Sukma Niskala

Handi Namire
Chapter #10

10. Siapakah Aku?

Aku tahu sejak dulu tidak pernah ada cara yang “benar” untuk bersedih, sekalipun penyebab kesedihannya adalah hal yang sama, kehilangan seseorang yang dicintai. misalnya. Seseorang bisa bersedih di pagi hari ini dan malamnya sudah bisa tersenyum lagi, atau seseorang lagi menghabiskan berminggu-minggu berkubang dalam kesedihan tanpa bisa berpikir bahwa waktu akan mulai merenggut perhatiannya dengan hal-hal lain yang menyita pikirannya, tak peduli kesedihannya akan luntur atau justru masih melekat kuat. Namun, satu hal yang kuyakini, kesedihan adalah sesuatu yang nyata, dan jelas penyebabnya sebelum orang-orang itu menunjukkan reaksi yang berbeda dalam menghadapinya.

Lalu bagaimana denganku?

Sudah seminggu aku sama sekali tidak keluar dari kamarku setelah aku melihat sendiri sosok diriku di tubuh asli yang kritis di ruangan ICU beberapa jam setelah operasi, dan akhirnya dokter menyatakan perjuangan hidup Frida Mariska, seorang perempuan berusia 41 tahun, selesai hari itu juga. Ya, bahkan aku sendiri tidak pernah menyangka bahwa di kehidupan ini, diriku tidak berumur panjang. Semuanya terjadi begitu cepat, begitu membingungkan, dan rasanya vonis mati yang dijatuhkan pada sosok “diriku” masih belum bisa kuterima. Aku bahkan tidak tahu harus bagaimana dengan kesedihan yang tidak pernah jelas bersumber dari mana?

Apakah aku teramat sedih karena jati diriku yang sebenarnya di kehidupan ini sudah tidak bernyawa? Mungkin iya, tapi bagi aku yang ada di tubuh Chani, sosok diriku yang lain tidak ubahnya sosok asing yang bahkan “dia” tidak menyadari keberadaanku. Namun, jika aku menganggap dia sama halnya dengan sosok orang lain, bagaimana bisa aku luar biasa terpukul hingga tidak ingin menemui siapa-siapa—bahkan untuk sekadar mengunjungi rumah duka dan memberi dukungan pada Katrina?

Bagaimana bisa aku melanjutkan hidup jika aku tidak tahu apa sebenarnya yang membuatku tidak ingin bangkit lagi dari tempat tidur?

Apa yang salah? Kenapa di kehidupanku sebelum ini, aku baik-baik saja dan pulih dengan sangat cepat setelah operasi? Hasil kemoterapiku sebelum menjalani operasi juga tidak buruk, tapi sel kanker berhasil ditekan yang membuatku memberanikan diri memutuskan operasi. Ditambah keseluruhan fisikku cukup baik dan kupikir aku cukup tangguh mengatasi rasa sakitku yang luar biasa tanpa banyak drama—di luar drama pernikahanku yang kandas tentunya.

Lalu, peristiwa itu pun terjadi tepat di hadapanku. Katrina yang lari memeluk neneknya dan menangis tersedu melihat kondisi “diriku” yang semakin memburuk, alarm monitor ICU yang terus berbunyi menandakan tanda vitalku telah melewati batas normal, perawat yang melakukan resusitasi jantung tiap dua menit dengan instruksi dokter, pemberian obat melalui infus untuk merangsang jantung, dan setelah semuanya dilakukan tapi sosok “aku” yang terbaring tidak merespon apa-apa, saat itulah dokter melihat jam di tangannya dan menyatakan waktu kematianku. Aku yang hanya berdiri di depan ruangan ICU yang dibatasi dengan kaca jernih, tidak lagi sanggup menyaksikan apa yang tersisa. Dengan lemas dan langkah tersuruk, aku meninggalkan rumah sakit dan meminta Vigo untuk mengantarku pulang. Tanpa sempat berpamitan dengan Katrina, juga tanpa pernah memberikan kalimat bela sungkawa untuknya, aku dengan kesadaranku, memilih untuk menyingkir pergi dalam kesunyian.

Aku menangis berhari-hari, tidak tahu apakah sedih atau lega, membayangkan betapa akan lebih sulit hidup Frida di kehidupan ini saat terbangun dan mengetahui perselingkuhan suaminya, atau bahkan mengetahui putri satu-satunya ternyata menyimpan kebencian padanya dan tengah berjuang menghadapi masalah hidup yang membuatnya terancam depresi hingga bunuh diri. Mungkin saja kematiannya adalah blessing in disguise jika kuingat betapa hampa hidup yang kujalani saat itu.

