"Harusnya kamu terima aja tawarannya. Bukannya kamu memang pengen cepet populer? Sutradara sendiri yang nawarin kamu peran utama, malah kamunya sok-sokan nolak."
Satu hal yang kubenci tentang Vigo, lelaki yang sekarang menjadi manajer baruku, adalah karena dia cerewet dan merasa paling tahu segalanya.
"Aku juga dengar dari Sasa, kamu bayar casting director untuk mindahin peran Clara buat kamu, kenapa malah kamu berubah pikiran? Kalau mau jadi jahat, kenapa harus setengah-setengah?" ucapnya lagi, yang kali ini membuatku tidak tahan ingin menghajarnya. Sayangnya, saat ini Vigo bukan prioritasku karena aku butuh menjelaskan situasi kacau ini di hadapan Katrina.
"Katrina!" seruku, memanggil gadis itu yang beranjak pergi dari ruangan konferensi. Aku mengejarnya melewati lorong gedung, mengabaikan tatapan penasaran sosok-sosok yang melihatku panik dan menghampiri Katrina.
Katrina menghentikan langkahnya, berbalik dan menatapku dengan sorot mata datar. Padahal dia datang dengan ekspresi yang memancarkan keceriaan, tapi pergi begitu saja dengan wajah masam yang ironisnya akulah penyebabnya.
"Kat, aku—gue minta maaf, gue serius nggak pernah punya pikiran buat ngerebut peran lo," ucapku tanpa basa-basi lagi.
"Gue nggak peduli, itu urusan lo. Kenapa juga lo mau minta maaf segala? Kalau lo ngelakuin segala cara buat dapat peran dan lo ngemis ke sutradara sebelumnya, itu pun bukan urusan gue," sahutnya sinis. Bahkan sosok di sebelahnya—yang sepertinya adalah manajernya—juga menatapku dengan pandangan tidak suka, makin memperburuk situasi.
"Gue nggak ngemis peran ke sutradara. Lo liat kan, tadi gue nolak tawaran dia dan gue tetep stay jadi Marina, bukan Clara."
"Terus, lo pikir gue harus berterima kasih sama lo? Kalau lo sepengen itu gantiin gue, terima aja tawarannya, gue nggak peduli!"
Katrina berbalik pergi, tapi aku buru-buru menarik lengannya.
"Kat, tolong jangan salah paham. Gue emang nggak pengen jadi Clara, bukan soal gue—"
"Lo kenapa sih? Kenapa lo mesti jelasin ini ke gue? Lo lagi ngerencanain hal licik apa lagi ke gue?" Katrina mendekat hingga mata kami berhadapan sejajar. "Lo selalu nyari alasan buat jatuhin gue, lo selalu nempelin gue kayak hama dan gue selalu diam. Lo nusuk gue dari belakang pun gue udah biasa. Kenapa lo susah-susah jelasin semua ini, hah? Berharap gue nggak benci sama lo? Itu nggak mungkin, Chan."
Aku menahan napas saat Katrina mencondongkan tubuhnya dan berkata di dekat telingaku, "Selamanya, lo itu menjijikkan buat gue."
Tanpa ampun, Katrina menyenggol bahuku seolah sengaja menabraknya, lalu berlalu pergi dengan langkah yang meyakinkan. Melihat betapa dingin sikapnya dan sinis tatapannya, aku menyadari sesuatu yang akhirnya menghantam kesadaranku. Katrina bukan lagi Katrina yang kukenal. Dia bukan lagi anak manis yang selalu haus pengakuan dan selalu ingin dipuji setiap saat. Gadis itu bukan lagi Katrina yang percaya diri bahwa jalan menuju mimpi akan dipenuhi tantangan yang menyenangkan, juga mendebarkan.
Yang berada di depanku kini, adalah Katrina yang dingin dan sinis pada kehidupan yang memberinya tekanan. Dan karena takdir yang aneh, aku muncul di hadapannya sebagai sosok yang paling membuatnya jijik.
Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang ibu, melihat putrinya menatap mata ibunya dengan sorot mata kebencian. Jika seperti ini, bagaimana aku bisa hidup mencintai sosokku yang berada di tubuh ini?
Chani, apakah kau yang telah membuat putriku sebegitu menderita?
***
Aku belum pernah melihat kebencian seseorang disampaikan sefrontal itu. Sejak dulu aku terbiasa bersikap toleran pada banyak hal, pun jika aku menyaksikan hal yang kubenci terjadi di dekatku, aku tidak semudah itu terpancing. Membuat kegaduhan adalah hal terakhir yang ingin kulakukan, selagi aku bisa bicara, aku terbiasa berusaha membicarakan jika aku mengharap seseorang berubah pikiran. Jika tidak, aku lebih memilih untuk mendiamkannya karena aku yakin aku tidak cukup punya energi untuk mendebatnya terang-terangan atau menghinanya tepat di depan muka. Kadang, aku pun tidak mengerti karakterku memang seperti itu, atau aku memang belum berhadapan dengan sesuatu yang sangat memuakkan hingga aku harus meneriakkan kebencianku secara langsung dan sekeras itu, seperti yang dilakukan Katrina padaku—pada Chani tepatnya.
Dengan kebiasaanku yang seperti itu, kupikir putriku juga akan melakukan hal yang sama. Atau, apakah aku tidak cukup mengenalnya?
Apa yang diperbuat Chani begitu keterlaluan hingga Katrina membencinya? Jika iya, apa hal itu hanya hal-hal yang berkaitan dengan Chani yang berusaha menyabotase karirnya?
"Apa kepalamu memang terbentur begitu keras?" tanya Vigo tiba-tiba selagi dia menyetir mobilku. "Aku nggak tahu kenapa, tapi rasanya kamu kayak seseorang yang beda? Apa karena sudah bertahun-tahun aku nggak melihatmu?"
Aku menghela napas, baru ingat selain Katrina ada satu orang lagi yang membuat kepalaku lebih pening dibandingkan biasanya.