Sukma Niskala

Handi Namire
Chapter #9

9. Rumah Yang Asing

Kami akhirnya urung menginap di rumah itu. Katrina terlalu marah untuk menghadapi papanya dan akhirnya mengusulkan malam ini kami menginap di hotel sebelum besok mendatangi rumah sakit tempat operasiku pernah dijalankan. Sepanjang perjalanan menuju hotel, kami sama-sama terdiam, tidak tahu harus membahas apa. Katrina belum cukup terbuka untuk membicarakan konflik keluarganya denganku yang baru beberapa hari sebelumnya dia masih membenciku dan akupun tidak berbeda dengannya. Peristiwa hari ini membuat pikiranku penuh dengan hal-hal yang tidak kupahami bahkan saat aku masih menjadi Frida. Rasa bingung, marah, menyesal, sedih, takut, bahkan malu berkecamuk di benakku seakan-akan peristiwa ini adalah hal baru bagiku.

Namun, setelah beberapa saat berlalu, aku mulai menyadari, sejujurnya semua ini bukan hal yang sepenuhnya baru karena aku sudah tahu beberapa bulan ke depan, Dimas akan menceraikan aku. Seharusnya air mataku sudah kering di hari saat aku resmi berpisah dengannya. Yang membuatku sedih luar biasa adalah kenyataan bahwa putriku mengetahuinya lebih dulu dibandingkan diriku yang hidup di tahun ini. Dan aku berusaha memahami saat dia tidak menjawab kata-kataku dan lebih memilih diam saat kami akhirnya sendirian saja di kamar hotel.

Aku melirik ke arah single bed yang ditempati Katrina. Dia tidur membelakangiku, seolah tidak ingin memberiku kesempatan untuk bertanya atau mengobrol padanya. Aku pun menyerah dan memilih untuk naik ke lounge, sekadar mencari suasana lain yang bisa menjernihkan pikiranku. Namun, hanya beberapa langkah saja saat kakiku menapak di lounge lantai paling atas, aku berhenti dengan canggung karena di saat yang sama, Vigo yang sudah lebih dulu duduk di salah satu bar stool berhadapan dengan jendela, menatapku yang baru saja masuk.

Oh, no. Setelah kekacauan di rumahku tadi, bicara dengannya adalah satu hal yang ingin kuhindari.

Aku buru-buru berbalik karena tidak ingin membahas sesuatu yang aku belum siap untuk ceritakan.

”Duduklah… kamu pikir aku hama apa? Kenapa sampai segitunya susah-susah menghindar?” tegurnya, nyaris seperti perintah ketimbang anjuran.

Kali ini aku merasa tidak punya pilihan lain selain berjalan menghampirinya dan mengambil tempat di sebelahnya. Vigo melambaikan tangan memanggil waiter, menawariku sesuatu untuk diminum asal bukan minuman beralkohol dengan alasan Rilan akan marah kalau dia membiarkan aku meminumnya. Apa jadinya kalau Vigo sampai tahu sebenarnya umurku jauh di atasnya, bukan 21 tahun yang masih dilindungi keluarga seolah diriku masih anak kecil?

Segelas mocktail kini diletakkan di hadapanku, membuatku tidak lagi ingin berada di tempat ini. Bukan karena aku ingin minuman beralkohol, tapi malam ini seharusnya aku menyendiri, karena beberapa hari ini rasanya aku tidak sanggup lagi dengan tekanan fisik dan isi kepalaku yang kacau karena menghadapi banyak hal mengejutkan sekaligus.

Aku berpikir cukup lama sebelum akhirnya aku bangkit berdiri lagi. Sudah kuduga, aku tidak sedang ingin bicara dengan siapapun.

“Kayaknya aku lebih baik tidur. Badanku rasanya butuh istirahat,” ucapku, berpura-pura memukul bahuku yang sebenarnya tidak terlalu pegal, beringsut turun dari kursi bar dan berniat pergi.

”Aku tadi ngobrol sama Rilan, dan aku sempat tanya-tanya soal kamu ke dia. Kamu tahu Rilan bilang apa?” Sahut Vigo tiba-tiba.

Shit.

”Dia kirim salam?” tebakku asal-asalan.

”Setelah ini kamu jelas bakal benci sama aku,” ucapnya, lebih seperti menertawakan diri sendiri ketimbang menertawakanku.

”Errr, mungkin itu salah paham. Bukan setelah ini aja kayaknya, aku juga sudah nggak suka sama kamu sejak kamu jadi manajerku.”

Aku tidak tahu apakah ini terdengar lucu atau justru menyedihkan. Namun, semua itu sudah nggak penting lagi buatku. Kurasa sudah saatnya aku menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari rasa penasarannya atas hal-hal yang terjadi belakangan ini.

”Hmm, sudah kuduga. Itu mungkin karena kamu memang bukan Chani yang kukenal.”

DEG!

Apa katanya? Apa aku salah dengar?

Tidak. Vigo jelas-jelas mengatakan aku bukan Chani yang kukenal, apa artinya dia sudah mencurigai semua dalihku tentang hilang ingatan adalah kebohongan belaka? Tapi andai aku mengiakan kecurigaannya, aku tetap tidak bisa menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi atau dia akan menuduhku gila.

”Apa kepalamu terbentur sesuatu? Apa kamu kecewa aku berubah dan jadi nggak suka sama kamu lagi, gitu? Why? Kamu menyesal setelah dulu mengabaikanku sekian lama dan nganggep aku cuma anak kecil, lalu aku berubah nggak tertarik sama kamu, kamu jadi berpikir aku yang sekarang bukanlah Chani yang sebenarnya?” todongku, sengaja kuucapkan dengan nada sindiran yang tajam.

”Aku nggak bilang begitu,” elaknya.

”Sama aja. Kamu pikir aku bohong soal aku hilang ingatan hanya karena aku nggak ingin merasa malu di depanmu selagi kamu kerja buat aku?”

Lihat selengkapnya