
Sutasoma nama yang disandang untuk tinggal di bumi. Ia seorang anak laki-laki yang tinggi, jangkung dan memiliki siluet tubuhnya athletis. Umurnya baru menginjak lima belas tahun ketika ia bersekolah di SMK MUH Prambanan. Pertama kali baginya untuk menginjak kaki di Sekolah Menengah Kejuruan. Walaupun ia bukan anak yang pandai, tetapi ia berhasil juara kedua di SMPnya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk masuk SMK MUH Prambanan.
Sudah dua minggu Suta memulai kegiatan di SMK. Kegiatan belajar, eskul voli dan membaca komik dilaluinya dengan santai dan cukup nyaman. Ia menaiki motor cb tua peninggalan ayahnya. Mesinnya masih sangat bagus dan cukup nyaman melibas jalan raya antar desa.
Pagi yang cerah telah menjelma. Suta melaju menaiki motor cbnya. Jalan raya cukup ramai dan padat kendaraan beroda dua atau empat menyesaki jalan antar desa. Suta menelusuri jalanan dengan hati-hati namun ia tak tahu ketika ada tingkungan tajam didepan. Sebuah truk besar berkecepatan tinggi datang dari arah berlawanan.
Suta agak kikuk ketika bunyi klakson nyaring dan kasar merobek udara. Ia tak bisa mengendalikan kendaraan hingga ia menabrak pohon dan terjerambab diselokan. Tubuhnya cukup parah mendera luka. Mungkin ia mengalami geger otak. Kemudian Suta dibawa oleh warga yang menolongnya ke rumah sakit terdekat. Namun belum sampai di rumah sakit terdekat, Suta membuka matanya.
“Apa yang terjadi?” tanya Suta bingung. “Kenapa aku bisa ada didalam mobil?”
Matanya memandang bingung dan waspada. Orang-orang tampak bingung memperhatikannya. Mobil tumpangan yang membawa dirinyapun berhenti.
“Kau tadi habis terjadi kecelakaan,” kata salah orang yang mengantarnya. “Lukamu cukup parah dan kau pingsan.”
“Kecelakaan,” ulang Suta bergidik. “Terluka.” Ia memikirkannya seperkian detik. “Tetapi aku tidak merasakan sakit sama sekali.”
Mereka bingung untuk membalas jawabannya. Mereka saling pandang bimbang dan ragu. Mereka cemas mengamati Suta yang terlihat bugar tanpa luka. Apalagi Suta terlihat seperti habis bangun dari tidurnya yang nyenyak. Suta seperti tak ingat kejadian yang terjadi. Ia hanya ingat bahwa dirinya menabrak pohon dan pingsan.
Suta tampak mengulas apa yang sebenarnya terjadi. Ia membayangkan apa yang telah menimpa dirinya. Tak lama kemudian ia berkata. “Ya tadi aku memang mengalami kecelakaan,” kata Suta lugas. “Tetapi sepertinya aku tidak mengalami luka parah.”
Mereka menganggukkan kepala dan bingung. Lalu salah satu dari mereka berkata. “Sebaiknya kita periksa ke klinik,” katanya mengingatkan. “Tempatnya tak cukup jauh dari sini.”
“Yap,” kata Suta mengangguk. “Mungkin itu lebih baik.”
Mereka akhirnya membawa Suta periksa ke klinik. Seorang dokter memeriksa dirinya. Namun raut mukanya tampak bingung dan ragu. Dokter itu menelengkan kepala dan berkata. “Ia tidak terluka bapak-bapak,” kata dokter itu lugas. “Tidak ada luka serius terjadi.”
Kedua orang yang mengantar Suta ke klinik terlihat bingung. Ekspresi mereka melongo. Hal diluar nalar terjadi dihadapan mereka. Orang yang mengalami kecelakaan tidak menderita luka sekujur tubuhnya. Mereka hanya mengelengkan kepala. Kemudian mereka bersama Suta keluar dari klinik.
“Bagaimana bisa bocah?” tanya salah dari kedua orang itu terlihat bingung menatap Suta. “Kenapa kau tidak mengalami luka. Padahal sebelumnya kau pingsan dan kelihatan parah dari luka dalam yang kau dera. Tetapi sekarang kau terlihat baik-baik.”
Suta mengedikkan bahu. “Aku tak tahu,” kata Suta. “Tetapi terima kasih telah mengantarku ke klinik.”
“Ya.”
Mereka meninggalkan Suta di depan klinik. Suta meraih tas dipunggungnya. Ia mengambil smartphone dari dalam tasnya. Kemudian ia menghubungi salah satu nomer yang bertulis nama Abimanyu.
“Halo,” kata Suta. “Assalamulaikum.”
“Wa’alaikum sallam bro,” jawab Abi. “Dimana sekarang kau teman?”
“Aku ada di klinik,” kata Suta. “Cepat kau datang ke sini. Jemput aku. Kendaraanku tadi menabrak pohon. Sekarang motorku ada dibengkel.”
“Oke bro!” kata Abi. “Aku akan segera datang.”
“Assalamualaikum,” kata Suta mengakhiri panggilannya.
Suta berdiri didepan bangunan klinik yang bertenger dipinggir jalan. Ia cukup sibuk dengan pikiran yang menganjal dirinya. Ia menatap dirinya dari bawah ke atas cukup saksama. Ia melihat dirinya sendiri begitu bingung untuk mencerna.