Dimas masih berdiri di ambang pintu dapur, tidak masuk, tidak pergi, hanya berdiri seolah sedang menunggu sesuatu yang tidak diucapkan. Rani menggenggam obeng kecil di bawah lap dapur. Ia merasakan tangan kirinya dingin sedangkan tangan kanannya tidak bisa diam.
“Kenapa kamu dari tadi mondar-mandir terus?” tanya Dimas, nadanya santai. Tapi ada sesuatu yang berbeda sekarang, lebih tajam dan memperhatikan.
Rani melempar tersenyum kecil. “Aku cuma beres-beres dapur.”
“Sendirian?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Rani sadar, dia tidak lagi dianggap “tidak penting” di rumah ini. Ia mulai diperhatikan.
Bu Sulastri menoleh sekilas dari sebelah kompor. “Rani tuh kalau udah di belakang suka lama,” katanya pelan, seperti menambahkan fakta biasa.
Padahal itu bukan biasa, itu pengamatan.
Rani menunduk. “Lagi banyak kerjaan.”
Dimas mengangkat alis sedikit, lalu melangkah masuk ke dapur. Satu langkah, dua Langkah, lalu berhenti.
Rani langsung merasakan ruangnya mengecil, bukan secara fisik, tapi secara kemungkinan.
“Ardi lagi nyari kamu,” kata Dimas santai.
“Ya….”
Dimas tersenyum kecil. “Tadi dia lewat belakang rumah.”
Jantung Rani langsung jatuh, cepat, tapi wajahnya dipaksa tetap netral.
“Dia nggak bilang apa-apa.”
“Dia nanya kamu sering ke belakang apa nggak.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti tuduhan, tapi seperti pengamatan yang sudah mulai disusun. Rani menelan ludah, di kepalanya langsung muncul satu hal, Ardi belum tahu tentang Mira. Belum, tapi Ardi mulai memperhatikan pola. Itu lebih buruk, karena pola selalu lebih berbahaya daripada kejadian.
“Kenapa emangnya?” Rani mencoba terdengar santai.
Dimas mengangkat bahu. “Entah. Cuma katanya kamu akhir-akhir ini sering… hilang gak jelas kemana.”
Kata itu membuat tangan Rani sedikit bergetar, hilang, padahal ia masih di rumah. Tapi ‘hilang’ yang dimaksud Ardi bukan fisik. Tapi seperti kontrol.
Bu Sulastri menambahkan pelan. “Jangan bikin Ardi kepikiran yang nggak-nggak.”
Kalimat itu seperti pagar. Lagi, selalu pagar.
Rani menarik napas pelan. “Boleh aku ke belakang ambil jemuran?” katanya tiba-tiba.
Dimas langsung menatapnya. Lebih lama, dan langsung merespon. “Sekarang?”
“Iya.”
Sunyi, Rani merasakan detik-detik itu seperti ditarik panjang.
Lalu Dimas menggeleng pelan. “Jangan sekarang.”
Rani menatapnya. “Kenapa?”
“Emang harus sekarang?” Pertanyaan balik.
Bukan jawaban. Dan itu yang membuat Rani sadar, izin sudah tidak lagi otomatis diberikan. Sekarang harus dipertimbangkan. Di belakang rumah, Mira masih menunggu, sendirian, lemah. Dan Rani tiba-tiba merasakan sesuatu yang dingin di tengkuknya, bukan hanya dia yang terjebak, tapi jalur kembali ke Mira juga mulai ditutup.
Pelan-pelan, dan sistematis. Seolah rumah ini mulai belajar dari Rani.
“Jangan sekarang.” Kalimat Dimas masih menggantung di udara dapur. Tidak keras, tidak kasar, tapi cukup untuk menutup ruang gerak Rani.
Rani berdiri diam. Obeng di bawah lap terasa semakin berat, seolah ikut membawa beban keputusan yang tidak bisa diucapkan.
“Cuma ambil jemuran sebentar,” ulang Rani pelan.
Dimas menggeleng lagi. “Kamu dari tadi udah bolak-balik ke belakang kenapa tidak secalin angkat jemuran.”
Kalimat itu bukan tuduhan. Tapi pengamatan yang mulai disusun rapi. Seperti seseorang yang sedang mengumpulkan potongan kecil tanpa tahu gambar besarnya.
Bu Sulastri menaruh sendok di wastafel. “Rani,” katanya pelan, “jangan bikin rumah jadi ribet.”
Rani menarik napas pelan. “Aku cuma mau ambil jemuran.”
“Biar nanti saja,” jawab Dimas dengan nada santai. Tapi tubuhnya tidak bergerak dari pintu dapur, ia masih berdiri di sana, menutup jalan.
Rani pun menatap celah kecil di samping Dimas. Hanya itu satu-satunya jalan ke belakang. Tapi tidak cukup lebar untuk dilewati tanpa terlihat. Sedangkan, di balik lap dapur, obeng itu terasa dingin di telapak tangan Rani. Waktu berjalan, tapi bukan ke arah yang ia mau.
“Ardi tadi bilang kamu kelihatan capek,” kata Dimas lagi.
Rani menoleh cepat. “Dia bilang gitu?”
Dimas mengangguk. “Dia khawatir.”
Kata itu membuat perut Rani terasa dingin. Khawatir, di rumah ini, kekhawatiran Ardi bukan sekadar perhatian, itu tanda pengawasan yang mulai naik level.