Garis pintu tipis sekali. Kalau lemari tidak digeser, mustahil terlihat. Rani berdiri membeku beberapa detik saat memperhatikan, jantungnya berdetak begitu keras sampai telinganya berdengung.
Rumah ini benar-benar punya ruang rahasia. Tangannya mulai gemetar saat menyentuh permukaan pintu kecil itu. Kayunya dingin, lembap, ada bekas goresan panjang di bagian bawah, seperti pernah dicakar berkali-kali.
Rani langsung menarik tangannya cepat. Napasnya memburu. Dari balik pintu—tidak ada suara, sunyi sekali.
“…Mira?” Bisik Rani pelan.
Lalu terdengar suara gesekan kecil, sangat dekat sekarang.
Rani menelan ludah. Tangannya meraba sisi pintu sampai menemukan gagang kecil besi tua. Ternyata terkunci, tentu saja. Ia menarik pelan, tidak bergerak.
“Kunci. Kuncinya dimana?” Rani bertanya pada diri sendiri.
Sunyi beberapa detik. Tiba-tiba, “Ardi….”
Jawaban itu membuat perut Rani dingin. Jadi kunci kecil yang selalu dibawa Ardi memang untuk ini. Ia menempelkan dahi ke pintu sebentar, dan bisa mencium bau aneh sekarang, apek menyengat. Dan sesuatu yang lebih samar—bau kulit manusia yang terlalu lama terkurung. Ia pun memejamkan mata rapat.
“Kamu dengar aku, kan? Udah berapa lama kamu di sini?”
Tidak ada jawaban beberapa detik. Lalu pelan sekali, “… lupa.”
Kalimat yang hanya satu kata itu menghantam dada Rani lebih keras dari apa pun. Seseorang bisa lupa berapa lama dirinya dikurung.
Tiba-tiba terdengar suara ranjang berderit dari arah kamar. Rani langsung menegang. Itu Adalah Ardi. Ia buru-buru menggeser lemari kembali.
Krek.
Keringat dingin pun mulai turun di tengkuknya, kemudian dengan cepat-cepat Rani kembali ke koridor. Langkahnya tidak bisa disembunyikan, buru-buru tapi tetap berusaha tidak berbunyi. Saat hampir sampai, kamar—pintu kamar terbuka.
Ardi berdiri di sana dengan wajah mengantuk.
“Ngapain?” Suaranya serak habis bangun.
“Aku…,” tenggorokan Rani kering. “Habis minum.”
Ardi melihat ke arah dapur sebentar, lalu ke wajah Rani lagi.
“Lama banget.”
“Aku agak pusing, Mas.”
Ardi mengusap wajah sambil menghela napas.
“Kalau tidur ya tidur. Minum obat dan segera tidur!” Ardi masuk kamar lagi tanpa curiga.
Begitu masuk kamar, Ardi langsung rebah lagi. Sementara Rani berbaring kaku di sebelahnya sambil menahan napas.
Sekarang semuanya nyata. Mira benar-benar dikurung di ruang sempit belakang rumah. Sendiri, menderita, bertahun-tahun, dan tidak ada satu pun orang di rumah ini yang merasa itu salah.
Pagi datang terlalu cepat. Rani bangun dengan kepala berat, sedangkan Ardi sudah siap pergi kerja, Dimas masih tidur pulas. Dam bu Sulastri sedang memasak. Semua terlihat normal lagi.
“Roti habis,” kata Ardi sambil memakai jam tangan.
“Iya nanti beli.”
“Jangan nanti-nanti!” Nada suaranya langsung berubah dingin. “Kalau dibilangin jangan ditunda.”
“Iya….” Rani langsung menunduk.
Ardi mendekat sebentar sambil membenarkan kerah bajunya sendiri di depan kaca. “Belajar fokus sama rumah.”
Kalimat itu terdengar biasa. Tapi setelah semalam—Rani tahu arti sebenarnya, fokus melayani, fokus nurut, jangan lihat hal lain.
Ardi mengambil tas kerjanya, dan saat resleting tas terbuka sedikit—Rani kembali melihat kunci kecil berkarat itu tergantung di dalam.
***
Kunci kecil itu bergoyang sebentar di dalam tas Ardi. Masih teringat betul warnanya kusam seperti besi lama yang terlalu sering kena lembap. Tapi sekarang benda itu terasa lebih mengerikan daripada pisau, karena benda kecil itu memisahkan Mira dari kehidupan yang seharusnya.
Ardi menutup resleting tas tanpa sadar sedang diperhatikan. “Aku berangkat.”
“Iya, Mas.”
Ardi memakai sepatu sambil berkata, “nanti jangan keluar rumah. Ada paket mau datang hari ini.”
Rani mengangguk kecil. Bahkan izin keluar rumah pun sekarang terdengar seperti sesuatu yang harus diminta.
Pintu depan tertutup, motor Ardi menjauh. Langsung rumah mendadak sunyi lagi. Tapi Rani tidak bisa lagi melihat kesunyian rumah ini sebagai ketenangan, sekarang setiap sudut terasa seperti menyimpan sesuatu.
Bu Sulastri sedang menyapu halaman depan. Pak Hendra dengan rutinitasnya, menonton berita. Dimas masih juga tidur pulas. Sedangkan Rani mencuci piring sambil berpikir cepat, bagaiaman ia harus membuka pintu itu. Tapi caranya bagaimana… kuncinya selalu dibawa Ardi.
Tangan Rani bergerak otomatis di bawah air mengalir sementara pikirannya penuh kemungkinan. Mencuri kunci?
Mustahil!
“Piring jangan dibanting-banting kalau nyuci.”
Suara Bu Sulastri membuat Rani tersentak.
“Maaf.”
Perempuan tua itu masuk dapur sambil membawa sayuran. “Lagi mikirin apa?”
“Nggak, Bu.”
“Kamu jangan aneh-aneh.” Suruhnya membuat jantung Rani naik lagi. Bu Sulastri menaruh sayur di meja lalu berkata, “perempuan kalau udah terlalu banyak pikiran nanti rumah nggak nyaman.”
Rumah lagi. Selalu rumah, seolah seluruh hidup perempuan memang harus dipakai menjaga kenyamanan orang lain.
“Dulu…,” Bu Sulastri mulai memotong cabai, “Ardi tuh paling nggak suka suasana rumah tegang.”
Rani hanya terdiam.
“Dia suah capek, jangan menambah capeknya.”
“Aku nggak bikin.…”
“Laki-laki tuh kalau udah kerja seharian maunya dihargai, dilayani dengan baik.” Nada suaranya mulai seperti ceramah lagi. “Jangan dikit-dikit nanya.”
Rani menatap piring di wastafel. Dan tiba-tiba sadar, mungkin Mira dulu juga sering mendapat nasihat seperti ini, bukan ditolong, tapi disuruh lebih sabar.
Siang hari Dimas akhirnya bangun. Ia duduk di meja makan sambil memainkan sendok.
“Kopi….”
“Iya.” Rani membuat kopi tanpa bicara.
Saat meletakkan cangkir, Dimas tiba-tiba berkata, “Kak Ardi tuh sebenernya terlalu baik.”