SUARA YANG TEREDAM

Dariyanti
Chapter #12

Bab 11. Rumah tidak Pernah Tidur

Malam itu tidak benar-benar sunyi. Hujan memang mulai mereda, tapi rumah justru terasa lebih hidup. Bukan hidup yang hangat, tapi hidup yang penuh pengawasan. Ardi masih di ruang tengah, duduk dengan posisi yang sama seperti beberapa jam lalu. Dan Dimas sudah kembali ke kamar. Bu Sulastri mematikan lampu dapur satu per satu.

Rani berdiri di dekat meja makan. Tidak ada yang menyuruhnya pergi, tapi juga tidak ada ruang yang tersisa untuknya bergerak tanpa terlihat.

Rani.” Suara Ardi memanggil lagi. Pelan, tanpa menoleh.

“Iya.”

“Besok pagi bangun lebih awal.”

“Buat apa?”

Ardi berhenti sebentar, lalu menjawab, “bantu beres-beres sebelum tamu datang.” Tidak ada tambahan penjelasan. Tidak ada diskusi, hanya penetapan.

Rani mengangguk hanya

Ardi kembali menatap televisi, seolah percakapan selesai, seolah tidak ada hal lain yang perlu dipertanyakan.

Rani menatap tangannya sendiri. Di balik lap yang masih ia pegang, obeng itu masih ada, dingin dan kecil. Tapi sekarang terasa seperti sesuatu yang hidup. Di belakang rumah… Mira masih di sana, masih menunggu. Atau mungkin malah sudah tidak lagi menunggu dengan cara yang sama?

Rani menelan ludah. Ia butuh kesempatan, satu saja, tapi malam ini rumah tidak memberi itu. Hanya rutinitas, hanya aturan yang diam-diam mengikat.

Bu Sulastri keluar dari kamar dengan membawa selimut. “Jangan tidur larut,” katanya sambil lewat.

Rani mengangguk. Tidak ada yang mempertanyakan kenapa ia masih di dapur. Tidak ada yang merasa itu aneh, karena di rumah ini, perempuan yang terlalu lama diam bukan masalah. Yang jadi masalah adalah perempuan yang terlihat tidak pada tempatnya.

Rani menarik napas pelan. Dan perlahan melangkah ke arah dapur belakang, pelan, seolah hanya merapikan sesuatu. Ardi tidak terdengar bereaksi, Dimas pun tidak terlihat. Dan bu Sulastri sudah kembali ke kamarnya. Langkah Rani berhenti di dekat lemari kayu. Jantungnya langsung naik, ia menunggu satu detik… dua detik… tidak ada suara, tidak ada panggilan, tidak ada larangan.

Rani menempelkan tangan ke lemari. Dingin, di baliknya—Mira. Dan di luar sana—waktu yang terus bergerak tanpa kompromi. Rani menarik napas, tangannya mulai bergerak perlahan, bukan untuk membuka, tapi untuk memastikan apakah masih ada celah atau semuanya sudah benar-benar tertutup malam ini.

***

Tangan Rani berhenti di permukaan lemari kayu. Terasa sunyi di baliknya. Ia menempelkan telinga pelan ke sela lemari. Tidak ada apa-apa. Ia mengetuk pelan.

Tok.

Hening.

Tok.

Masih tidak ada jawaban. Dada Rani langsung mengencang.

“Mira…” bisiknya pelan.

Rani menunggu beberapa detik. Lalu mengetuk lagi, sedikit lebih keras.

Tok… tok….

Lihat selengkapnya