"Memang butuh waktu untuk keluar dari zona nyaman, dan gue lagi menjalaninya."
***
Ruang 203.
Pukul 10.00 WIB.
Kampus Unsoed.
"Membangun strategi pemasaran dalam bisnis, itu tidak hanya mengandalkan asumsi atau insting belaka. Melainkan membutuhkan riset untuk memperoleh data atau informasi yang akurat."
Reandra begitu fokus memperhatikan dosen berkacamata mengisi mata kuliah di depan kelas. Beliau adalah Pak Sutejo—salah satu dosen pengampu mata kuliah pengantar bisnis.
Sesekali Reandra mengecek jam di ponselnya. Kebetulan yang haqiqi, dirinya kebagian shift siang, sehingga masih ada kesempatan ikut kuliah di pagi hari.
Kilas balik sebelum Reandra merantau ke Purwokerto. Ia ingin sekali punya cafe pribadi. Yang jelas dengan hasil jerih payahnya bukan karena dia orang berada. Dimulai kekepoannya terhadap dunia perkopian, berbagai macam dessert, serta desain-desain cafe yang cantik dan minimalis.
Satu hal lagi, kenapa Reandra ingin sekali punya cafe sendiri ? Baginya, cafe sangat bisa menghidupi banyak orang yang butuh pekerjaan. Selain itu, Reandra bisa bertemu keluarga baru, dan masih banyak lagi.
Membayangkan saja sudah membuat jantung Reandra menggebu-nggebu. Setelah lulus kuliah nanti, ia bertekad harus mewujudkannya.
Ya, meskipun keluarganya sangat tidak setuju, apalagi mendukungnya. Namun, tak mengapa, Reandra tetap semangat meraih mimpi.
Tanpa terasa waktu cepat berlalu. Saat zuhur tiba, Reandra sudah selesai dengan kelasnya. Sebelum pergi ke cafe, dirinya menyempatkan pergi ke kantin. Tenggorakannya kering sejak tadi. Kedua matanya agak perih, lantaran terus menatap ke layar LCD. Pokoknya dia butuh istirahat sejenak, sebelum kerja.
"Bund, air mineral satu, chiki ball satu."
"Nak, Andra ya?" ujar Ibu Emi—pemilik warung kelontong kampus. Ia biasa memanggil Reandra, Andra, saking seringnya Reandra beli jajan di situ.
Reandra mengangguk. "Masa lupa, Bund? Berapa semuanya?"
"Hehe, maklum 'kan sudah tua. Kayak nggak tau aja. Semuanya 8.000."
Reandra mengambil uang 2000 sejumlah empat lembar dari dompetnya.
"Nduk, ambil roti gih. Ibu kasihan lihat mukamu. Agak semrawut."
"Masa sih, Bu? Enggak ah." Cepat-cepat Reandra berkaca. Mungkin karena kondisi kedua mata lelah jadi merembet ke lainnya.
Bu Emi mengambilkan dua roti keju. "Ini, ambil. Terus dimakan. Jangan sampe anak kuliahan semrawut kayak gitu," ujarnya.
Reandra hanya tertawa. Ia jadi merindukan saat ibunya belum berubah. Di mana Reandra begitu diperhatikan, dipantau. Apalagi saat ujian nasional berlangsung. Reandra seakan kehilangan semuanya.
"Oke, sampun nggih Bu, kulo nyuwon pamit rumiyin."¹ Reandra menundukan kepala mengikuti kebiasaan orang Jawa ketika ingin berpamitan atau saat berpapasan.