SUARA YANG TEREDAM

Dariyanti
Chapter #7

Bab 6. Rumah yang Mengajari

“Jangan percaya dia ….”

Kalimat itu terus terngiang di kepala Rani sampai pagi. Ia bahkan tidak yakin sempat tidur malam itu. Tubuhnya memang rebah di samping Ardi, tapi pikirannya terus terjaga sambil mendengar suara napas suaminya yang tenang, terasa normal sekali, seolah tidak ada perempuan lain yang hidup diam-diam di balik rumah mereka.

Subuh datang bersama suara azan dan bunyi sandal bu Sulastri jalan ke dapur.

Rani bangun perlahan, kepalanya berat, matanya terasa panas karena kurang tidur. Begitu keluar kamar, Ardi sudah duduk di meja makan sambil melihat ponselnya.

“Air panas belum ada?” tanyanya tanpa menoleh.

“Sebentar.” Rani langsung bergerak ke dapur.

Kalimat pertama pagi itu bahkan bukan sapaan, hanya kebutuhan, seperti dirinya memang fungsi di rumah yang harus langsung bekerja.

“Bangun kesiangan terus,” gumamnya kecil, sambil sedang menggoreng tempe. Padahal baru jam lima lewat.

Rani mengambil teko lalu menyalakan kompor. Tangannya bergerak otomatis sekarang membuat the, menyiapkan piring, memotong cabai. Tubuhnya bekerja bahkan saat kepalanya masih penuh ketakutan.

“Dimas nanti bangun bikinin kopi juga,” kata Bu Sulastri.

“Iya.”

“Laki-laki kalau bangun jangan sampai nyari sendiri.”

Rani diam. Kalimat itu sederhana, tapi di rumah ini, semua hal sederhana selalu punya aturan, laki-laki dilayani, perempuan mengurus dan jangan membantah.

Ardi masuk dapur sebentar mengambil air panas. Tatapannya singgah ke wajah Rani beberapa detik.

“Kamu sakit?”

“Nggak.”

“Muka kamu jelek.” Bukan khawatir, sekadar komentar.

“Kurang tidur aja.”

Ardi mengangguk kecil. “Jangan kebanyakan mikir.” Lalu pergi lagi.

Kalimat itu terus dipakai semua orang di rumah ini, jangan mikir, jangan tanya, jangan terlalu perasa. Pelan-pelan Rani mulai sadar, mungkin memang begitu cara perempuan dibuat diam. Bukan dengan rantai, tapi dengan dibuat merasa saah dengan pikirannya sendiri.

Dimas bangun sekitar setengah jam, kemudian sambil menguap lebar. “Pagi….”

“Pagi,” jawab bu Sulastri cepat sambil tersenyum.

Dan Rani membuat kopi untuknya.

Lalu, Dimas duduk santai di ruang tengah lalu berkata. “Kak Ardi tuh dari dulu paling sabar.”

Pak Hendra yang baru keluar kamar, ikut bergabung dengan mereka. “Beda sama Bapaknya.”

Dimas tertawa. “Kalau Ayah mah dikit-dikit sabuk.”

Bu Sulastri malah ikut tertawa kecil. “Ya biar jadi laki.”

Rani menuang kopi sambil diam mendengar obrolan mereka.

“Ayah keras, tapi hasilnya bagus,” ucap Dimas sambil menyandarkan badan ke sofa. “Anak laki-lakinya jadi tau cara ngatur rumah.”

Kata ‘ngatur’ terdengar begitusetiap hari diucapkan mereka.

“Perempuan sekarang aja yang kebanyakan mau setara,” lanjut Dimas.

Ardi tersenyum tipis. “Makanya rumah tangga banyak ribut.”

Mereka bicara seperti sedang membahas cuaca, santai, biasa, padahal setiap kalimat membuat dada Rani makin sempit. Ia mulai mengingat banyak hal kecil setelah menikah:

Ardi pelan-pelan membuatnya berhenti kerja, membatasi pertemanan, mengatur pakaian, memeriksa ponsel, marah kalau Rani terlalu sering pulang ke rumah orang tuanya. Semua itu dilakukan perlahan, tanpa bentakan besar, sampai suatu hari hidup Rani tinggal rumah ini saja. Dan sekarang rumah ini terasa seperti perangkap.

Saat Rani sedang membereskan cangkir di dapur—dari arah belakang rumah terdengar suara batuk kecil lagi, pelan dan cepat. Rani langsung membeku, ia menunduk cepat supaya tidak ada yang melihat wajahnya berubah.

“Kenapa?” tanya Bu Sulastri.

“Nggak….”

Rani buru-buru mengambil lap, sementara di kepalanya cuma ada satu pikiran, Mira masih hidup. Tidak hanya itu, ia mengingat kalimat ‘muka kamu jelek’, kalimat Ardi tadi pagi terus tertinggal di kepala Rani. Aneh. Bukan kalimat paling kasar yang pernah ia dengar, tapi akhir-akhir ini semua ucapan kecil mulai terasa berbeda, karena sekarang Rani sadar bahwa Ardi selalu bicara seolah dirinya berhak menentukan bagaimana Rani harus hidup.

Siang itu rumah lebih sepi, Ardi pergi kerja, Dimas keluar sebentar naik motor pinjaman, pak Hendra tidur siang di depan televisi. Dan, tinggal Rani dan bu Sulastri di rumah. Rani sedang melipat baju di ruang tengah waktu bu Sulastri tiba-tiba berkata.

“Dulu Ardi nggak kayak gini.”

Lihat selengkapnya