Pagi setelah penggeledahan itu terasa berbeda. Bukan lebih tenang, tapi lebih “kosong” dalam cara yang baru. Rumah Ardi kini dipasangi garis pembatas dan beberapa petugas masih keluar masuk. Orang-orang sekitar mulai berdiri di kejauhan, memperhatikan tanpa berani terlalu dekat. Seperti semua orang baru sadar bahwa rumah yang selama ini terlihat biasa… ternyata tidak pernah benar-benar biasa.
Rani duduk di kursi plastik di luar rumah, dengan tangannya menggenggam botol air yang tidak benar-benar diminum. Di sebelahnya, ibunya duduk diam, tidak banyak bicara sejak kemarin, karena tidak ada kalimat yang cukup untuk menjelaskan semua yang sudah terjadi.
Tidak lama, kemudian seorang petugas mendekat. “Bu Rani, nanti ada sesi keterangan tambahan ya.”
Rani mengangguk pelan. “Iya.”
Namanya dipanggil berulang kali sejak kemarin, nama Ardi juga. Tapi ada satu nama yang tidak lagi dihindari seperti dulu, yaitu Mira, nama itu sekarang muncul di dokumen dan di percakapan pelan antar petugas, di catatan yang dibawa keluar masuk rumah itu.
Dan setiap kali nama itu diucapkan—Rani merasa dadanya menegang sedikit. Bukan karena takut lagi, tapi karena sadar bahwa itu berarti Mira akhirnya benar-benar diakui pernah ada di sana.
Salah satu petugas membuka catatan. “Korban atas nama Mira sudah… ditemukan dalam kondisi meninggal.”
Kata itu tidak keras, tidak dramatis, hanya terdengar formal. Tapi bagi Rani, kata “ditemukan” itu terasa seperti sesuatu yang terlambat datang. Ia menunduk, tidak menangis, tidak merespon juga, hanya diam lama.
Ibunya Rani menatapnya sekilas, lalu kembali diam.
Seorang petugas lain berbicara pelan. “Penyelidikan masih berjalan, tapi kami sudah mengamankan beberapa barang bukti.”
Rani mengangguk lagi, seperti tubuhnya hanya bisa merespons dengan cara itu sekarang.
Di dalam rumah, Ardi masih diperiksa, kadang suaranya terdengar samar, tapi tidak lagi mendominasi ruang, tidak lagi mengatur arah percakapan, sekarang semua orang hanya mendengar untuk mencatat.
Rani menatap ke arah pintu rumah itu, rumah yang dulu membuatnya kecil, rumah yang dulu menentukan semua geraknya. Sekarang berdiri diam tanpa kekuasaan yang sama. Dan di tengah semua itu—ia akhirnya menyadari satu hal yang paling aneh, yang paling sunyi bukan lagi ruang di balik lemari, tapi hidup setelah semua pintu dibuka.
***
Beberapa hari setelah itu, semuanya bergerak lebih cepat dari yang Rani sangka, bukan cepat seperti sesuatu yang selesai, tapi cepat seperti sesuatu yang akhirnya tidak bisa ditunda lagi. Ia duduk di ruang kecil kantor layanan hukum, di depannya ada kertas, tanda tangan dan kalimat-kalimat formal yang tidak terdengar seperti hidupnya sendiri.