
Sepulang sekolah.
Suta bersama Abi melangkah menelusuri koridor lab computer. Suta dan Abi termasuk cowok senang mengobrol. Topik pembicaran mereka tentang aplikasi dan jaringan. Cukup asyik mereka membahasnya masalah yang menyangkut teknologi. Tanpa sadar seseorang gadis berlari menabrak bahu Suta. Suta bergidik dan membeku. Buku-buku yang dipegang gadis itu berserakan berhamburan. Wajahnya tampak kesal dan marah. Dahinya mengeryit.
“Kau tidak apa-apa,” kata Suta sopan dan datar. Ia membantu memunggut buku-buku itu. Dan kemudian ia memberikan buku-buku yang punggut untuknya. Tanpa sadar ketika ia berpaling memandangnya ternyata gadis itu adalah Mita. Ekspresinya tampak ciut tapi agak kesal menatap Suta. Alis matanya sedikit terangkat.
“Tidak,” kata Mita sepihak. “Terima kasih.” Dia berlalu meninggalkan Suta begitu saja untuk menyusuri koridor ke arah lab computer. Suta menyaksikan kepergiannya.
Abi memperhatikan ekspresi wajah Suta termanggu menatap kepergian Mita. Dia hanya mengeleng-gelengkan kepala.
“Suta,” panggil Abi sepihak.
Suta terkesiap. “Ada apa Ab?” tanya Suta agak gugup dan malu.
“Tidak,” kata Abi nyengir bodoh. “Ayo kita cepat! Kak Gilang pasti sudah menunggu kita.” Dia agak ke depan selangkah.
Suta mengangguk. Mereka kembali melanjutkan menyusuri koridor untuk menuju ke lab computer. Abi tersenyum bodoh melangkah di depan Suta.
Suta memperhatikan tingkahnya. Ia mengedikkan bahu. “Kenapa kau tersenyum seperti orang bodoh?” tanya Suta lugas. “Apa kau mengejekku?” Suta mengeryitkan dahi. Ia tampak memiliki ekpresi kesal dan meradang.
Abi mengedikkan bahu. “Tidak,” kata Abi datar. “Bukankah senyum adalah ibadah. Senyum lebih baik dari marah atau kesal.”
Suta mengangguk. “Ya kau benar,” kata Suta mendengus.
Mereka kembali melanjutkan langkah menyusuri koridor kea rah lab computer. Mereka akhirnya tiba di depan pintu lab.
“Assalamu’alaikum,” salam Suta lugas dan mantab.
“Wa’alaikum sallam,” balas suara dari lab. “Masuk saja!”
Suta menatap dingin ke arah Abi. Ia menelengkan kepala. “Bagaimana?” tanya Suta datar.
“Kita masuk,” kata Abi lugas. “Sepertinya kita memang sedikit terlambat.”
Mereka melangkah memasuki lab computer. Suta mengedarkan pandangan mengamati setiap ruangan lab. Ia terkesiap ketika melihat gadis yang menabrak berada dalam ruangan itu. Walaupun ia belum begitu akrab dengannya namun gadis itu adalah teman kelasnya. Jadi ia mengenali betul wajah-wajah temannya.
Suta melirik ke arah Abi. Tatapan gugup dan tegang. Ia mengedikkan bahu. “Bukankah dia Mita teman kelas kita,” kata Suta parau. “Kenapa dia berada di lab ini bersama kakak kelas?”
Abi tersenyum. Dia hanya mengedikkan bahu tanpa membuka suara. Seperkian detik kemudian dia bersuara. “Lebih baik kita duduk saja teman,” kata Abi datar. “Sepertinya kakak-kakak kelas telah menunggu kita cukup lama.”
Suta menelengkan kepala. “Mungkin itu lebih baik,” kata Suta parau.
Mereka bergegas meluncur ke tempat duduk yang sudah disediakan. Suta mendongak melirik kea rah Mita. Gadis itu tampak sibuk dengan lembaran dokumen yang diteliti dan amati secara seksama. Sepertinya Mita tidak memperhatikan kedatangan Suta. Ia duduk merapat ke tempat duduk di dekat Abi. Meja membentuk persegi dengan kursi duduk berisi delapan orang.
Suta menunduk menatap Mita didepannya. Karena ia saling berhadapan dengannya. Namun ia malu dan tegang karena wajah Mita serius dan mantab mengamati setiap dokumen. Apalagi ketika Mita mengangkat dagu, kecantikkannya membelai bola mata memancar disela sudut mata Suta.
Kini Gilang tampak duduk tegap dan mengamati setiap orang dihadapannya. Dia akan membuka suara untuk memulainya.
“Assalamu’alaikum,” salam Gilang.
“Wa’alaikum sallam,” balas semuanya.
Gilang duduk tenang kedua tangan saling bersentuhan diatas meja. “Kami memanggil kalian dari kelas computer kelas satu,” kata Gilang datar. “Mungkin kalian merasa bingung, karena aku meminta kalian untuk datang ke lab ini sepulang sekolah. Terutama kalian berdua.” Matanya menyorot ke arah Suta dan Abi. “Aku tahu kalian bukan anggota osis atau klub olaharga. Namun ada hal lain yang akan kami bicarakan dengan kalian mengenai sesuatu hal.”
Suta dan Abi saling pandang. Suta mengedikkan bahu. “Sesuatu hal,” kata Suta parau. “Mengenai apa itu kak?” Matanya mengeryit.
“Makhluk astral,” kata Gilang mendengus. Mata Gilang menyorot tajam. Tangannya bertumpu meja bangku.