Sukma Niskala

Handi Namire
Chapter #4

4. Membaca Luka

TEKA-TEKI CLARA.

Seperti kaum milenial lain yang tidak pernah peduli tren terkini seputar musik yang sedang populer atau aktris yang tengah mendapat sorotan, aku pun tidak pernah peduli dengan para pemain sinetron yang dipenuhi aktor dan aktris muda kecuali Katrina yang sudah jelas bagiku dia adalah pusat gravitasi duniaku. Namun, tidak ingat nama bukan berarti aku tidak bisa mengenali wajah seseorang. Terakhir aku nonton sinetron itu sebelum jiwaku berpindah tempat, episodenya sudah sampai delapan puluhan dengan jam tayang nyaris setiap hari. Aku nonton sejak episode pertama karena selain tayang di TV, sinetron itu juga bisa ditonton ulang di platform OTT paling bergengsi. Sedikit picisan, tapi ceritanya lumayan bikin ketagihan, mungkin karena cerita romansa bukan satu-satunya genre yang disuguhkan untuk penonton, tapi juga ada aksi laga dan misteri pembunuhan.

Dan sepanjang aku menonton, aku tidak ingat apakah wajah Chani ada dalam deretan pemerannya. Nope, bukan tidak ingat, tapi aku yakin aku belum pernah melihat wajah Chani beradu akting dengan Katrina. Setidaknya jika Chani memiliki ambisi sebesar gunung untuk mengalahkan Katrina dan selalu dikenal orang sebagai saingannya, bukankah seharusnya dia mendapatkan peran dalam sinetron itu?

Sampai aku masuk ke tubuh ini, aku sungguh belum pernah melihat wajah Chani muncul di mana-mana. Jadi, apa yang terjadi?

Tak peduli seberapa keras aku mengingat-ingat, aku tidak menemukan petunjuk apapun. Chani didorong oleh seseorang jatuh dari tangga tepat sebelum aku mengambil alih tubuhnya. Mengingat bagaimana aku terbangun dalam tubuh Chani dalam keadaan terbaring di tempat tidur, sepertinya luka yang dialami Chani tidak terlalu parah. Tapi jika benar dia memang tidak terluka parah, kenapa aku tidak pernah melihatnya dalam drama Teka-Teki Clara? Jika aku yang sekarang mengambil alih tubuh Chani, lalu di mana jiwa Chani berada?

Aaaarghh... Aku benar-benar tidak mengerti kenapa hal seabsurd ini terjadi padaku.

Kebingunganku sementara terinterupsi dengan hadirnya seseorang yang sudah lama kunantikan dari pertemuan para aktor dan juga kru drama dalam acara script reading sebelum syuting resmi dimulai.

Katrina Olivia.

Seketika semuanya sudah tidak berarti lagi saat gadis kecilku itu muncul di depanku dengan senyum ramah mengembang yang membuat siapapun sontak menghentikan aktivitasnya demi menikmati kecantikannya. Penampilannya begitu segar dan tampak kasual dengan rambut terurai dan blus longgar tanpa lengan berwarna hijau lembut. Rambutnya diwarna cokelat gelap, tampak luar biasa cantik dengan kulit yang terlihat cerah--kontras dengan imej gadis lokal yang kerap ditampilkan di media. Kulit aslinya bahkan tidak segelap itu, tapi make up dan pencahayaan film bisa mengubah gadis secantik ini menjadi suram seperti tak tersentuh kosmetik atau skincare. Aku tahu itu karena aku ibunya, tapi tetap saja melihat putriku yang secantik dewi dalam kisah dongeng membuatku mengalami starstruck parah.

Semua yang hadir di ruangan ini kompak berdiri untuk menyambutnya, saling bertukar cium pipi dan kanan, dan menyapa atau sekadar berbasa-basi, seperti "lama ya, kita nggak ketemu" atau "gila, kamu makin cantik aja". Suasana di meja reading yang tadinya muram kini tampak cerah dengan kehadiran Katrina.

