Sukma Niskala

Handi Namire
Chapter #8

8. Rumah Yang Asing

Tentu saja kami tidak sungguh-sungguh pergi mengunjungi kota kelahiran Katrina setelah aku menyelamatkannya dari situasi canggung bersama Mr. Risjad sang eksekutif produser beberapa saat lalu. Sekalipun aku memang ingin Katrina mengunjungiku di saat aku menghadapi salah satu hari yang berat dalam hidupku, aku tidak akan memaksanya melakukan sesuatu di luar keinginannya. Namun, yang lebih penting sekarang adalah, bagaimana cara menjelaskan padanya soal tindakanku tadi? Karena aku pun belum tahu harus mulai dari mana andai aku harus mengarang alasan yang masuk akal. Ditambah kesunyian di dalam mobil membuat suasana semakin canggung. Seolah aku sedang berada di dalam mobil taksi online di mana Vigo hanyalah sopir, dan Katrina yang duduk di sampingku adalah orang asing yang kebetulan berbagi taksi ke arah tujuan yang sama. Jangan tanya kenapa aku tahu rasanya, tentu saja karena aku tidak pernah terlahir sebagai Chani yang berasal dari sendok emas.

”Lo tadi cuma bohong, kan?” Tanya Katrina akhirnya memecah kesunyian yang tidak bisa kupatahkan sejak tadi.

”Soal?” Aku bahkan masih bisa berpura-pura tidak paham yang dia tanyakan.

”Soal nyokap gue, soal lo yang tahu nama lengkap nyokap gue dan ngaku pernah belajar nari sama beliau. Itu cuma kebetulan aja, kan?”

Aku berpikir sejenak, nyaris mengiakan sampai akhirnya, aku sadar aku butuh alasan untuk memiliki keterhubungan dengan Katrina. Selain masalah mamanya, yang adalah diriku sendiri, kelak aku mungkin kesulitan mencari alasan untukku bisa mendekatinya.

”Itu benar, gue memang kenal sama nyokap lo. Kalau nggak, darimana gue bisa belajar soal nari adat?”

”Lo pasti bohong. Kalau lo bener-bener kenal sama nyokap, kenapa lo dulu jahat sama gue?” Katrina mengepalkan tangan, tampak masih enggan untuk berakrab ria denganku. Sepertinya tingkah laku Chani di masa lalu memang sudah membunuh simpatinya pada gadis belia kaya raya itu.

”Kayak yang gue bilang sama Mr. Risjad tadi, itu karena dulu gue nggak ngerti lo siapa dan siapa orang tua lo. Setelah gue tahu, gue jadi nggak benci lagi. Sesederhana itu, mananya yang lo nggak ngerti?”

Aku menghela napas sejenak, melirik ke arah Katrina yang tampak bimbang. “Jadi, udah terlanjur kayak gini, gue antar lo ke rumah nyokap lo ya?” Bujukku, berharap dalam kehidupan ini Katrina bisa lebih memikirkan perasaan mamanya—aku.

Hatiku mendadak seperti tersayat saat melihatnya menggelengkan kepala.

“Kenapa? Lo nggak pengen ketemu nyokap lo?”

”Bukan begitu,” ucapnya lirih. “Gue nggak yakin nyokap seneng ketemu gue.”

”Dia nyokap lo, kenapa juga dia nggak seneng anaknya nengokin. Lo punya masalah sama dia?” tanyaku penasaran. Aku berdehem sebentar sebelum lanjut bicara. “Selama gue kenal dia, Bu Frida selalu aja banggain putri satu-satunya. Yang cantik lah, yang berbakat lah, yah meski dia nggak pernah sekalipun nyebut nama lo.”

”Nggak mungkin….”

Aku menghela napas, mulai tersinggung. Bagaimana bisa putriku sendiri menuduh ibunya memiliki perasaan benci padanya? Ataukah justru aku yang tidak sadar bahwa putriku selama ini membenciku?

”Kenapa lo bisa mikir dia benci sama lo? Apa sebabnya?”

Katrina tidak bisa menjawab dan kulihat dia terus meremas-remas jemarinya, seolah topik tentang keluarga menjadi sesuatu yang melemahkan dirinya.

”Gue nggak tahu, gue cuma ngerasa nyokap nggak pernah kelihatan hepi dengan semua yang gue lakukan. Nggak, lebih cocok kalau dibilang, dia kayak nggak pernah peduli sama gue.”

She’s your mother, for god’s sake. Dia sayang sama lo banget. Atas dasar apa lo ngomong gitu?”

”Lo kenapa sih? Gue ngomongin nyokap sendiri kenapa lo yang rese?”

”Karena lo kekanak-kanakan, bayangin gimana sakitnya jadi nyokap lo yang nyawanya dipertaruhkan di meja operasi dan tahu kalau putri yang dia sayangi udah menganggap dia nggak sayang sama anak sendiri.”

”Kekanak-kanakan? Umur gue dua tahun lebih tua dibandingkan lo, tahu. Tahu apa lo soal kehidupan keluarga gue yang nggak pernah ngerasain hidup nyaman sebelum gue jadi artis?”

”Umur nggak layak jadi patokan seseorang bisa bersikap dewasa. Lo tuh cuma pengecut yang merasa serba tahu soal orang dewasa.”

”Memangnya lo tahu? Lo tahu rasanya jadi anak yang nggak pernah diprioritasin sama nyokap sendiri? Setiap lo ngerasa kesulitan dan pengen sekadar cerita sama nyokap, ada aja alasan dia buat nolak hadir di saat-saat penting lo. Mentalnya labil lah, gangguan kecemasan yang nggak ada hentinya, sibuk nyari validasi di luaran karena gagal mencapai sesuatu dalam karirnya, dan selalu nganggap urusan orang lain nggak pernah lebih penting dibandingkan dirinya. Lo pernah berurusan dengan orang tua lo yang kayak gitu?”

Lihat selengkapnya