Sukma Niskala

Handi Namire
Chapter #2

2. Sengatan Kehidupan

Kurasa kau perlu tahu siapa aku sebelum aku menjadi jiwa merana yang mengembara dan akhirnya mendiami tubuh seorang gadis muda.

Aku cuma seorang ibu yang hampir separuh hidupku bergulat dengan biologi tubuhku sendiri yang tak pernah bisa berkompromi denganku. Enam bulan lalu aku dipaksa mengucapkan selamat tinggal pada rahimku, dan mengalah pada kanker sialan yang menguasainya seolah dia adalah penguasa baru yang menandai wilayahnya dengan benjolan-benjolan jelek menjijikkan. Segala upaya diet telah kucoba, bahkan meminum herbal yang rasanya mungkin seperti racun tikus. Namun, pada akhirnya aku tidak sanggup lagi menanggung rasa sakit jika datang bulan tiba, aku juga tidak ingin terus-terusan masuk IGD dan menerima sokongan darah yang mengalir lewat pembuluhku, membuat badanku demam dan seperti orang sekarat selama beberapa hari. Kukira yang terburuk adalah rasa sakit pasca operasi yang harus kutanggung selama beberapa bulan pemulihan, ternyata itu semua hanyalah prolog sebelum rasa sakit yang sebenarnya dimulai.

Rasa sakit yang betul-betul mematikan adalah, mengetahui bahwa suami yang kau inginkan menjadi tempat sandaran dan penghiburan di tengah-tengah perjuanganmu melawan penyakit mematikan, mendatangimu di suatu siang di saat dirimu baru selesai menjalankan satu sesi kemoterapi dan mengatakan:

"Aku ingin bercerai."

Sungguh, kuakui betapa cerdas lelaki itu meminta sesuatu yang tidak akan bisa kulawan atau kutolak. Tidak saat sudah tidak ada lagi tenaga untuk marah, seiring juga tidak ada lagi rambut di kepalaku yang tersisa karena rontok parah setelah beberapa kali sesi kemoterapi. Aku tidak ingin bertanya alasannya, karena pasti rasanya sangat menyakitkan jika aku mendengarnya langsung, sementara aku tahu benar apa yang ada dalam hatinya saat mendampingiku berjuang melawan kanker.

Suamiku menginginkan anak. Lagi.

Anak yang kedua karena anak pertama kami lahir dari sebuah kehamilan tak disengaja ketika kami masih belum puas menjalani masa muda. Saat kami berusaha menjalani program hamil, aku harus menerima kenyataan bahwa rahimku sudah melewati masa primanya karena setelah sepuluh tahun mencoba untuk hamil lagi, dokter malah menemukan ada kista endometriosis dan miom di sana. Atas sarannya, demi bisa menimang bayi lagi di pangkuanku, aku menjalani operasi laparoskopi untuk menghilangkan miom dan kista sebelum memulai program kehamilan. Kupikir aku hanya akan menderita sebentar, tapi ternyata ujianku masih belum berhenti. Hasil lab setelah operasi menunjukkan ada keganasan yang membuatku harus merelakan kesempatanku untuk punya anak lagi karena dokter menyarankan aku harus angkat rahim supaya kanker tidak menyebar.

Aku sampai tidak habis pikir, keinginanku yang menggebu-gebu untuk memiliki anak kedua harus digantikan dengan upayaku berperang melawan waktu sebelum sel kanker menjadi benalu selamanya. Dua tahun, aku menunda operasi pengangkatan rahim dan hanya menjalani kemoterapi. Dua tahun pula aku membohongi diri sendiri bahwa aku baik-baik saja dan sehat seperti perempuan lain sebagaimana mestinya. Dua tahun aku belum ingin menyerah mendatangkan adik untuk Katrina, putri pertamaku. Karena sungguh, bagaimana bisa perempuan sehat yang tidak pernah absen jogging dan yoga, dan tidak suka makanan junk food justru menjadikanku pesakitan?

Beginikah cara kerja kanker? Seperti tiket lotere yang tidak memandang siapa saja? Hanya saja, alih-alih gembira, yang mendapatkannya justru akan terus-terusan merana. Sampai akhirnya kemoterapi saja dianggap tidak cukup dan tetap saja dokter menyarankan rahimku diambil demi kualitas hidup yang lebih baik karena aku tidak sanggup terus-menerus menjalani transfusi karena pendarahan yang tidak sedikit.

Perceraian kami berjalan cukup cepat dan lancar untuk seorang suami yang sudah menghamili perempuan lain di saat istrinya berjuang melawan sakit. Mungkin pada dasarnya, orang-orang di sekitarku memang lebih mudah bersimpati dengan suamiku ketimbang dengan penderitaanku. Suamiku layak mendapatkan yang lebih baik karena dia seorang diri menjadi pencari nafkah dalam keluargaku dan bukan kebetulan pula keluarganya begitu terhormat di mata tetangga, bahkan keluargaku. Ditambah wajahnya teramat rupawan, tubuh ideal dan masih populer di kalangan wanita. Sekali lihat, orang akan menyadari betapa dia terlihat jauh lebih muda dibandingkan aku yang sudah seperti kakak atau bahkan ibunya dengan bentuk tubuh yang sudah tidak menarik karena hanya tergolek di ranjang.

Dibandingkan suamiku yang sempurna di mata siapa saja, aku cuma mantan penari gagal yang sudah tidak laku, bukan karena sudah tidak lincah—waktu itu aku masih rajin jogging dan pilates, ingat? Tapi kenyataannya penari tradisional sudah tidak banyak dibutuhkan, ditambah, karena program hamil dan pengobatanku, aku semakin menjauh dari acara-acara panggung budaya ataupun kesenian. Sekolah pun lebih menyukai tari modern atau olahraga sebagai kegiatan tambahan siswa, maka praktis jam mengajar tariku terus berkurang. Cahayaku perlahan meredup, dan aku semakin tidak tahu caranya menghasilkan uang.

"Kasihan, suaminya sudah tidak bisa mendapatkan kepuasan karena istrinya terus-terusan sakit."

Lihat selengkapnya