Sukma Niskala

Handi Namire
Chapter #7

7. Pengakuan Dosa

"Pinggul lo yang goyang, bukan cuma bahu."

Aku betul-betul telah meremehkan masalah dengan mengaku bahwa aku yakin bisa membuat Katrina terlihat luwes menari.

"Kat, lo tuh nari buat diliat penonton, ada pesan dalam tarian lo yang perlu lo sampein ke mereka, tapi gimana pesannya nyampe kalo lo nari lihat ke lantai?"

Ya, tuhan. Bahkan pemahaman dasar gerak tubuh dalam menari saja dia belum sepenuhnya mengerti, apa aku sedang menjalankan misi bunuh diri dengan mengajarinya? Aku benar-benar ingin berpikir bahwa Katrina hanya tidak terbiasa dengan pelajaran menari, bukan tidak bisa menari sama sekali. Namun, jika gerakannya terus seperti ini, atlet sepak bola yang dipaksa menari pun masih terlihat bagus ketimbang tarian Katrina.

”Kalau lo tahu gerakan lo kurang oke, minimal banget untuk adegan close up, ekspresi lo harus dinamis. Di bagian ini harusnya lo bisa senyum, kedip dan bola mata lo juga ekspresif supaya energi tariannya nular ke penonton.”

Aku masih menggeleng saat Katrina belum juga menunjukkan peningkatan setelah dua jam aku mengajarinya menari. Saat ini sudah pukul sebelas malam dan aku harus mengorbankan waktu tidurku dan juga uangku—maksudku, uang Chani—untuk menyewa ballroom di hotel tempat kru dan para aktor menginap untuk latihan menari.

”Stop, stop, stop! Lo nggak bisa muter badan gitu aja. Kibasan sampurnya harus mengentak. Karena ini buat adegan close up, detail-detail gesturnya harus on point, Kat. Amati gerakan jemari lo, perhatikan kapan harus melentik, menguntai, merambai, atau mengembang,” ucapku yang mencontohkan gerakan jari yang kumaksud.

Namun, Katrina tampak tidak fokus dan beberapa saat kemudian, dia menggeleng keras.

“Ini konyol. Konyol banget!” serunya tampak kesal.

”Maksud lo apa?”

“Ya ini, bisa-bisanya gue nurutin lo yang sibuk nyuruh-nyuruh dan ngasih perintah ke gue soal nari. Ini nggak masuk akal. Gue capek sama semuanya, tahu!” Katrina melepas lilitan selendang di pinggangnya dan mencampakkan kain itu ke lantai, lalu berjalan ke sudut ruangan dan duduk melantai, serta bersandar pada cermin besar di belakangnya.

”Lo nyerah gitu aja? Sesuatu yang sebelumnya lo yakin bisa lo lakuin?”

“Kenapa? Lo bakal dengan senang hati ngambil peran gue setelah tahu gue nyerah?” tuduhnya.

”Kat, lo sebegitu nggak yakin sama diri lo sendiri?”

Katrina mendengus, “Gue lebih nggak yakin kalau lo ngajarin gue sekarang murni karena lo mau bantu gue. Lo cuma kepengen dianggap pahlawan di depan sutradara dan semua krunya.”

”Dengan ngajarin lo sampai tengah malam ngorbanin waktu tidur gue? Ditambah gue sewain ballroom hotel buat lo latihan? Kalau gue sebegitu pengennya ngambil hati sutradara atau kru, kenapa gue nggak beliin mereka parfum atau tas mahal aja sekalian? Gue mampu kok, dan gue yakin itu bikin mereka tambah sayang sama gue.”

”Pfffft….”

Terdengar suara cekikikan seseorang yang bahkan aku terlambat menyadari ada sosok lain yang mengawasi kami di ruangan yang sama.

It’s true. Chani memang mampu beliin semua itu kalau dia mau,” ucap Vigo yang entah berapa lama dia berdiam di sudut mengawasi kami yang tengah latihan menari.

See?” Aku mengangkat bahuku sembari tersenyum demi meyakinkan Katrina.

”Kenapa? Kenapa lo mau-maunya ngelakuin ini? Gue kira lo benci sama gue,” tanya Katrina masih tidak percaya, atau lebih tepatnya dia menolak percaya bahwa aku bersikap seperti manusia normal dan bukannya perempuan jalang yang seharusnya dia benci.

"Gue bener-bener nggak ngerti, Chan. Belum sebulan lalu lo ngancam gue, nggak mau lihat muka gue lagi di industri ini dan ngatain gue nggak modal lah, ngatain gue cuma modal muka melas lah, ngatain gue pelacur lah."

"Yang benar?" tanyaku tidak percaya, yang seketika membuatku refleks menutup mulut.

Damn! Chani sejahat itu sama anakku yang manis ini? Ugh, andai saja jiwaku tidak berada dalam tubuh ini, aku pasti sudah mengatai Chani perempuan sampah.

"Lo pura-pura nggak ingat, hah? Lo sampe ngebayar talent yang ngaku jadi aktor muda buat pura-pura jatuh cinta sama gue, dan sengaja bikin gue mabuk supaya dia bisa naruh obat tidur di minuman gue, biar dia bisa bawa gue ke hotel, lalu bikin skandal yang bisa ngerusak nama gue."

"What? Nggak mungkin!" bantahku.

Oh god, harus serendah apa seorang Chani bisa berbuat sesuatu untuk menjatuhkan Katrina.

Sialan kamu, Chani….

"Lo bener-bener sakit, Chan. Gue udah bikin laki-laki itu ngaku, tapi lo nggak mau ngakuin kalau lo emang sejahat itu sama gue? Nggak cukup sadar diri, lo juga pura-pura nggak ingat? Gila lo, Chan."

Lihat selengkapnya