SUARA YANG TEREDAM

Dariyanti
Chapter #5

Bab 4. Rahasianya

Krek.

Krek….

Langkah kecil itu bergerak pelan di atas plafon ruang tengah. Semua orang diam. Rani melihat jelas perubahan wajah mereka satu—per—satu. Bu Sulastri langsung pucat. Pak Hendra menoleh cepat ke atas, dan Ardi—rahangnya mengeras.

Bukan bingung, bukan heran, atau pun marah. Seolah suara itu muncul di waktu yang salah.

Krek ….

Langkah itu tiba-tiba berhenti tepat di atas mereka. Sunyi langsung terasa. Rani menahan napas sambil melihat langit-langit putih kusam rumah itu. Tidak mungkin tikus, pikirnya. Terlalu berat, terlalu teratur, seperti langkah manusia yang berusaha berjalan dengan sangat pelan.

Lalu, ibu Sulastri yang pertama bicara.

“Itu mungkin kucing.”

Padahal suaranya sendiri gemetar sedikit.

“Kucing nggak jalan begitu…,” kata Rani lirih.

Ardi langsung menoleh tajam.

“Udah.”

“Tapi Mas denger sendiri—”

“UDAH.” Suara Ardi memotong ruangan.

Pak Hendra berdeham lalu berkata pelan. “Atap rumah tua memang sering bunyi.”

Kalimat itu terdengar dipaksakan.

Krek.

Satu langkah lagi. Dekat sekali. Rani melihat mata Bu Sulastri mulai terlihat tidak tenang sekarang. Perempuan tua itu menggenggam ujung mukenanya sendiri, seperti ada beban yang sedang dalam hidupnya.

Ardi langsung bertindak, ia menarik napas panjang lalu mengambil kursi lagi. “Aku coba cek atas.”

“Mas jangan sendiri, aku bisa bantu,” kata Rani refleks.

Ardi menatapnya dingin.

“Kenapa?”

Rani langsung diam.

Ardi membawa kursi ke dekat gudang kecil samping dapur, tempat akses plafon berada. Tutup plafonnya dari kayu tipis persegi.

Rani baru sadar selama ini dia bahkan tidak pernah memperhatikan bagian itu ada akses.

Ardi naik kursi lalu membuka penutup plafon. Gelap. Ada hamburan debu turun sedikit. Ia mengambil senter dari laci dapur lalu menyorot ke atas.

Rani berdiri beberapa langkah di belakang sambil menahan napas. “Mas…,” suaranya pelan.

Ardi tidak menjawab, dan focus yang sedang dilakukan. Senter bergerak pelan menyapu loteng sempit. Hanya kayu-kayu rangka atap dan kabel lama. Tidak ada suara lagi sekarang, sunyi seperti biasanya.

Ardi turun lagi. “Nggak ada apa-apa.”

“Tapi tadi—”

“Udah dibilang rumah tua.”

Rani melihat wajahnya. Mereka terlalu cepat menutup pembicaraan.

Bu Sulastri langsung menyahut. “Udah malam. Jangan dibikin panjang hal sepele seperti ini.” Lalu perempuan tua itu masuk kamar lebih dulu, cepat, seperti ingin mengakhiri semuanya. Lalu, pak Hendra menyusul tanpa bicara.

Tinggal Rani dan Ardi di ruang Tengah. Lampu putih membuat wajah Ardi terlihat lebih keras malam itu.

“Kamu puas sekarang?”

Rani mengernyit. “Hah?”

“Semua orang kebangun gara-gara kamu.”

“Aku nggak sengaja.”

“Kamu makin hari makin aneh.”

Kalimat itu pelan, tapi sangat menusuk.

“Aku beneran lihat, Mas.”

Ardi tertawa kecil tanpa humor. “Kamu tau kenapa perempuan gampang stres?”

Rani diam.

“Karena terlalu banyak waktu buat mikiri hal gak penting,” ucap Ardi sambil menaruh kursi kembali ke tempat semula. “Makanya dari dulu laki-laki yang pegang rumah.” Ardi menatap Rani. “Kalau semua nurut perasaan perempuan, rumah nggak jalan.”

“Aku cuma takut.”

“Takut sama rumah sendiri?” Ardi mendekat sedikit. “Atau takut karena kamu sudah mulai isi kepala sendiri macem-macem?”

Rani mundur setengah langkah tanpa sadar. Dan Ardi melihat itu. Matanya berubah sebentar, terluka, tapi lebih karena egonya tersentuh.

“Kamu sekarang takut sama suami kamu?”

Pertanyaan itu membuat Rani langsung merasa bersalah lagi. Cepat sekali, seolah rasa takutnya sendiri adalah penghinaan buat Ardi.

“Aku nggak bilang gitu….”

“Ya jangan bertingkah kayak aku mau nyakitin kamu.”

Sunyi. Lalu Ardi mengusap wajahnya pelan. “Tidur sana!”

Ardi berjalan duluan ke kamar. Sedangkan Rani berdiri sendirian di ruang Tengah, dengan lampu masih menyala dan rumah kembali hening. Tapi sekarang ia masih yakin, suara tadi nyata, dan semua orang di rumah ini mendengarnya. Artinya… semua orang juga sedang berbohong.

***

Pagi itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Bukan sunyi karena nyaman, sunyi yang penuh orang sedang pura-pura setiap hari.

Bu Sulastri tidak banyak bicara saat sarapan. Pak Hendra hanya membaca koran sambil mendengarkan radio samar-samar. Dsan Ardi makan lebih cepat dari biasanya. Tidak ada yang membahas suara semalam, sama sekali tidak.

Dan itu justru membuat Rani makin sulit bernapas. Karena sekarang ia tahu, mereka semua juga mendengarnya. Tapi memilih diam.

“Tempenya terlalu asin, sambalnya kurang asin,” kata Ardi tiba-tiba.

Rani langsung tersentak dari lamunannya.

“Oh… maaf, Mas.”

“Kalau masak biasaka dicicip dulu.”

“Iya.”

Bu Sulastri menyendok sayur pelan. “Makanya, kamu tuh… pikiran jangan ke mana-mana kalau lagi masak.”

Rani menggenggam sendok lebih erat. Bahkan setelah malam seperti itu, mereka masih bisa kembali mengomentari rasa makanan seolah tidak ada sesuatu yang aneh di rumah ini.

Ardi berdiri setelah selesai makan. Langsung refleks, Rani ikut berdiri mengambil piringnya. Saat Ardi meraih tas kerja di kursi, sesuatu menggantung sebentar dari resleting samping, sebuah kunci kecil berkarat itu, lalu cepat-cepat Ardi memasukkannya lagi. Gerakannya seperti takut terlihat.

Tapi kali ini Rani sadar, Ardi selalu membawa kunci itu ke mana-mana, bahkan ke kantor.

“Mas,” panggilnya hati-hati.

“Hm?”

“Kunci itu buat apa?”

Ardi berhenti sebentar. Ruangan langsung terasa tegang. Dan bu Sulastri pelan-pelan meletakkan sendoknya.

“Kunci apa?” tanya balik Ardi akhirnya.

“Yang di tas.”

“Banyak kunci di tas aku.”

“Nggak, yang kecil itu tadi.”

Ardi menatap Rani beberapa detik terlalu lama, lalu tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai mata. “Kamu sekarang merhatiin isi tas suami?”

Lihat selengkapnya