"Ternyata, ada banyak hal yang belum gue pelajari. Salah satunya bersyukur dan sabar."
***
"K-kamu?"
"Hai, Kak! Kita ketemu lagi." Gadis berkerudung cream cokelat dengan corak boneka beruang itu melemparkan senyumnya sembari melambaikan tangan. Seperti biasa tumpukan buku tak bisa jauh dari tangannya. Kali ini ditambah satu tas laptop melingkar di lengan kirinya
"Eh iya. Kamu ngapain?" tanya Reandra agak gagu. Maklum, salah tingkah sedang melanda dirinya.
"Mau ke cafe Kala. Ngerjain tugas," jawabnya. Reandra hanya mengangguk sesekali memegangi tengkuknya.
"Arsya."
"H-hah? Gimana?"
"Pradita Arsyanendra. Itu nama lengkapku. Kakak siapa?" Dengan percaya diri gadis itu memperkenalkan diri.
"Gue Reandra Aska."
Arsya mengangguk tanda mengerti. "Arsya nama panggilanku ya, Kak. Kakak siapa?"
"Panggil Gue Reandra aja. Jangan-jangan kita seumuran lagi?" Reandra memastikan.
"Hem. Aku kelahiran 1998, Kak."
"Sama aja. Kita sama. Gue juga 98. Jadi, lo cukup panggil gue Reandra atau Ndra aja ya."
"Oke, Ndro eh Ndra, hehe." Arsya terkekeh setelahnya. Tanpa berjabat tangan Arsya dan Reandra saling memperkenalkan diri.
"Eh, kamu jadi masuk ke cafe?"
"Jadi dong. Ini mau masuk. Nunggu Reandra masuk juga."
"Ayo, kita masuk bersama saja." Keduanya masuk bebarengan.
"Mau pesan apa?"
"Kamu yang punya cafe ini?" Arsya sedikit terkejut. Terlihat dari kedua matanya membuka agak lebar.
"Doakan saja secepatnya, okei?"
"Jadi, kamu kerjanya apa di sini? Oh pasti yang ahli bikin coffee itu ya? Apa ya itu namanya?" Arsya mulai berpikir keras.
"Pegawai cafe coffee dongs! Nih lihat celemekku keren 'kan?" Reandra memperlihatkan celemek cokelatnya yang tampak biasa-biasa saja. Yang penting pede aja dulu, katanya.
Arsya mengangguk. "Baiklah. Mas Reandra, Arsya mau pesan Greentea Latte satu, donat warna pink satu, sama teh chamomile satu."
"Banyak banget."
"Iya, buat amunisi dong. Eh, nanti dianter ke kursi sebelah jendela itu ya. Yang ada stop kontaknya itu di tembok."