Rani berdiri kaku di depan Ardi. Mata masih menatap laki-laki itu, tapi pikirannya sudah tidak di kamar yang sama.
Ardi menarik napas pelan.
“Siapa yang kamu percaya selain aku?” Pertanyaan itu sederhana, tapi terlalu berat.
Rani tidak langsung menjawab. Karena jawabannya justru menakutkan. Di rumah ini, semua orang sudah berpihak pada Ardi, bu Sulastri, Dimas, dan pak Hendra. Bahkan dinding pun seolah ikut mengawasi.
“Aku nggak percaya siapa-siapa,” jawab Rani akhirnya.
Ardi mengangguk kecil, seperti puas.
“Bagus.” Satu kata itu terdengar seperti penutup percakapan. Tapi bukan, Ardi masih di kamar, masih berdiri, masih menatap. “Kamu tahu kenapa aku nggak suka kamu terlalu banyak diam di belakang?”
Rani menggeleng pelan.
Ardi menunjuk ke dinding belakang. “Karena di rumah ini nggak ada yang perlu disembunyiin.”
Kalimat itu membuat tengkuk Rani dingin. Tidak ada yang perlu disembunyikan, padahal di balik dinding itu ada Mira. Rani hampir tertawa pahit, ironinya terlalu jelas.
“Kalau kamu punya masalah,” lanjut Ardi, “kita bicarain, jangan kamu simpan sendiri dan mencari solusi sendiri.”
Kita… seolah Mira termasuk dalam ‘kita’. Seolah penderitaannya adalah diskusi keluarga. Rani langsung menatap Ardi. “Mas… Mira itu istri kamu loj ….”
Ardi langsung memotong. “Jangan sebut nama itu di sini.” Suara Ardi tidak keras, tapi tegas, seperti aturan.
Rani langsung terdiam.
Dan itu membuat Ardi mengangguk kecil lagi. “Dia sudah bukan bagian rumah ini.” Kalimat itu jatuh begitu saja, seperti keputusan lama yang sudah selesai.
Rani merasa dadanya sesak. “Kalau bukan bagian rumah ini… kenapa dia masih di sini?”
Ardi menatapnya lama, lebih lama dari biasanya, lalu tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata, “karena dia nggak mau berhenti bikin masalah.”
Rani menggenggam tangan sendiri, “…dia cuma minta keluar.”
Ardi menghela napas, seperti sedang menjelaskan sesuatu pada anak kecil. “Rani… kalau orang sudah nggak stabil, dia nggak bisa dikasih keputusan.”
Kalimat itu terdengar seperti logika, tapi ia mulai melihat celahnya.
“Jadi Mira dianggap nggak stabil?”
Ardi tidak langsung menjawab, ia berjalan ke meja kecil, mengambil jam tangannya. “Dia sudah lama begitu.”
“Sejak kapan?”
Ardi menatap Rani. Dan kali ini jawabannya tidak langsung keluar, ada jeda kecil, yang tidak pernah Ardi lakukan sebelumnya, “…sejak dia mulai percaya cerita di kepalanya sendiri.”
Rani menatapnya. “Cerita?”
Ardi mengangguk pelan. “Kalau kamu terlalu lama di satu pikiran, kamu bisa yakin itu nyata.”
Sunyi. Dan untuk sesaat—Rani merasa Ardi sedang tidak hanya bicara tentang Mira, tapi tentang dirinya juga.
Rani menatap diniding. Dari balik dinding yang hanya hening, lebih menakutkan dari teriakan apa pun.
Ardi merapikan bajunya. “Jangan terlalu capek mikirin hal yang bukan urusan kamu.” Ardi berjalan menuju pintu, lalu berhenti sebentar, tanpa menoleh. “Mulai sekarang, jangan mengusik belakang rumah lagi.”
Klik.
Pintu tertutup, dan Rani sendirian. Dengan satu larangan yang terlalu jelas. Dan satu pertanyaan yang tidak bisa ia buang lagi, kalau ia tidak boleh ke belakang rumah… apa yang sebenarnya sedang mereka rencanakan….
***
Klik.
Suara pintu kamar Ardi tertutup masih terasa seperti gema di kepala Rani. Larangan itu jelas, tapi justru setelah itu, rumah terasa semakin sempit. Seperti setiap dinding menekan perlahan ke arah dirinya.
Rani duduk di lantai kamar, diam, tidak menangis, tidak bergerak, hanya mendengar napasnya sendiri. Hening yang menakutkan. “Kalau kamu percaya dia… kamu hilang” Kalimat itu muncul di pikiran. Ia menutup mata sebentar, lalu membuka lagi. Tangannya bergerak sendiri, bangkit, dan keluar kamar.
Rumah sepi. Bu Sulastri di kamar, pak Hendra di depan TV, Dimas entah keluar atau tidur. Tidak ada yang memperhatikan. Dan untuk pertama kalinya, Rani tidak berjalan seperti orang yang tinggal di rumah itu, ia berjalan seperti orang yang sedang mencari jalan keluar dari sesuatu yang mengurungnya. Ke dapur, ke belakang, lemari kayu itu masih di tempatnya. Ia berhenti di depannya.
Tangannya gemetar, larangan Ardi masih melekat. Tapi sekarang larangan itu terasa seperti pengakuan. Tidak lama, Rani mendorong lemari, lebih keras kali ini.
Krek.
Sedikit terbuka. Rani menahan napas. Tidak ada suara dari dalam rumah, ia meraba dinding, mencari, dan kali ini—jari-jarinya menyentuh sesuatu yang berbeda, bukan kayu dan bukan tembok, ternyata kunci kecil. Ardi ceroboh, atau terlalu yakin tidak ada yang berani melawan. Rani menariknya pelan.
Klik.
Gagang pintu kecil itu bergerak, sunyi, lalu pintu terbuka sedikit. Bau lembap langsung keluar. Rani menahan napas, dan ia masuk. Sangat gelap dan sangat sempit. Dindingnya basah. Ada tikar tipis di lantai. Dan di sudut ruangan—Mira, tubuhnya duduk bersandar di dinding dengan rambut berantakan, wajah yang pucat, matanya langsung menatap Rani. Tapi tidak ada kejutan bahagia, hanya terlihat lelah.
“Kamu…,” suara Mira serak.
Rani langsung berlutut. “Mira ….”