Setelah menemukan piring logam itu semalam, Rani buru-buru kembali ke kamar tanpa membawa apa-apa. Ia bahkan tidak berani menyentuh piringnya. Yang paling membuatnya takut bukan potongan dari telur setengah dimakan itu, tapi fakta bahwa ada seseorang mungkin di rumah itu saat tidur.
Pagi datang terlalu cepat, jam lima lewat sedikit, suara Bu Sulastri sudah terdengar dari dapur depan.
“Rani.”
Belum juga matahari naik penuh.
“Iya, Bu…”
“Kamu kalau bangun jangan nunggu dipanggil.”
Rani cepat bangun dari kasur.
Ardi masih tidur miring membelakanginya. Semalam laki-laki itu sama sekali tidak sadar istrinya keluar kamar tengah malam.
Rani mengambil mukena lalu keluar kamar. Bu Sulastri sedang duduk sambil membersihkan daun bayam.
“Air belum dimasak.”
“Niatnya habis salat tadi…”
“Perempuan tuh harus gercep.”
Rani diam lalu langsung ke dapur. Tubuhnya masih lemas, pikirannya terus kembali ke gudang belakang. Ia melirik ke arah lorong belakang, terang pagi membuat tempat itu terlihat biasa saja sekarang, malah terlalu biasa, seolah semalam tidak terjadi apa-apa.
“Bu…” katanya pelan, sambil menaruh panci di kompor.
“Hm?”
“Semalam Ibu ke belakang nggak?”
Bu Sulastri tidak langsung jawab. “Belakang mana?”
“Gudang…”
“Ngapain malam-malam ke gudang?” Nada suaranya berubah hati-hati.
“Aku dengar suara.”
Bu Sulastri mendecak kecil. “Kamu ini ya.”
Rani menunduk.
“Rumah tenang dibikin serem sendiri.”
“Aku cuma—”
“Perempuan kalau pikirannya kosong memang suka cari-cari.”
Kalimat itu keluar cepat sekali.
Seolah semua sudah diputuskan bahwa Rani berlebihan. Bu Sulastri lanjut membersihkan bayam.
“Dulu mantan-mantan perempuan Ardi juga banyak yang aneh.”
Rani langsung menoleh.
“Mantan?”
Bu Sulastri sadar keceplosan sepersekian detik. Tapi wajahnya cepat kembali biasa. “Ya… mantan pacar, perempuan-perempuan sebelum nikah.”
Rani diam. Aneh, selama ini Ardi selalu bilang dia tidak pernah dekat serius dengan siapa pun sebelum menikah. Bahkan waktu awal kenalan, Ardi pernah bilang, “saya nggak suka important-predominant sama perempuan.”
Bu Sulastri berdiri membawa bayam ke wastafel untuk mencucinya dan masih mengoceh, seperti membanggakan anaknya, “laki-laki kalau udah kerja mapan pasti banyak yang nempel.”
Rani mencoba tertawa kecil.
“Iya, Bu.”
Ardi keluar kamar sekitar setengah tujuh, rambutnya masih basah habis mandi. “Teh.” Bukan meminta, lebih seperti urutan kegiatan harian.
Rani langsung membuat teh.
Ardi duduk sambil membaca berita dari ponselnya, “kamu tidur jam berapa semalam?”
Rani berhenti sebentar. “Kayak biasa”
“Aku bangun bentar tadi malam kamu nggak ada.”
Jantung Rani langsung turun. “Aku ke dapur.”
“Ngapain?”
“Ambil minum.”
Ardi menatapnya sekarang, lama. “Jangan kebiasaan keluyuran malam, kamu sedia air minum di kamar kan bisa.”
Keluyuran, padahal Rani cuma berjalan di rumah sendiri. Ia kesal tapi menmganggap tidak pernah ada perasaan itu. Ia menyerahkan teh.
“Iya,lain kali gak lagi.”
Ardi minum sedikit lalu berkata santai, “perempuan kalau terlalu penasaran biasanya hidupnya nggak tenang.”
Bu Sulastri langsung menyahut dari dapur depan. “Nah itu.”
Rani memegang ujung bajunya sendiri di bawah meja.
“Rumah ini udah tenang dari dulu.” Ardi masih melihat ponselnya. “Jangan bikin macam-macam.”
Kalimat itu terdengar biasa. Tapi ada sesuatu di cara Ardi mengatakannya, seperti peringatan.
***
Siang harinya, setelah Ardi berangkat kerja dan Bu Sulastri tidur, Rani berdiri lagi di depan lorong belakang, sunyi, ia berjalan pelan menuju gudang. Pintu gudang sekarang tertutup rapat. Ia membuka perlahan.
Bau lembap langsung keluar. Ruangan kecil itu tampak sama seperti semalam, tumpukan barang lama, karung bekas, kardus. Tapi piring logam itu—sudah tidak ada.
Rani berdiri di tengah gudang sambil menatap lantai kosong. Piringnya hilang, padahal semalam ia yakin sekali melihatnya, bahkan sampai ingat bentuk lecet di pinggir logamnya, tidak mungkin salah lihat. Ia cepat-cepat memeriksa sudut-sudut ruangan.
Rani jongkok membuka kardus usang pada satu baris. Buku sekolah lama, toples retak, taplak usang. Masih sama, tidak ada piring. Napasnya mulai pendek sendiri, kalau bukan dia yang salah lihat, berarti ada seseorang yang masuk ke gudang ini pagi tadi dan mengambilnya.
Suara sandal menyeret lantai terdengar dari dalam rumah, Rani langsung berdiri cepat. Bu Sulastri datang.
“Rani?”
“Iya Bu!”
“Kamu ngapain di belakang?”
“Ini… nyari ember.”
Bu Sulastri muncul di ujung lorong sambil menyipitkan mata.
“Ngapain nyari ember di gudang?”
“Kirain ada….”
Bu Sulastri melihat ke dalam gudang sebentar. Tatapannya datar, lalu pindah lagi ke Rani. “Kamu jangan suka bongkar-bongkar barang.”
“Iya, Bu.”
“Rumah ini udah ada aturannya.”
Kalimat itu lagi, aturan, selalu aturan.
Bu Sulastri mendekat sedikit. “Perempuan kalau masuk rumah orang harus tau diri.”
Rumah orang. Padahal Rani tinggal di sana, tidur di sana, masak dan makan di sana, membersihkan semuanya tiap hari. Tapi kadang ia tetap merasa seperti tamu yang bisa ditegur kapan saja.
“Aku cuma nyari ember tadi.”
“Kalau perlu apa-apa bilang.”
“Iya.”
“Jangan pegang-pegang barang sembarangan.”