Lalu, apakah yang sebenarnya aku menangisi Katrina? Kurasa hanya itulah yang masuk akal, karena saat itu aku melihat sendiri betapa hancurnya Katrina seolah yang tersisa untuknya hanyalah penyesalan karena terlambat menemui ibunya selagi masih bernapas sebelum anak perempuan yang terluka itu sempat memaafkannya. Pemandangan itu terlalu menyedihkan untuk bisa kusaksikan lama-lama. Namun, jika aku bersimpati pada Katrina, aku mungkin seharusnya berada di sisinya di saat dia tengah berduka, bukannya mengunci diri tanpa berniat menghubunginya, terlebih mengucapkan kalimat turut berduka cita. Kurasa sebagian diriku merasakan kemarahan atas perlakuan Katrina pada sosok “diriku”.

Namun, di sinilah aku sekarang. Di kamarku yang tirainya sudah tidak ingat lagi kapan pernah kubuka dan air mata kini mengering menyisakan isi kepalaku yang kosong dan tubuhku yang mati rasa.

Dan di hari ke-delapan, cahaya matahari yang menerobos tirai jendela seakan menusuk mata dan membuat sepasang mataku merasakan perih yang tak terkira. Sinarnya yang terik benar-benar membuatku merasakan sengatan panas yang nyaris membuatku merasa aku sudah mati dan kini berada di neraka—satu-satunya tempat yang pantas bagi perempuan tak berguna sepertiku.

Lamat-lamat, saat penglihatanku mulai normal, aku menyaksikan siluet laki-laki yang berdiri tepat di depan jendela dan berjalan menghampiri ranjangku.

”Sudah cukup bersedihnya. Kamu nggak bisa terus-terusan mengabaikan teleponku dan terus berbaring seolah kiamat sebentar lagi bakal terjadi,” ucap Vigo yang berkacak pinggang di hadapanku, masih dengan cahaya matahari menyilaukan di balik tubuhnya hingga wajahnya terlihat gelap karena efek kontras cahaya.

”Kiamat memang sudah terjadi,” ucapku lirih, tidak yakin Vigo mendengarku atau tidak.

”Jangan konyol, umurmu 22 tahun sebentar lagi, meski kiamat terjadi besok, kamu seharusnya nggak pusing mikirin yang begitu. Kamu cuma perlu bangun, mandi, makan enak, kerja, lalu seneng-seneng seperti orang-orang seumuranmu. Paham?”

Kenapa aku melupakan bahwa tubuh fisikku masih berusia 22 tahun? Ya karena rasanya tubuh ini sudah tidak penting lagi menopang pikiranku yang sudah terlalu berat untuk menjalani hidup. Rasanya aku tidak tahu lagi untuk apa aku masih hidup dengan meminjam tubuh Chani.

”Gimana caranya kamu masuk?” tanyaku malas, masih enggan bangkit dari kasur.

”Kamu masih nanya? Memangnya Rilan bakal ngebiarin kamu seminggu nggak keluar kamar dan cuma makan seadanya seperti orang kurang gizi? Aku tanya ke ART kamu pun, dia nggak punya kunci cadangan kamarmu. Terpaksa aku minta Rilan.”

Aku hanya menghela napas, tidak tahu harus bagaimana dengan informasi itu. Aku bahkan tidak tahu apakah aku harus menuruti Vigo dan bangkit dari ranjangku, atau mengabaikannya saja karena seperti hari-hari kemarin, aku sama sekali tidak ada semangat untuk menyambut hari. Seolah-olah pilihanku hanya dua hal yang sama-sama menyedihkan, kembali ke tubuh asliku di kehidupan sebelumnya dan menjalani hidup tanpa Katrina, atau menjalani hidupku sekarang sebagai Chani dan mendampingi Katrina, mengetahui aku sudah tidak bisa kembali ke tubuhku semula. Yang mana pun bagai memakan buah simalakama.

“Chan, haruskah kamu kayak gini terus? Sutradara udah ngasih izin kamu libur syuting meski sebenarnya libur itu cuma boleh buat Katrina aja, karena dia yang sedang berduka. Tapi karena mengira kamu dampingin Katrina yang berduka, jadilah kamu juga diizinin libur, tapi menurut kamu aja, bakal gimana kalau sampai dia tahu kamu aja nggak pernah datang melayat ke rumah Katrina?”

Aku hanya mengangkat bahuku, “Seharusnya dia memang sudah tahu, kamu pikir kematian ibu Katrina nggak diliput media apa?”

”Kalau gitu, sadarlah… buat apa sih kamu sampai mengurung diri seminggu di kamar? Memang kamu bersimpati sama Katrina dan konflik dengan ibunya, tapi kamu tetap bukan siapa-siapa bagi mereka.”

“Aku tahu, kamu nggak perlu ngingetin begitu.”

“Kalau gitu, kamu harusnya punya penjelasan masuk akal kenapa sikapmu kayak gini? Kenapa masalah mereka juga jadi urusanmu?”

Aku mengangkat bahu, “Kamu tahu aku kenal dengan ibu Katrina. Dia guru tariku. Tentu saja aku juga jadi ikut sedih dan ngerasa kehilangan.”

“Tapi nggak pernah kepikiran untuk melayat dan ngasih dukungan moral ke Katrina di saat kamu harusnya dampingin dia.”

Lihat selengkapnya