Lemari di luar berhenti bergerak. Sunyi kembali jatuh, tapi bukan sunyi yang menenangkan, ini sunyi yang menunggu. Seolah seseorang di luar sedang berdiri tepat di depan pintu kecil itu… tapi belum memutuskan untuk masuk.
“Rani….” Suara Ardi lebih pelan sekarang, tidak marah, tidak panik, hanya memastikan.
Rani tidak menjawab. Tangannya menempel di dinding dingin ruang sempit itu, bersama Mira, yang tidak lagi memberi tanda apa pun. Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai—Rani tidak mencoba berlari. Ia hanya diam, seperti tubuhnya sudah tidak sepakat lagi dengan apa pun yang terjadi di luar.
Di sudut ruangan, matanya jatuh ke lantai, ada sesuatu di san. Setelah Rani lihat, yaitu beberapa lembar kertas, sebagian basah oleh udara lembap. Ia berlutut pelan, tangannya gemetar saat mengambilnya. Ia langsung meelihat dan menyimpulkan bahwa itu adalah tulisan tangan Mira, tidak rapi, tidak stabil, seperti ditulis dalam keadaan yang sering terhenti.
Rani membuka lembar pertama.
“Kalau kamu baca ini, berarti aku sudah tidak bisa menjelaskan langsung.”
Rani menahan napas.
Tangannya mengencang, ia pun lanjut membaca.
“Aku dulu berpikir aku bisa bertahan kalau aku cukup sabar, ternyata bukan sabar yang bikin aku hancur.”
Rani menutup mata sebentar. Serasa kesakitan Mira hidup kembali, lalu ia membuka lagi.
“Tapi cara semua orang di rumah ini menjelaskan kenapa aku harus diam.”
Tangan Rani mulai gemetar lebih kuat. Sedangkan di luar, Ardi masih berdiri, tidak masuk. Ia tidak tahu itu lebih baik atau lebih buruk. Dan ia lanjut membaca lembar berikutnya.
“Kalau kamu merasa kamu mulai salah, itu bukan karena kamu salah.”
Rani berhenti. Dan berpikir bahwa kalimat itu terlalu tepat, terlalu dekat bahwkan. Seperti Mira sedang berbicara langsung ke kepalanya sekarang.
“Itu karena kamu sedang dibiasakan untuk tidak percaya dirimu sendiri.”
Rani menelan ludah, matanya terasa panas tiba-tiba, tapi tidak ada air mata yang jatuh.
Dan diwaktu yang sama, di luar, suara Ardi terdengar lagi. “Rani, kamu di belakang kan?”
Kali ini ada sedikit perubahan. Sedikit lebih tajam, dan sedikit lebih dekat ke kecurigaan. Mendengar itu, Rani langsung tidak bergerak dengan tangan yang masih memegang kertas. Dia lanjut membaca lembar terakhir yang jatuh di lantai.
“Kalau aku hilang, jangan percaya cerita yang mereka buat tentang aku. Mereka akan bilang aku berlebihan, atau sakit, atau tidak stabil… tapi aku cuma ingin pulang dari tempat yang tidak pernah mengizinkan aku pulang.”
Sekarang, hanya tulisan, dan ruang sempit itu terasa semakin sempit. Sedangkan di luar, Ardi mengetuk pelan.
Tok.
“Rani.”
Tok.
“Jawab.”
Rani menatap kertas di tangannya, lalu menatap tubuh Mira. Dan di titik itu—penyesalan datang tanpa suara. Bukan karena ia terlambat, tapi karena selama ini, Mira sudah berteriak… dan seluruh rumah memilih tidak mendengar.