Payudaraku besar dan kenyal.
Oh, wow. Sepertinya aku jadi punya kebiasaan meraba dan memegangi payudara sendiri. Rasanya menakjubkan, meski aku tidak tahu apakah payudara ini asli atau implan. Mau bagaimana lagi, sepanjang yang kuingat payudaraku tidak besar, tidak juga terasa kenyal, bahkan mungkin bagi orang lain sudah tidak berbentuk. Lalu, mendadak aku punya payudara dan dipaksa berpikir apakah milikku ini asli?
Peduli setan. Bukan itu yang penting karena bagaimana aku bisa berpikir tentang payudara, kalau yang kuhadapi setiap hari di cermin panjang di depanku itu bukan wajah asliku. Aku bahkan mulai percaya kalau aku sudah mati dan arwahku gentayangan merasuki tubuh perempuan lain. Meski aku tidak terlalu paham perklenikan, bukankah hal semacam itu harus ada perantara atau dukun yang membantuku misalnya? Lalu di mana dukun itu? Sudah seminggu aku mendiami tubuh ini, tapi tidak ada orang pintar, dukun, atau semacamnya yang mendatangiku. Sehebat apakah arwahku sampai aku bisa merasuki seseorang lebih dari tiga hari?
Sialan. Apa artinya aku adalah arwah penasaran sekarang? Kalau iya, kenapa aku tidak ingat bagaimana aku mati?
"Chan, udah bangun lo?"
Pintu kamarku diketuk. Meski baru beberapa kali aku melihat wajahnya, aku tetap tidak terbiasa dengan kehadirannya. Perempuan rambut pendek, kurus, muka datar yang sepertinya sudah muak menjalani hidup, tapi nada bicaranya selalu berkesan memaksa.
"Tumben amat jam segini lo udah rapi. Biasanya kudu gue yang nyeret lo ke kamar mandi, nyisirin rambut lo, sekalian makein baju," guman perempuan itu. Siapa namanya ya? Kalau tidak salah, orang-orang menyebutnya Sasa. Aku tidak tahu nama panjangnya, mungkin Lisa, Anisa, Salma atau apalah. Nanti saja kucaritahu.
"Karena lo kalo datang ngomel terus, ya apa salahnya gue siap-siap duluan," jawabku asal-asal, masih berpura-pura santai seolah hal semacam ini wajar kulakukan. Ya, pikir saja sendiri, orang macam apa yang bangun saja harus dibangunkan paksa, dipapah ke kamar mandi, bahkan untuk menggosok tubuh sendiri harus memanfaatkan bantuan Sasa yang menggosok leher, punggung, dan sekujur tubuhku dengan sabun, bahkan membiarkan dia juga menggosok payudara bahkan bagian paling pribadi sekalipun.
Gila! Semalas apa pemilik tubuh ini sampai melakukan hal paling sederhana saja dia tidak bisa sendirian? Memangnya ini masih zaman feodal apa? Apa dia lebih penting dari putri keraton di masanya?
Tidak disangka, Sasa malah tertawa mengejek. "Lo? Bangun sendiri tanpa gue gedar-gedor? Dan lo bilang lo lakuin itu biar gue nggak ngomel-ngomel? Sejak kapan lo sepeduli itu sama gue?"
Ah, salah ternyata. Jadi hal seperti itu sudah jadi kebiasaan? Astaga. Jadi aku ini orang yang seperti apa? Bukan, seharusnya... pemilik tubuhku ini orang macam apa?
"A-aku cuma nggak pengen nyusahin orang lain. Yah, sesekali lah...." Aku masih berdalih.
Sasa masih menatapku, tampak tidak percaya sebelum akhirnya dia mengangguk.
"Oke. Jadi, sekarang lo udah sehat, kan? Waktunya kerja kali ini. Nih," ucap Sasa menyodorkan bundelan kertas yang lebih seperti buku yang dijilid.
