SUARA YANG TEREDAM

Dariyanti
Chapter #6

Bab 5. Dia yang Lain

Tidak satu kali pun Ardi menyebut Mira dengan penuh kasih sayang, tidak ada sama sekali, seperti, aku pernah cinta dia… aku kasihan sama dia… aku nggak tega. Tidak ada. Yang ada cuma rumah, nama keluarga, ketertiban, dan perempuan yang dianggap masalah.

Rani berdiri membelakangi lemari sambil memandang sang suami seperti orang asing.

Ardi menarik napas panjang lalu duduk lagi. Nada suaranya kembali lebih tenang sekarang. “Aku nggak pengen kamu takut, Ran.”

“Tapi kalian tega sama dia.”

“Mira nggak bisa hidup seperti biasa kayak kita.”

“Siapa yang bilang?”

“Aku hidup sama dia bertahun-tahun.”

Jawaban itu keluar cepat, terlalu cepat, rasanya seperti mengiris hati Rani. Ia cemburu mendengarnya, tapi ia juga kasihan kepada wanita itu. Dimana ia memilih mengorbankan ego demi mengetahui lebih dalam rasa penasarannya.

“Dia sering banget mendadak histeris.” Ardi menunduk sambil mengusap pelipis. “Nggak bisa jadi istri yang baik.”

Kalimat itu membuat perut Rani terasa dingin. Tidak bisa jadi istri yang baik, terdengar bukan tidak sehat, bukan butuh bantuan.

“Dia suka ngelawan.” Ardi tertawa kecil tanpa humor. “Sedikit-sedikit curigaan.”

Rani menelan ludah. Kalimat itu terdengar terlalu familiar.

“Aku sabar banget sama dia dulu.” Lagi-lagi dirinya korban. Dan selalu paling paling benar begitu. “Aku cuma pengen rumah tenang.” Ardi menatap Rani sekarang. “Itu salah?”

Rani tidak bisa menjawab, karena ketakutannya mulai bercampur dengan sesuatu yang lain, sebuah pengakuan. Hal-hal kecil yang selama ini terasa salah sekarang mulai tersusun sangat rapih, kritik setiap hari, semua harus sesuai aturan, perempuan tidak boleh banyak tanya, rumah harus tenang, istri harus nurut. Dan Mira… mungkin dulu berdiri di posisi yang sama.

“Aku mau lihat dia, boleh?” Tanya Rani akhirnya.

Wajah Ardi langsung berubah keras lagi. “Nggak.”

“Kenapa, Mas?”

“Karena aku bilang nggak.”

“Aku pengen tau keadaan dia baik-baik aja.”

“Dia hidup karena aku.”

Kalimat itu keluar dingin sekali. Rani langsung merinding.

Ardi berdiri lalu mendekat perlahan. “Denger ya.” Suaranya rendah. “Apa pun yang kamu pikirin sekarang, rumah ini tetap jalan karena aku.”

Rani hanya bisa diam.

“Kamu makan dari siapa? Orang tua aku hidup dari siapa? Rumah ini berdiri karena siapa?” Ardi menunjuk dirinya sendiri pelan. “Laki-laki kalau udah capek nyari nafkah…,” napasnya berat, “yang dibutuhin itu perempuan yang ngerti cara bikin rumah nyaman.”

Rani langsung menunduk. Bukan karena setuju, karena tubuhnya otomatis mengecil seperti tiba-tiba ditekan seperti itu.

Dan Ardi sadar. Laki-laki itu selalu sadar kapan orang lain mulai kalah. Kemudian nada suaranya melunak sedikit.

“Aku nggak pernah kurangin apa pun buat kamu.”

Rani hampir tertawa karena putus asa. Kurangin apa pun? Dia bahkan tidak boleh merasa takut di rumah sendiri.

Lalu… Ardi menyentuh lengan Rani pelan. “Jangan bikin aku nyesel percaya sama kamu, tolong jaga kerpercayaan aku.”

Kalimat itu jauh lebih menyeramkan daripada sebuah ancaman.

