Sukma Niskala

Handi Namire
Chapter #3

3. Menumpuk Kebohongan

"Udah dong, nangisnya! Lo kenapa sih tiba-tiba nangis, nggak ada angin nggak ada hujan?" tegur Sasa yang menyodorkan tisu untukku saat kami berada di dalam mobil van mewah yang menjadi kendaraan kami sehari-hari.

Aku masih berusaha keras menyeka air mataku yang kini seperti keran bocor. Tangisanku agaknya memang terlambat karena dengan mudahnya kesedihanku terdistraksi dengan Sasa memaksaku untuk mengikuti audisi yang sudah dijadwalkan. Selama beberapa jam lalu aku sibuk dengan pikiranku yang berusaha meyakinkan semua orang di sekitarku bahwa aku adalah Chani—yang berusia 21 tahun dan bukannya janda tua pesakitan berusia empat puluhan—dengan melakukan audisi yang diinginkan Sasa. Berjam-jam menahan amarah dan kekecewaan yang membuatku sesak sungguh tidak mudah. Hingga setelah semuanya selesai, aku sudah tidak bisa menahan tangis.

Sungguh, seandainya aku tidak menempati tubuh ini, sebagai orangtua yang kehilangan putrinya yang telah tiada karena bunuh diri, aku pasti sudah menghampiri Chani, menamparnya—tidak, mungkin aku akan menghajarnya, lalu meneriakinya habis-habisan sebelum akhirnya aku menyeret dan menjambak rambutnya untuk kupermalukan di jalanan. Aku bersumpah, akan kubuat seluruh dunia tahu bahwa ada aktris jahat yang sengaja berusaha menghancurkan hidup aktris muda lain hanya karena iri dan sok kuasa. Sepanjang mobil ini berjalan, aku berusaha tidak melukai kulitku sendiri dengan kuku tajamku di tangan yang mengepal kuat.

"Jadi gimana? Sejak lo keluar dari audisi, lo belum jawab pertanyaan gue. Mereka mau kan, kasih lo peran utama?" todong Sasa untuk kesekian kalinya setelah aku mengabaikan pertanyaan dia sejak keluar dari gedung production house.

Aku menyeka air mataku dengan tisu, menenangkan emosiku yang terlalu meluap. Berita buruknya, aku tidak bisa sembarangan melampiaskan emosiku dan berita baiknya, putriku masih hidup karena peristiwa bunuh diri itu belum terjadi. Ya, itulah satu-satunya alasan yang mencegahku mencekik leher Sasa si provokator, karena aku baru menyadari hari ini, bulan ini dan tahun ini adalah setahun sebelum peristiwa tragis itu merenggut nyawa Katrina.

"Mereka nggak ngasih gue peran utama," jawabku datar.

"What? Nggak mungkin! Gue udah kontak casting director dan dia bilang bersedia gantiin Katrina dan milih elo setelah gue transfer uang yang gue janjiin ke dia."

Dasar licik.

"Gue... lebih tertarik dengan peran lain, Sa. Peran Marina, teman si tokoh utama yang nusuk temennya dari belakang. Jadi gue nolak audisi buat tokoh utama dan milih audisi jadi Marina."

Sontak, Sasa melotot ke arahku. "Lo bego apa? Lo tahu sendiri itu kan peran jahat!"

Persis kalian, bukan? Batinku kesal.

"Tahu kok, tapi itu lebih masuk akal ketimbang gue harus sabotase peran yang udah jadi milik orang lain," dalihku.

"Sabotase lo bilang? Nggak usah sok suci deh. Udah jelas itu cara paling cepat supaya lo bisa tenar, Nyet. Kalau lo milih jadi pemeran jahat, nama lo bisa jelek dan nggak ada yang simpati sama lo. Lo makin nggak laku nanti!"

Aku menghela napas. Sepertinya lima hari adalah batas kesabaranku menghadapi Sasa yang ucapannya kasar dan sok kuasa.

"Memangnya lo bisa ngeramal, Sa? Lo bakal yakin kalau peran itu bakal jatuh ke gue sekalipun gue nekat audisi jadi peran utama?"

Setahun dari sekarang, peran itu tetap milik Katrina karena aku sudah sering menonton drama yang ternyata adalah drama yang sama yang dulu sering kutonton saat sedang mencari penghiburan setelah perceraianku. Aku tahu karena judul resminya bukan RAHASIA TERAKHIR, melainkan TEKA-TEKI CLARA. Aku pun baru tahu setelah membaca sinopsis global yang dilampirkan di dalam naskah audisi.

"Ini bukan soal gue bisa ramal atau nggak, tapi—"

"Sa, gue punya utang sama lo?"

"Apa?" Sasa tampak kebingungan.

"Atau keluarga gue pernah berutang sama keluarga lo? Ingetin gue kalau gue lupa, tapi apapun yang terjadi di masa lalu, gue nggak suka lo ngomong kasar ke gue. Nggak usah lo sok-sokan perintah-perintah gue, paham?" ucapku bernada dingin.

"L-lo ngomong apa sih? Kenapa lo tiba-tiba jadi aneh gini?"

"Kalau lo nggak suka, gue juga nggak mau maksa lo kerja buat gue. Segampang lo resign, dan gue cari manajer baru yang omongannya lebih sopan," ucapku bernada mengancam sekalipun aku tidak mengucapkannya keras-keras. Peduli setan jika Sasa menganggapku aneh. Suka atau tidak suka akulah yang berkuasa di tubuh Chani, bukan gadis kecil pengecut licik yang bahkan bisa dipermainkan manajernya sendiri.

"Chan! Maksud lo apa sih?" Sasa makin nyolot dan tidak terima dengan ancamanku.

"Maksud gue, lo boleh jadi manajer gue dan catat semua tawaran job yang masuk buat gue, lo juga boleh kasih saran, tapi gue nggak terima lo maksa-maksa gue atau ngatain gue karena keputusan yang gue mau nggak sejalan sama keinginan lo. Lo cuma manajer, Sa. Bukan emak atau bapak gue!" sahutku, berusaha tetap terlihat tenang meski aku sedikit was-was dengan reaksi Sasa.

Aku bukan orang yang suka ribut, tapi aku juga kesal jika ada orang lain yang tidak punya rasa hormat pada lawan bicaranya.

"Lo bener-bener nggak waras, Nyet!"

"Chani."

"Apa?"

"Panggil gue Chani, bukan 'Nyet'."

Sasa membuang muka cepat, tampak dia pun tidak bisa menahan amarah, gatal ingin membalasku.

"Gue aduin sikap lo ini sama Bang Rilan. Lihat aja!"

Aku mendongak, berpikir keras siapa Bang Rilan yang dimaksud Sasa. Lalu, aku teringat dengan foto keluarga Chani di ruang tamu dan pesan-pesan yang sering diterima Chani di ponselnya. Satu orang yang sering berkirim pesan dengan gadis ini dan kerap menanyakan kabar job Chani adalah Rilan dengan foto profil yang mirip dengan salah satu anggota keluarga di foto keluarga itu. Memang apa hubungannya Sasa dengan Bang Rilan?

"Gue. Nggak. Peduli. Lo nurutin kemauan gue, atau besok lo nggak usah jadi manajer gue lagi."

Mobil van hitam ini sudah membelok ke rumah Chani—yang sekarang adalah rumahku tentunya, dan berhenti di depan teras. Aku melenggang keluar dari mobil dengan angkuh, sedikit memberi kesan tangguh supaya Sasa tidak seenaknya meremehkanku.

Biar Tante ini mendidikmu sedikit, anak muda.

Lihat selengkapnya