Pagi datang tanpa suara yang jelas. Tidak ada perubahan yang bisa ditangkap dengan pasti, hanya cahaya yang masuk pelan dari celah tirai kamar. Rani masih di tempat yang sama, duduk di tepi kasur, posisinya tidak berubah sejak malam, matanya merah, tapi tidak basah lagi, air mata sudah tidak tahu harus keluar lewat mana.
Di luar kamar, suara panci terdengar. Seperti biasanya, itu adalah bu Sulastri sudah di dapur, hari-hari yang normal, seperti tidak ada malam yang panjang di balik dinding rumah ini.
Terdengar Ardi berbicara di ruang tengah dengan nada santai membahas hal tentang kerja, atau hal kecil lain yang tidak penting.
Rani tidak benar-benar mendengar, ia hanya menangkap pola. Rumah ini sudah kembali hidup seperti biasa, seperti tidak ada yang pecah di dalamnya. Ia berdiri perlahan dengan kakinya terasa berat, bukan karena lelah fisik, tapi karena setiap langkah sekarang seperti membawa sesuatu yang tidak terlihat. Ia berjalan ke kamar mandi, air dingin menyentuh wajahnya, tidak menyegarkan, hanya membuat sadar bahwa ia masih di sini dan masih di rumah ini.
Di cermin, wajahnya terlihat asing, bukan karena berubah drastis. Tapi karena ada sesuatu yang hilang, seperti bagian yang biasanya mengikuti rumah ini sudah tidak ada lagi. Rani menatap dirinya lama, lalu menunduk, di dalam kepalanya—tidak ada suara Mira lagi.
Ketika Rani keluar dari kamar mandi, suara Ardi sudah lebih dekat, ia sedang bebicara dengan ibunya, tentang hal-hal yang tidak menyentuh apa pun yang sebenarnya penting.
Rani berhenti di lorong, tidak langsung masuk karena sekarang ia sadar satu hal, ia bukan lagi orang yang sama di rumah yang masih berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Dan yang lebih buruk—ia masih harus berpura-pura bersama mereka.
***
Hari itu berjalan seperti hari-hari sebelumnya, terlalu biasa. Itulah yang justru membuat terasa tidak aman.
Ardi berangkat lebih pagi dari biasanya, entah ada urusan apa, juga rencana rekan kantornya akan datang menjadi batal. Dan Dimas keluar rumah tanpa banyak bicara, bu Sulastri sibuk dengan urusan dapur dan tidak terlalu memperhatikan siapa pun, sedangkan pak Hendra sedang duduk santai diteras dan sibuk membaca koran. Rumah itu seperti mengendur sesaat, bukan menjadi kosong, tapi tidak fokus.
Rani berdiri di kamar, menatap pintu. Tas kecil sudah disiapkan tanpa banyak isi, tidak ada rencana besar, tidak ada perhitungan panjang, hanya satu hal, ia bisa keluar. Di dalam kepala tidak ada suara yang memandu, tidak ada Mira lagi. Dan itu hanya sisa-sisa ingatan yang tidak bisa dihapus.
Rani menarik napas pelan, lalu membuka pintu kamar, terlihat orong sangat sepi. Ia berjalan perlahan dan tidak terburu-buru.
Di dapur, bu Sulastri sedang membelakangi seperti sedang mengaduk sesuatu di kompor.
Rani berhenti sejenak, menatap isi ruangan dengan tangan sedikit agak bergetar. Setelah beberap detik, ia melangkah lagi, satu langkah… dua langkah… tidak ada yang memanggil atau sekadar menghentikan, hanya suara masakan. Dan detik yang terus berjalan, ia melewati ruang Tengah, rumah seperti sedang tidak memperhatikan.
Rani mencapai pintu depan, tangannya berhenti di gagang pintu, masih tidak ada yang memperhatikan. Sedangkan pak Hendra sudah tidak membaca korang, sudah tertidur pulas dengan menutup wajahnya dengan korang.
Udara luar lebih dingin dan lebih nyata. Ia menatap ke luar sebentar. Jalan biasa dengan lalu Lalang kendaraan, rumah tetangga yang berisik dengan kesibukan masing-masing, hal-hal yang terasa seperti dunia lain. Rani melangkah keluar untuk pertama kalinya—tidak ada yang menahannya. Tapi kali ini, suara itu tidak terdengar seperti jebakan.
Rani berjalan awalnya pelan, lalu sedikit lebih cepat dan tidak menoleh, karena kalau ia menoleh—ia tahu pasti aka nada yang menyapa. Ia terus berjalan tanpa arah yang jelas, tapi untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai—langkahnya bukan lagi di dalam rumah itu.
***
Hari itu Rani kembali, tapi bukan seperti sebelumnya, ia tidak datang sendirian. Di belakangnya ada ibunya, ayahnya, dan dua petugas kepolisian. Mobil berhenti tepat di depan rumah Ardi, rumah yang masih terlihat sama.
Tapi bagi Rani, semuanya sudah berbeda, karena kali ini—ia tidak kembali sebagai bagian dari rumah itu… ia kembali sebagai orang luar.
Ketika pintu mobil terbuka, Rani tidak langsung turun, tangannya masih gemetar kecil.