SUARA YANG TEREDAM

Dariyanti
Chapter #9

Bab 8. Tidak Boleh Berharap

“Itu salah kamu.”

Kalimat Ardi terus terngiang di kepala Rani bahkan setelah malam lewat, hampir sunuh. Ia berbaring membelakangi Ardi sambil menatap gelap, tidak bisa tidur. Ia melirik, Ardi sudah mendengkur pelan seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa, dan itu semakin menakutkan.

Subuh datang dengan udara dingin dan kepala yang berat. Rani bangun lebih dulu, matanya bengkak. Tapi, saat keluar kamar, bu Sulastri sudah duduk di meja makan sambil membersihkan sayuran kangkung. Yeah… ia pikir yang paling pertama bangun.

Perempuan tua itu melirik wajah Rani sebentar. “Kurang tidur?”

Rani hanya mengangguk kecil.

“Makanya jangan banyak pikiran.”

Kalimat itu lagi, selalu itu, seolah pikiran perempuan memang sesuatu yang harus ditekan.

Dimas masih tidur di sofa dengan televisi menyala kecil. Dan rumah itu kembali berpura-pura setiap harinya.

Rani meakukan aktivitas seperti biasa, membuat teh sambil diam. Tangannya bergerak otomatis, di kepalanya cuma ada Mira, Ardi, dan seisi rumah. Tiba-tiba terlintas kalimat Ardi semalam terasa mengerikan karena terdengar begitu benar.

Ardi keluar kamar sekitar jam enam, wajahnya dingin hari ini, lebih dingin dari biasanya. Ia duduk tanpa bicara sambil melihat meja makan, agak melamun.

“Nasinya belum matang?”

“Lagi dimasak, Mas.”

Ardi tidak menjawab lagi. Tapi rahangnya mengeras sedikit. Melihat reaksi itu, Rani buru-buru mempercepat gerakan, ia tiba-tiba dia sadar sesuatu yang membuat dadanya sesak, ia mulai takut pada hal-hal kecil; takut masak kelamaan, akut nasi kurang matang, takut nada suaranya salah, dan takut seperti Mira.

“Roti jangan lupa beli nanti,” kata Ardi sambil menyesap tehnya.

“Iya, Mas”

“Jangan keluar rumah lama.”

“Iya.”

“Kalau ada apa-apa telepon.”

Kalimat itu terdengar perhatian, tapi sekarang Rani mendengar arti lainnya, lapor, jangan bergerak tanpa sepengetahuan.

Setelah Ardi pergi untuk bekerja, rumah terasa lebih ringan sedikit. Tapi tidak pernah benar-benar aman, karena bu Sulastri dan pak Hendra tetap ada. Dan Rani mulai sadar, mereka bukan korban keadaan, mereka penjaga sistem itu.

Siang hari, Dimas akhirnya bangun sambil menggaruk rambut keriwilnya.

“Kopi, dong!”

Rani langsung membuat kopi tanpa bicara. Seangkan, dimas duduk sambil memainkan ponsel.

“Kak Ardi tuh dari dulu nggak suka dibohongin.”

Jantung Rani langsung naik sedikit. Ia berusaha tetap terlihat biasa.

“Hmmm.”

“Kalau udah curiga…,” Dimas tertawa kecil, “repot.”

Rani meletakkan kopi pelan.

“Perempuan tuh kadang suka nyusahin diri sendiri.”

“Kenapa emang?”

“Ya karena suka penasaran.” Jawab Dimas setelah menyesap kopi. “Padahal kalau nurut aja hidup gampang.”

Kalimat itu terdengar seperti peringatan halus.

Apa Dimas tahu sesuatu? Atau memang semua laki-laki di rumah ini bicara dengan cara seperti itu?

Rani tidak tahu lagi.

***

Menjelang sore, hujan turun kecil, rumah jadi lebih agak dingin. Bu Sulastri tertidur di kamar, tidak tidur pulas, hanay bebaringan saja. Pak Hendra pergi ke warung. Dan Dimas sedang mandi, terdengar gemuruhnya air.

Dan untuk beberapa menit—Rani sendirian. Ia berjalan cepat ke belakang rumah. Lemari kayu digeser perlahan.

Krek….

Pintu itu rahasia itu akhirnya terlihat. Rani langsung jongkok dekat pintu.

“Mira….”

Tidak ada jawaban. Jantung Rani mulai tidak tenang.

“Mira.”

Sunyi. Lalu terdengar suara sangat pelan dari dalam.

Jangan sering datang….” Suara Mira lemah sekali hari itu. “Aku takut mereka tau.”

Rani menelan ludah.

“Aku mau bantu kamu keluar dari situ.”

Dan jawaban Mira langsung membuat mata Rani panas.

“Jangan bikin aku bermimpi lagi….” Suara Mira terdengar semakin lemah. Bukan marah. Lebih seperti seseorang yang sudah terlalu sering kecewa sampai takut berharap.

Rani menempelkan tangan ke pintu dingin itu sambil meneteskan air mata, yang tiba-tiba keluar begitu saja. “Aku serius mau bantu kamu. Aku janji. Tolong percaya sama aku.”

Tidak ada jawaban. Hanya suara napas pelan dari dalam. Rasa yng bisa Rani gambarkan untuk ia rasakan, itu membuat dada Rani langsung sesak. Mungkin setelah Mira mulai memberontak, mungkin saat Mira menangis. Mungkin saat Mira mulai ketakutan, dan sekarang perempuan itu hidup di balik dinding.

Tiba-tiba suara pintu kamar mandi terbuka dari dalam rumah. Rani langsung panik, ia buru-buru menggeser lemari kembali, membalikan seperti semula.

Krek….

Tangan Rani sampai licin karena keringat.

Begitu lemari kembali menutup pintu rahasia, Dimas keluar sambil mengelap rambut dengan handuk, sambil matanya langsung tetuju kepada Rani, terlihat agak kaget.

Lihat selengkapnya