Malam semakin larut, beberapa menit kemudian Ardi keluar kamar untuk mandi. Begitu suara rintikan air kamar mandi menyala, Rani langsung duduk di pinggir kasur sambil menahan napasnya yang agak gemetar, kepalanya terasa penuh; Mira, Istri pertama, masih hidup, dikurung di rumah ini, dan semua orang tahu.

Rani menoleh perlahan ke arah ventilasi atas kamar, gelap, sunyi, lalu sangat pelan—dari arah belakang dinding… terdengar suara perempuan menangis lagi, bukan tangisan keras, tangisan orang yang sudah terlalu lama tidak berharap didengar. Ia bisa merasakan kesedihan yang dirasakannya. Tangisan itu terdengar lama malam itu, kadang hilang beberapa menit, lalu muncul lagi.

Rani duduk memeluk lutut di pinggir kasur sambil menatap pintu kamar mandi. Air shower masih menyala, ia tidak tahu harus takut pada siapa sekarang, pada perempuan di balik dinding? Atau pada keluarga yang mengurungnya?

***

Keesokan paginya rumah lebih ramai dari biasanya. Bu Sulastri memasak sangat banyak. Pak Hendra bahkan bercukur tdiak seperti biasanya. Dan Rani baru selesai menyapu ruang tengah waktu suara mobil berhenti di depan rumah.

“Kayaknya sudah datang,” kata Bu Sulastri cepat.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka. Seorang laki-laki masuk sambil tertawa keras.

“Assalamualaikum!”

Tubuhnya lebih tinggi dari Ardi, dengan kulit lebih gelap, dan cara jalannya percaya diri sekali.

Waalaikumsalam!” Bu Sulastri langsung tersenyum lebar menyapanya.

Dimas mencium tangan ibunya lalu menepuk bahu Pak Hendra.

“Mana nih kakak paling sempurna sedunia?”

Ardi keluar dari kamar sambil tersenyum kecil. “Bacot.”

Mereka tertawa. Dan untuk pertama kalinya Rani melihat Ardi benar-benar santai.

Kemudin Dimas menoleh ke Rani. “Oh ini Kak Rani.”

Rani mengangguk kecil. “Iya.”

Dimas menjabat tangannya sebentar lalu tertawa. “Wah akhirnya Kak Ardi laku juga.”

Bu Sulastri ikut tertawa. “Kasihan dulu yang pertama malah bikin stres.”

Ruangan langsung sunyi sepersekian detik. Dan Rani langsung menoleh. Lalu Ardi menyibukan diri, ia mengambil rokok cepat-cepat seolah ingin memotong suasana.

Tapi Dimas malah duduk santai. “Eh serius, Kak. Aku tuh heran dulu masih ada aja cewek yang berani ngelawan Kak Ardi.”

Bu Sulastri mendecak. “Namanya perempuan kalau nggak tau diri ya begitu.”

Rani berdiri diam sambil membawa sapu. Melihat mereka membicarakan Mira seperti masalah kecil keluarga ini, seperti bukan manusia yang dikurung di dalam rumah.

“Yang penting sekarang dapet yang lebih nurut,” lanjut Dimas sambil melirik Rani.

Tatapan itu membuat Rani tidak nyaman. Bukan menggoda, lebih seperti sedang menilai barang saja.

Ardi hanya tersenyum tipis. “Ya liat aja nanti.”

“Perempuan awal-awal emang biasanya manis.” Dimas membuka jaketnya. “Nanti juga bakal keluar aslinya.”

Bu Sulastri langsung menyahut. “Makanya laki-laki jangan terlalu nurutin istri.”

Rani merasa rumah itu mendadak makin penuh. Ia tak tahan mendengar yang begitu terang-tereangkan. Ia langsung ke dapur.

Dan semua suara laki-laki di dalam terdengar sama. Pagi menjelang siang hari, Dimas terus bicara keras soal kerjaan, perempuan, dan rumah tangga. “Bini tuh harus takut sama suami,” katanya sambil makan kerupuk. “Kalau nggak yasudah bakal selesai.”

“Sekarang kebanyakan laki-laki juga lembek,” lanjut Dimas. “Dikit-dikit nurut istri.”

Ardi tertawa kecil. “Makanya cerai.”

Lihat selengkapnya