Aku menunggu Katrina menghampiriku, seperti yang kukira saat dia bergantian menyapa semua aktor dan kru film yang ada di sini. Lenganku bahkan siap terulur untuk menyambut kehangatan senyumnya, sampai aku menyadari saat melihatku, Katrina sama sekali tidak tersenyum. Tatapan matanya tampak waspada, dan meski terlambat akhirnya aku menyadari satu hal penting yang membuatku lupa:

Aku bukan Frida, ibunya, tapi Chani, saingannya yang paling dia benci.

Seketika aku mematung, berpikir keras bagaimana aku harus menyapanya. Apa yang dilakukan Chani jika dalam situasi semacam ini? Apakah dia terang-terangan memusuhi Katrina atau bersikap ramah seolah hubungan mereka baik-baik saja. Ya, kuyakin Chani tidak sebodoh itu memperlihatkan permusuhan terang-terangan.

"Hai, Katrina... Cantik banget deh. Akhirnya ya, kita bisa ketemu lagi," ucapku seraya mengulas senyum lebar dengan dengan senang hati mendekatkan pipiku ke wajahnya, dan bergaya cipika-cipiki seolah kami sahabat dekat. Mungkin Katrina mengira sikapku ini dibuat-buat, tapi peduli setan. Aku terlalu senang bertemu dengannya lagi setelah malam tragis saat aku menerima kabar putri cantikku ini sudah tidak bernyawa karena bunuh diri.

Katrina dengan canggung, menerima keramahanku dan gestur tubuhnya tampak tidak nyaman.

"H-hei, Chani...."

Kecanggungan terlihat dari sorot matanya saat dia buru-buru melepas pelukanku.

No, no, no... jangan dulu. Aku masih belum puas....

Sayangnya, Katrina memanfaatkan kedekatannya dengan aktor lain demi mengalihkan pandangannya dariku. Seketika aku merasa seperti patah hati.

"Gue kira lo benci sama dia. Bukannya biasanya kalian nggak pernah rukun?" ucap seseorang yang bahkan aku tidak tahu sejak kapan dia duduk di sebelahku. Lelaki, umur sekitar awal tiga puluhan atau akhir dua puluhan mungkin, berpenampilan santai dengan kemeja biru gelap dan jins hitam. Kakinya terlihat panjang, meski cara duduknya terlalu santai, dan wajahnya meski bukan yang terlalu tampan seperti aktor pada umumnya, tapi dia jelas terlihat menonjol. Aneh, padahal aku belum resmi mengenalkan diri, tapi orang ini memberi kesan seolah dia mengenalku.

Tunggu, apa aku mengenalnya? Kalau dia ada di ruangan pembacaan naskah, itu artinya dia juga seorang aktor, bukan?

"Kamu... ngomong sama aku?" tanyaku yang buru-buru menengok ke sekitarku, memastikan bahwa orang itu benar-benar bicara denganku, dan bukan yang lain.

"'Kamu'? 'Aku'? Lo... nggak kenal gue?"

Aku makin tidak paham.

"Harus ya, aku mesti kenal semua orang di ruangan ini? Acara pembacaan naskah belum dimulai, dan belum ada perkenalan resmi juga. Kenapa kamu harus ngerasa special cuma karena aku nggak kenal kamu?"

Bukannya membalas, lelaki itu justru menatapku seolah aku ini keajaiban dunia. Dia menggeleng ragu sampai akhirnya tersenyum menikmati kebingunganku.

"Sori, aku... bukannya sengaja nggak kenal kamu atau apa," ucapku meralat sendiri kalimatku sebelumnya. "Aku cuma... sedang nggak sehat setelah mengalami kecelakaan. Ada benturan di kepalaku yang bikin aku—"

"Aku sudah tahu. Rilan udah cerita soal itu," sahutnya. "Tapi yah, aku tetep nggak nyangka kamu nggak mengenaliku." Aku lumayan takjub dengannya yang langsung mengubah gaya bicaranya mengikuti tutur bicaraku yang sedikit formal.

Tunggu, Rilan? Laki-laki ini kenal Rilan? Memangnya dia ini siapa?

"Rilan? Memangnya apa hubungan kamu sama dia?"

Lihat selengkapnya