Suara tangisan itu terus terbawa sampai pagi. Bahkan setelah Rani akhirnya tertidur sebentar menjelang subuh, suara itu masih terasa tertinggal di telinganya, pelan dan tertahan. Seperti orang yang sudah terlalu lama belajar menangis tanpa suara.
Pagi datang bersama suara sapu lidi di teras depan. Bu Sulastri sudah bangun lebih dulu lagi. Rani membuka mata dengan kepala berat. Di sebelahnya, Ardi sudah tidak ada. Kasur bagian kirinya dingin.
Rani duduk perlahan. Pergelangan tangannya masih agak sakit bekas ditarik semalam. Ia menatap bekas merah samar di kulitnya sendiri beberapa detik, lalu cepat-cepat menurunkan lengan baju. Entah kenapa dia malu melihatnya, seolah bekas itu salahnya sendiri.
Begitu keluar kamar, suara mertu langsung terdengar.
“Bangun juga.”
“Iya, Bu.”
“Jam segini baru keluar kamar.” Jam dinding menunjukkan setengah enam.
Tanpa merespon, Rani langsung ke dapur.
Ardi duduk di meja makan sambil membaca koran, normal sekali, seperti semalam tidak ada apa-apa. “Tehnya mana?” tanyanya tanpa melihat Rani.
“Bentar.” Rani membuat teh sambil diam-diam memperhatikan suaminya.
Tidak ada tanda gugup, tidak ada tanda takut, Ardi terlihat terlalu biasa. Itu justru membuat Rani makin tidak tenang.
“Mas…,” katanya hati-hati.
Ardi melipat sedikit korannya. “Hm?”
“Semalam.”
“Udah.” Cepat memotong.
Rani langsung diam.
Ardi menyesap tehnya. “Kamu kebanyakan di rumah sendiri.”
Bu Sulastri menyahut dari ruang Tengah, “makanya cepat punya anak.”
Rani langsung menunduk. Topik itu lagi, sudah hampir setahun menikah dan dia belum hamil. Setiap bulan tubuhnya seperti barang yang gagal memenuhi fungsinya.
“Perempuan kalau belum jadi ibu pikirannya kemana-mana,” lanjut Bu Sulastri.
Rani menggenggam pegangan teko lebih erat.
Dan Ardi melipat koran yang baru selesai dibaca. “Nanti siang kamu ikut Ibu ke pengajian.”
“Iya.”
“Jangan lupa pakai ciput yang rapat.”
“Iya.”
Dan begitu saja pembicaraan selesai, tidak ada ruang untuk kembali membahas semalam. Rumah itu punya cara sendiri menghapus sesuatu, cukup dengan pura-pura tidak terjadi.
Siang harinya Rani ikut mertuanya ke pengajian di gang depan. Rumah-rumah berdempetan, ibu-ibu duduk lesehan sambil membawa wadah makanan. Begitu bu Sulastri masuk, beberapa orang langsung menyapa dengan ramah.
“Bu Haji….”
“Pak Ardi kerja ya?”
“MasyaAllah anaknya paling perhatian sama orang tua.”
Rani duduk diam sambil membantu menuang teh. Ia memperhatikan sesuatu, setiap orang selalu memuji Ardi, sabar, rajin, kalem. Nggak pernah macam-macam, salah satu ibu bahkan berkata, “sekarang susah cari laki-laki kayak Pak Ardi.”
Bu Sulastri tersenyum bangga. “Ardi dari kecil emang paling nurut.” Lalu tangannya menepuk paha Rani pelan. “Kamu mah enak tinggal ngikut suami.”
Ngikut. Semua perempuan di ruangan itu mengangguk seperti itu memang hidup yang benar.
Setelah pengajian selesai, seorang ibu tua menghampiri Rani waktu bu Sulastri sibuk di depan. “Baru ya tinggal di rumah itu?”
Rani menoleh. “Iya, Bu.”
