
Cahaya putih merubah siluet tubuh yang mengerikan. Berdiri mantab dan jangkung menjulang dengan keberanian keperkasaan.
Dia menamparkan darah ksatria yang gemilang. Tubuhnya dipenuhi bulu putih menawan. Memakai bangklon untuk menghiasi kepalanya. Memakai pakaian serba putih. Surjan putih dengan garis-garis hitam menghantam kebaikan.
“Maafkan aku!” katanya mantab dan bijaksana. “Keimananmu adalah kunci keberanian untuk menegakkan kebaikan.”
Suara menderu membangkitkan asa yang tinggi untuk mencapai kebaikan sejati. Dia lebih tinggi dan jangkung dari sebelumnya. Wujudnya seperti kera namun berdiri tegap seperti manusia pada umumnya. Siluet tubuh yang tadi mengerikan seperti drubiksa sekarang menjadi sosok manusia kera yang bijaksana. Matanya menatap teduh dan lembut menyorot ke arah Suta.
Suta terkesiap. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Suta bingung dan terperangah. “Kenapa kau bisa berubah menjadi manusia kera? Bukankah tadi kau berwujud drubiksa.”
Siluet tubuhnya sangat tenang dan berani. Dia tampak berfikir lebih jernih untuk menelan apa yang terjadi. Dia menelengkan kepala. “Aku terkena kutukan,” katanya lugas dan mantab. “Berkat dirimu aku bisa menjelma lagi ke wujud asliku.”
“Memang kau siapa?” tanya Suta ragu. “Wujudmu tak seperti tadi. Sekarang kau menjadi manusia kera yang gagah berani.”
Dia menyunggingkan senyuman. Wajahnya lembut menyapa. “Aku adalah Anoman,” katanya tajam. “Maafkan aku telah membuatmu ketakutan. Dan terima kasih telah menolongku untuk mengingat Alloh.”
Suta bergeming. “Subhanallooh,” kata Suta mantab. “Maha Suci Alloh.”
Anom mulai mendekat dan menghampiri Suta. Suta menyambut kedekatan tanpa rasa takut dan cemas. Ia seperti mendapat pencerahan dari seorang teman yang telah lama berpisah.
Suta mengedikkan bahu. “Walaupun sedikit geli,” kata Suta mendengus. “Tetapi ada kala memang ini yang terjadi.”
Anom tersenyum simpul. “Hal yang tak pasti,” sambut Anom. “Aku tak menyangka keturunanku telah memiliki iman dan taqwa yang mengangkat derajat kebaikan tinggi. Kukira selamanya kutukan drubiksa akan menjalar menjadi diriku.”
Suta terkesiap. “Apa benar aku memang keturunanmu?” tanya Suta mendengus. “Lalu. Kenapa kau menyeretku ke dunia astral ini?”
“Pertanyaan yang bagus,” kata Anom bijak. Dia sudah ada didekat Suta. Tubuhnya lebih tinggi dan jangkung, karena tampak lebih dua meter dia berdiri tegap dan gagah. “Aku sudah lama terkurung dalam penjara dunia astral ini. Kemampuanku sudah tak cukup kuat seperti waktu masih muda. Hingga sampai akhirnya aku menjadi makhluk astral dan mendekam dalam dunia astral.” Tatapannya lebih teduh dan bersahaja. Dia tampak sosok orang tua yang memberikan nilai-nilai kemuliaan pada anak muda.
Anom menghela nafas. “Ketika umurmu mencapai lima belas tahun,” kata Anom lugas. “Maka kekuatan supernatural akan bangkit dalam diriku. Buktinya kau tak terluka ketika terjadi kecelakaan.”
Suta menelengkan kepala. “Memang kau tahu apa yang terjadi?” tanya Suta sengit. “Bagaimana bisa kau mengetahui dunia manusia?”
Anom menyunggingkan senyum. “Dunia manusia dan astral,” kata Anom. “Keduanya memang sudah ada ketika dunia diciptakan. Keduanya hanya berbatas dalam lingkup kemampuan supernatural yang dapat menjangkau dunia astral. Manusia dapat melihat dunia astral ketika dia mampu memakai kekuatan supernatural untuk menembus dinding-dinding tipis yang menyekat kedua dunia. Sementara makhluk astral karena memiliki kemampuan supernatural dan mereka tak terlihat oleh mata telanjang manusia. Mereka lebih leluasa bergerak antara dunia astral dan manusia. Ketika mereka ada di dunia manusia, mereka adalah makhluk tak kasatmata atau makhluk halus.”
Suta menganggukkan kepala. “Seperti hal yang tak mudah,” kata Suta mendengus. “Dunia memang penjara. Rasululloh pernah bersabda: “Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir.” (HR. Muslim).”
Anom kembali menyunggingkan senyum lebar dan simpul. “Hal yang tak pernah di dapatkan,” kata Anom lugas. “Keimanan memang hal yang perlu ditingkatkan dan dikuatkan, agar syetan tak mudah menjerumuskan dalam kesesatan.”
“Subhaanalloohi,” kata Suta mantab. “Maha Suci Alloh. Sekarang kita kembali ke pokok permasalahan yang masih mengganjal. Kenapa kau menyeretku ke dunia astral? Dan apa tujuanmu memang untuk membunuhku?”
Anom menelengkan kepala. Dia mengedikkan bahu. “Aku hanya ingin kau membebaskan kutukanku,” kata Anom lugas. “Kekuatan seperti magnet yang menarikku untuk membawamu ke dunia astral ini.”
“Kalau cuma itu,” kata Suta mendengus. “Berarti urusanku di sini sudah beres. Sekarang aku ingin kau kembalikan diriku ke dunia manusia.”
Anom tersenyum. “Yap,” kata Anom. “Tetapi aku ingin kau menerima ini.” Dia mengangkat telapak tangannya ke atas. Tiba-tiba sebilah keris muncul ditelapak tangannya. “Pusaka ini adalah keris Kalanada.” Dia menjulurkan tangan ke arah Suta. “Terimalah hadiah ini sebagai ucapan terima kasihku.”
Suta bergidik. “Kenapa kau memberiku pusaka ini?” tanya Suta lugas. “Apa gunanya pusaka ini?”
Suta menatap tajam keris dihadapannya. Pusaka yang memiliki daya energy kuat terasa menggetarkan seluruh siluet tubuh Suta. Gagang keris yang memiliki ukiran cantik dan unik terasa mengelitik dibuku-buku jari tangan Suta.
Keris Kalanada bersarung ukiran cantik dan unik bertata permata. Daya pikat energy praba yang terasa menarik tangan Suta agar memiliki pusaka itu.
“Terimalah!” kata Anom mendengus. “Pusaka ini akan membantu untuk mengalahkan drubiksa."