Nyaris sebulan aku menjalani hidup sebagai Chani, aku masih tetap tidak mengerti dunia entertainment yang dalam kenyataannya banyak praktik yang kacau di mana-mana, saat nyaris semua orang mempertaruhkan harga diri mereka demi uang dan popularitas. Ini membuatku mengamini celetukan netizen yang sering mengatakan hidup menjadi selebritas artinya popularitasmu ditentukan dengan seberapa banyak kau mampu membuat sensasi, bukan hanya prestasi. Termasuk juga Chani, yang lebih dulu dikenal lewat sensasinya sebagai artis pendatang baru yang super kaya raya dan barang-barang mahal yang dikenakannya. Sensasi yang ditimbulkannya makin bertambah setelah perseteruannya dengan Katrina naik ke permukaan. Dan sekali lagi keterlibatan Chani—yang juga adalah aku—diterjemahkan sebagai upayaku untuk menyaingi Katrina, atau yang lebih buruk, berusaha menjatuhkan Katrina. Begitulah beberapa headline yang kubaca dalam artikel di internet tentang aku.
Apakah aku peduli? Tidak, tapi yang jelas Katrina menganggap artikel-artikel itu adalah kebenaran mutlak yang membuat kehadiranku terasa seperti hama baginya. Tidak peduli berapa kali aku mencoba membuka percakapan, atau berbicara dengannya saat rehat di sela-sela syuting, Katrina tetap bersikap tidak ramah, bahkan terang-terangan memusuhiku.
Namun, berlawanan dengan sikap Katrina, pemeran lain justru kelewat ramah padaku, bahkan aktor senior sekalipun. Tampaknya mereka menyadari bahwa di antara banyak aktor dan aktris baru, aku bukanlah seseorang yang bisa mereka musuhi sembarangan. Yang mengejutkan, ini ternyata menjadi keuntungan yang mau tidak mau harus kusyukuri. Masalahnya, aku hanya tidak menyangka mereka betul-betul bermuka dua dan terus-menerus menghina Katrina di depanku. Seperti Dinar, salah satu aktris yang kini memerankan sahabat baikku.
"Lihat tuh, si anak kesayangan sutradara, hepi banget kayaknya habis dipuji setelah adegan berkuda. Adegannya udah bagus, si sok perfeksionis itu sendiri malah minta adegan diulang, alasannya 'aku kayaknya nggak yakin kalau adegan tadi udah bagus. Harusnya bisa lebih maksimal lagi. Boleh ya, bang diulang aja?'." Dinar mengejek ucapan Katrina dengan memiringkan mulutnya meniru kalimat gadis itu.
"Sok iye banget sih, nggak mikir apa kalau kita udah capek panas-panasan di sini?" gerutunya kesal.
Saat ini hari ke-20 syuting dan semua aktor dan kru diboyong ke Lembang, satu jam dari kota Bandung. Tepatnya di Cikole demi mengambil adegan berkuda di private club yang dilakukan tokoh utama pria yang diceritakan berasal dari keluarga konglomerat
"Kalau lo sadar tindakan seseorang itu ngaruh buat semuanya, harusnya lo juga mikir juga waktu lo bilang mau misah dari rombongan dan milih berangkat sendiri ke Lembang. Ujungnya lo jadi telat dan bikin kami semua lama nungguin lo buat adegan kita," balasku. Satu hal yang membuatku bersyukur menempati tubuh Chami adalah, tidak peduli seberapa pedas omonganku, orang lain tidak akan sembarangan melawanku.
"Ya itu kan nggak bisa disamain, Chan. Gue emang ada urusan penting," sahutnya membela diri.
"Urusan penting? Kita semua punya urusan penting, Nar. Gue juga punya, tapi gue tetep on time datang ke tempat syuting. Urusan penting lo juga bukan yang lo omongin dari jauh-jauh hari, tapi dadakan dan nggak jelas. Kita semua udah nyampe Bandung, lo sibuk kelayapan dan nggak langsung naik ke Lembang. Terus lo ngerasa lo lebih baik dibanding Katrina? Kok bisa?"
"Lo kenapa sih, Chan? Gue lagi nggak pengen deh ribut sama lo. Gue cuma curhat soal Katrina. Kenapa lo tiba-tiba belain dia?"
Aku menghela napas. Tentu saja aku bela Katrina karena dia sama sekali tidak bersalah, malahan sikapnya justru membuatku kagum dengan dedikasinya dengan profesi yang dia jalani.
"Seinget gue, lo biasanya malah lebih jahat sama Katrina. Gue dengar lo sampe hampir ngerebut pacarnya yang bikin hubungan mereka putus," lanjut Dinar lagi, yang kali ini membuatku menoleh ke arahnya.
"Lo ngomong apa?"
"Apalagi? Soal hubungan lo sama Jeremy Victor lah. Lo deket sama dia pas dia masih pacaran sama Katrina, kan?"
Ya tuhan, siapa lagi itu?
"Gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Nggak ada gue ngerebut siapa dari siapa, lo nggak usah bikin gosip sendiri deh," protesku. Aku memutuskan menangkis ide rumor murahan itu sebelum mencari tahu siapa Jeremy Victor, karena bagaimanapun, sekalipun rumor itu benar, aku tetap ingin menjaga nama baik putriku sendiri.
Namun, Dinar tetap saja terlihat tidak peduli. "Yah, terserah lo mau ngomong apa, tapi gue nggak bego, Chan. Jadi, nggak usah lo jadi sok suci belain si lonte itu. Biar apa? Biar lo lebih dilirik sutradara? Percuma aja, sutradara udah kene pelet lonte itu. Biar kata lo pernah ditawarin jadi peran utama, Katrina justru makin nekat cari muka biar lo nggak dapat kesempatan buat ngerebut perhatian sutradara. Paham lo?"
Aku terdiam. Pada dasarnya berurusan dengan orang yang sudah terjangkit iri dengki sama halnya dengan berdebat lewat suara dengan orang tuli. Semua karena kami tidak berada dalam frekuensi dan pemahaman yang sama.
Sayangnya, saat ini yang berpikiran buruk pada Katrina bukan saja Dinar. Aku yakin pemikiran semacam ini sudah ada dari sejak syuting hari pertama, entah siapa yang mencetuskannya. Namun, jika boleh jujur situasi syuting semacam ini memang tidak menguntungkan bagi siapapun, termasuk aku yang kewalahan dengan segala segala kekacauan syuting produksi sinetron.
Saat pembacaan naskah dan briefing sebelum syuting dimulai, kru produksi sudah menjelaskan bahwa tayangan drama Teka-Teki Clara bukan sinetron striping, setidaknya mereka mengatakan "belum" akan menjadi sinetron striping untuk saat ini. Ini karena mereka terikat dengan kontrak salah satu platform OTT bahwa 50-episode pertama, hak tayangnya sudah dibeli oleh platform untuk menjangkau distribusi yang lebih luas. Tim produksi berkeinginan menjaga kualitas tayangan dengan menghindari syuting striping yang biasanya memiliki jadwal terlalu padat dan jam syuting asal-asalan. Setidaknya, itulah komitmen mereka yang berjanji akan menjaga jam syuting tetap ramah dan tidak akan memaksa aktor dan aktrisnya menjalani syuting dari pagi hingga pagi lagi.