Ibu itu mengangguk pelan sambil menatapnya agak lama. “Udah betah?”
Belum sempat Rani menjawab, Bu Sulastri langsung muncul.
“Mari dulu ya.” Nada suaranya cepat, terlalu cepat
Perempuan tua tadi diam sebentar lalu tersenyum tipis. “Iya.”
Saat mereka berjalan pulang, bu Sulastri tiba-tiba berkata tanpa melihat Rani, “kalau orang luar ngomong macam-macam nggak usah didenger.”
Rani menoleh. “Apa?”
“Namanya juga tetangga. Seneng ikut campur rumah orang.”
Padahal Rani belum bilang apa pun.
Langkah Bu Sulastri terus cepat menuju rumah. Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Rani mulai merasa, mungkin memang ada sesuatu tentang rumah tangga itu yang diketahui orang lain.
***
Sepanjang jalan pulang, bu Sulastri terus berjalan denngan cepat-cepat, tidak biasanya begitu. Biasanya perempuan tua itu senang berhenti buat ngobrol dengan tetangga. Ini tidak. Tangannya menggenggam tas pengajian erat, wajahnya kaku.
Rani berjalan diam di belakang sambil memperhatikan gang kecil yang mulai ramai siang hari, tukang sayur lewat, anak-anak lari bawa bola plastic, ibu-ibu duduk dekat warung. Semuanya terlihat biasa. Dan justru itu yang Rani bertanya-tanya. Karena tidak ada satu pun orang yang pernah benar-benar membicarakan rumah itu secara jelas. Hanya potongan kalimat yang tidak sampai pada intinya. Tatapan, obrolan yang dipotong cepat.
Begitu sampai rumah, bu Sulastri langsung berkata, “kamu jemur handuk dulu.”
“Iya.”
“Aku mau tidur siang. Jangan berisik.”
Rani mengangguk, begitu Bu Sulastri masuk kamar, rumah kembali sunyi. Ardi belum pulang, masih kerja. Pak Hendra belum keluar kamar sejak habis makan siang.
Rani membawa ember cucian ke belakang, area jemuran lembap karena hujan semalam. Bau tanah basah pun naik dari sela semen retak. Ia menggantung handuk satu per satu sambil melirik tembok gudang diam-diam. Tembok itu tampak biasa, catnya kusam, ada jamur hitam dekat bawah.
Tapi sekarang Rani tidak bisa melihatnya tanpa membayangkan ada seseorang tepat di balik sana, Ia menaruh ember lalu mendekat perlahan, tangannya menyentuh semen dingin, pelan-pelan ia mengetuk.
Tok.
Padat. Rani bergeser sedikit ke samping.
Tok.
Masih sama.
Lalu lebih dekat ke sudut belakang—tok….
Berbeda, lebih kosong.
Rani membeku, ia mengetuk lagi pelan.
Tok… tok….
Kosong.
Jantung Rani langsung berdegup lebih cepat. Ada ruang di balik sana, bukan tanah, bukan tembok penuh. Ia menahan napas. Tiba-tiba—
“Rani!”
Rani langsung tersentak.
Pak Hendra berdiri di pintu belakang. Orang tua itu jarang sekali memanggil namanya langsung.
“Iya Pak.”
“Kopi.”
“Oh… iya.”
Tatapan Pak Hendra turun ke tangan Rani yang masih menempel di tembok, beberapa detik. Lalu berkata datar, “belakang nggak usah dibersihin terlalu jauh.”
Rani perlahan menarik tangannya. “Iya.”
Pak Hendra masih berdiri di sana. Tubuhnya kurus dan agak bungkuk sekarang, tapi ada sesuatu dari caranya melihat yang membuat Rani tidak nyaman. Seperti tahu persis apa yang sedang dicari Rani.
“Dulu juga suka begitu,” katanya tiba-tiba.
Rani mengernyit. “Siapa?”