gang, tubuh Rani langsung tegang. Ia buru-buru ke dapur menghangatkan sayur.

Ardi masuk rumah sambil melepas jam tangan. “Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

“Mana minum?”

Rani cepat mengambil teh anget.

Ardi duduk sambil membuka ponsel. Kemeja kerjanya masih rapi meski sudah sore.

“Kamu hari ini ngapain aja?”

Pertanyaan sederhana. Tapi Rani tahu itu bukan basa-basi.

“Nyuci… terus bersih-bersih depan.”

Ardi melihat rak televisi. “Debunya masih ada.”

Rani langsung menoleh. Padahal nyaris tidak terlihat apa-apa. “Nanti aku lap lagi, Mas.”

Ardi bersandar. “Kalau kerja tuh yang teliti.”

“Iya.”

“Aku kadang bingung ya.” Ardi tertawa kecil sendiri. “Perempuan di rumah itu kerjanya apa sebenarnya kalau rumah masih begini.”

Rani diam.

“Laki-laki kerja di luar panas-panasan.” Ardi mengambil teh tanpa melihat Rani. “Perempuan tinggal urus rumah.”

Kata tinggal itu selalu mengganggu Rani. Tinggal. Seolah semua yang dia lakukan tidak menghabiskan tenaga.

Ardi minum sedikit lalu mengernyit. “Gulanya kebanyakan.”

“Sedikit doang tadi.”

“Ya tetap aja takarannya salah.”

Lihat selengkapnya