
Suta menelengkan kepala. “Jadi,” kata Suta lugas. “Apa sebenarnya tujuanmu mengajakku bertemu mereka?”
Abi menegakkan dada. Tangannya memegang bahu Suta. “Kebaikan untuk menegakkan kebajikan,” kata Abi. “La illaaha illoohu muhammadar rosulullooh.”
“Tiada Tuhan selain Alloh,” kata Suta. “Muhammad utusan Alloh.”
Gilang membusungkan dada. Dia mengedikkan bahu. “Lubang astral sudah terbuka,” kata Gilang lugas. “Para drubiksa akan merajai alam manusia. Dan tugas kita sebagai sunutara atau manusia berkekuatan supernatural harus melawan drubiksa. Mereka datang untuk memerintah manusia ke alam kejahatan.”
Matanya mengeryit. “Imajinasimu terlalu tinggi kak!” kata Suta masih belum percaya. “Kakak bilang drubiksa. Apa itu drubiksa? Kenapa? Aku bukan manusia seperti yang kau cari. Aku bukan manusia supernatural.” Suta bangkit dari tempat duduk. “Maaf aku tidak bisa ikut bersama kalian.” Ia membalik tubuh dan pergi meninggalkan tempat pertemuan.
Suta mulai lenyap ketika pintu mulai tertutup kembali saat ia telah keluar dari ruang lab. Langkahnya terasa berat ketika ia menyusuri koridor sendirian. Abi sepertinya telah mempunyai kelompok sendiri untuk menyenangkan hatinya. Suta tak mungkin bisa menjadi temannya karena tahu dia bukan manusia biasa.
Supernatural adalah kekuatan alam yang ada dalam diri manusia. Pemahaman yang tak bisa diterima atau dinalar secara logika. Namun Suta bukan orang yang percaya begitu saja tanpa tahu apa yang harus dilakukannya. Suta menelusuri koridor menuju arah parkiran untuk menjumpai motor cbnya.
Langkahnya terasa berat ketika Suta mulai mencapai motornya. Ia berbalik dan mengamati waspada. Tubuhnya seperti merasakan kekuatan jahat yang coba mendekatinya. Namun tanpa disangka hanya angin berhembus yang terpapar matanya. Energi hitam terasa menghantam ketika ia melangkah hati-hati. Kemungkinan makhluk astral memang dapat menjangkau dirinya, tetapi ia selalu ingat Alloh agar hidupnya dalam jalan yang lurus.
Motor dinyalakan saat Suta mulai duduk dibangku motornya. Ia berpaling mengamati belakang punggung, angin seperti sesak kejahatan yang selalu menghantui. Ia merasa dirinya diikuti hal yang tak bisa dinalar logika. Ia mulai memikirkan hal yang terjadi bila ada kemungkinan keburukan akan menimpa dirinya. Namun hatinya terus berpasrah diri kepada Alloh SWT.
Bismillaahir rohmaanir rohiim, batin Suta. Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin. Arrohmaanir rohiim. Maaliki yaumiddiin. Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin. Ihdinash shiroothol mustaqim. Shiroothol ladziina an’amta ‘alaihim. Ghoiril Maghdhuubi ‘alaihim walaadhdhoollin. Aamiin.
Suta segera melesatkan motor meninggalkan parkiran. Motor ia ambil dari bengkel pada waktu sesudah sholat zhuhur. Ia mengajak Abi untuk mengantarnya ke bengkel dekat jalan perempatan. Untung motornya tidak rusak berat, cuma ada beberapa orderdel yang bengkok tetapi semua sudah dibereskan. Kini Suta melaju dengan kendaraan beroda meninggalkan sekolah untuk pulang ke rumah.
Jalanan siang hari cukup panas dengan aspal hitam yang membara. Roda bermotor berputar cepat merobek jalanan. Berhelm dengan muka terbuka memberikan rasa sejuk ketika angin berhembus menerpa wajahnya. Sudah agak jauh ia meninggalkan gapura sekolahnya. Kini ia telah mencapai jalanan yang cukup sepi. Kendaraan terasa cukup senyap melaju di setiap arah jalan.
Namun Suta berkendara dengan waspada dan hati-hati. Tubuhnya tegang dan cemas karena ia merasakan hal yang tak bisa dinalar merobek jalan pikirannya. Sesuatu hal yang seperti kekuatan hitam mengikuti dirinya. Angin menerpa dingin merobek tubuhnya dalam kecemasan yang tak bisa nalar. Terasa aroma kuat, gelap dan sesak menghantam seluruh instingnya.
Suta melirik hati-hati untuk mengedarkan pandangan. Matanya sangat focus pada arah jalan depan agar tidak terjadi kecelakaan. Hal yang memang diluar nalar terlalu sering terjadi ketika dirinya mulai menginjak kaki di Sekolah Menengah Kejuruan. Ia merasakan dirinya dalam pengintaian makhluk yang tak bisa dinalar.
Apa makhluk astral yang mengikutiku, pikirnya, tetapi dirinya tetap focus pada jalanan yang dilabasnya. Ia tak mungkin mengambil resiko untuk kecelakaan yang akan terjadi. Namun tak lama berselang sebuah angin hitam menghantam didepannya. Ada pintu dimensi terbuka didepannya. Dan kendaraan Suta ikut terseret masuk dalam dimensi itu. Ia bersama motor cb tak bisa bertahan dari daya tarik kuat yang menyeretnya. Suta berharap membuka hatinya untuk bertasbih kepada Alloh.
Subhaanalloohi, batinya terucap. Subhaanalloohi, Subhaanalloohi…
Sebuah tempat yang aneh tepat dihadapannya. Tempatnya sangat sepi dan bangunan hampir sama dengan keadaan tempat yang pernah di pijaknya. Jalanan kosong tampak lalu lalang kendaraan. Udara terasa dingin dan sesak namun cukup lega untuk bernafas baginya.
Dunia yang berbeda ada didepan matanya. Gelap dan dingin memenuhi keadaan dunia yang jelas pertama kali ia melihatnya. Bangunan yang hampir sama dengan dunianya namun terasa hampa, sunyi dan dipenuhi kegelapan yang mengancam.
Suta bergidik. Duduk diatas bangku kendaraannya dengan ketegangan dan kecemasan tak bisa diterima, semakin membuatnya merasa takut dan ngeri untuk berada dalam dunia yang tak dikenalnya. Ia merasa bahwa akan ada bahaya datang menghampirinya.
“Sutasoma!” suara kasar dan jahat memecahkan kesunyian.
Tubuh Suta bergetar dan tegang saat suara itu menggema. Ada rasa takut yang ngeri untuk memenuhi seluruh tubuhnya. Ia mengedarkan pandangan untuk mengamati dimana suara itu berasal. Namun ia tak bisa menemukan orang atau makhluk yang menggemakan suara itu.
Suta bergidik. Keberanian yang hampir tenggelam dalam kecemasan mulai ia bangkitkan. Ia dengan tegap dan gagah berani membuka suara.
“Siapa kau?” renggut Suta sengit agak cemas. “Tunjukkan dirimu!”
Ha…Ha…Ha…