Aku meraih bundelan kertas itu dengan perasaan sedikit ragu. Sudah lima hari aku berpura-pura sakit dan tidak mau keluar rumah. Sebenarnya bukan sepenuhnya pura-pura. Sudah jelas alasannya karena tubuh ini bukan milikku meski dulu aku pernah memimpikan memiliki tubuh yang indah dan semontok ini, ditambah wajahku yang sekarang juga bukan wajahku yang seharusnya. Aku harus bagaimana jika aku memaksakan diri keluar dan bertemu orang-orang yang mengaku mengenalku, tapi aku baru pertama kali melihat wajah mereka?
Di hari pertama aku menyadari jiwaku menempati tubuh yang asing, aku masih merasa ini semua mimpi dan seharian aku hanya tidur seperti orang mati, berharap mimpi aneh ini akan berlalu. Saat itu rasanya sekujur tubuhku memang terasa sakit, ditambah kepalaku terasa berdentam-dentam yang membuatku hanya bisa tidur sepanjang hari. Namun, setelah berhari-hari, aku pun tidak ingin melakukan apa-apa. Sayangnya, tidak ada yang berjalan sesuai harapanku. Mimpiku belum selesai, atau bisa jadi ini semua bukan mimpi, entah mana yang benar.
Jika bisa kurangkum, inilah yang kutahu sepanjang lima hari aku hidup sebagai gadis cantik usia dua puluhan bertubuh aduhai ini.
Namaku—atau nama pemilik tubuh ini adalah Stevia Chaniago. Tadinya aku menduga itu bukan nama asli, tapi setelah melihat seluruh informasi keuangan dan perbankan yang ada di ponselnya, aku harus percaya namanya memang asli meski sampai sekarang aku belum melihat kartu identitasku sendiri. Kuduga mungkin Sasa yang menyimpannya. Dari obrolanku dengan Sasa, aku menyimpulkan kalau Chani adalah seorang aktris muda, mungkin pendatang baru karena sepak terjangnya belum lama. Umurnya 21 tahun. Dia anak orang kaya. Kuulangi, Chani anak orang yang sangat kaya karena dia terbiasa dilayani dan semua orang tidak berani melawan ucapannya, kecuali Sasa yang kutahu adalah manajernya. Mungkin sebelumnya mereka berteman karena selain Sasa, tak ada yang berani menyindir atau mengomelinya. Chani hanya lulusan SMA Internasional. Yah, siapa yang butuh sekolah tinggi-tinggi jika tanpa bekerja terlalu keras saja dia sudah tinggal di rumah sebesar ini, dengan pengurus rumah yang jumlahnya lebih dari tiga, tanpa kehadiran orang tua.
Dari ponsel Chani yang bisa kubuka dengan sidik jariku, dan menggabungkan keahlian mencari informasi seseorang berdasarkan nama dan wajah melalui kecanggihan teknologi, aku mengetahui beberapa info singkat terkait Chani. Ayahnya pengusaha tambang batubara, ibunya seorang guru besar di sebuah universitas bergengsi, dan tiga kakak-kakaknya sudah lulus kuliah dan meniti karir yang tidak kurang bergengsi dibandingkan orangtuanya. Kakak lelaki tertua menggeluti bisnis properti, kakak kedua perempuan seorang pengacara sukses, dan kakak ketiga lelaki seorang reporter TV sekaligus pengusaha kuliner. Benar-benar keluarga yang tidak pernah merasakan sengsaranya kemiskinan sepanjang hidup mereka.
Dengan semua spek hebat orangtua dan kakak-kakaknya, entah bagaimana mereka mengizinkan anak bungsunya hanya lulus SMA dan menjadi aktris yang kurang terkenal.
"Kenapa ngelamun? Baca dong!" sentak Sasa yang melihatku hanya memandangi bundelan itu, sibuk dengan pikiranku sendiri.