Mati seharusnya adalah keputusan yang paling mudah. Untuk ukuran dirinya yang bisa mendapatkan akses atas obat-obatan psikotropika melalui sesi terapi dengan psikiaternya, menenggak satu wadah obat tidur akan membuat semua masalahnya berakhir. Tak ada rasa sakit yang ekstrem, tak ada darah dan cairan tubuh lain yang menjijikkan, juga tak akan mengubah penampilannya saat sekarat menjadi begitu menyedihkan. Dia hanya akan terlihat seperti putri tidur, kemudian mengembuskan napas terakhirnya dengan elegan. Lalu semuanya selesai.
Tidak, ini bukan keputusan sesaat. Katrina merasa percuma hidup lebih lama jika pada akhirnya dirinya tidak pernah bahagia. Berakting baginya hanyalah pelarian sementara demi membuatnya lupa bahwa dirinya adalah Katrina Olivia—gadis muda yang selalu merasa jiwanya hampa. Sejujurnya, Katrina tidak sepenuhnya memahami kenapa sudah lama dia merasa seperti cangkang kosong. Belakangan hampir tak ada alasan untuk tersenyum maupun tertawa. Umurnya baru 22 tahun, tapi merasa hidup berjalan terlalu lama untuk dihabiskan dengan kekosongan yang. menyesakkan.
Semua karena dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi, tidak juga ambisi ataupun harapan.
Katrina bukan berasal dari keluarga yang serba kekurangan, setidaknya itu yang dia yakini. Konon, tidak ada yang lebih buruk dibandingkan kemiskinan karena setiap hari adalah cobaan macam-macam ujian yang mengancam kehidupan, kewarasan, juga nyawa sekalipun. Namun, Katrina merasa tidak banyak seseorang memutuskan bunuh diri hanya karena miskin. Jika dirinya mengatakan ini keras-keras mungkin hanya akan dicap manusia yang tak punya rasa syukur, tapi memang beginilah adanya. Katrina justru merasa iri pada orang miskin yang meski ditimpa kehidupan yang tak mudah, setidaknya menjadi miskin tidak akan membuatmu kehilangan harapan dan hal-hal kecil yang mereka peroleh seolah menjadi alasan paling mudah untuk merasa bahagia dan penuh rasa syukur.
Namun, orang miskin sekalipun dalam doanya pun memilih menjadi orang kaya, bukannya kalangan menengah tanggung yang terimpit di sela-sela. Tak cukup miskin untuk mendapatkan dukungan pemerintah, tapi juga tak cukup kaya untuk lepas dari tekanan. Kedua orang tua Katrina juga selayaknya manusia biasa dan hidup sederhana. Ayahnya hanya pegawai bank yang kena PHK dan kini bekerja sebagai manajer marketing perusahaan properti milik almarhum kakek Katrina. Dengan latar belakang sang kakek yang bisa dibilang cukup terpandang, satu-satunya hal yang bisa dihindari orang tua Katrina adalah jatuh miskin karena setidaknya paman dan bibinya semua orang sukses dan siap membantu keuangan keluarga. Namun, hanya sebatas itu saja, membantu keuangan keluarga tidak sama dengan membantu sampai sejahtera.
Lalu bagaimana dengan ibunya?
Katrina sesungguhnya paling sulit memahami sosok ibu yang telah melahirkannya di usia yang begitu muda. 20 tahun saat ibunya hamil dan harus melahirkan dirinya dan Katrina merasa sosok perempuan itu adalah sosok paling rumit yang pernah dihadapinya. Terkadang ibunya tampak ceria, tapi keesokan harinya perempuan itu terlihat merana. Satu hari dia bicara tentang mimpinya yang masih menggebu-gebu, lalu di hari lain dia akan menangis sedih seolah dunia selalu memusuhinya. Ayahnya selalu mengatakan pada Katrina supaya dia mengalah saja jika berhadapan dengan ibunya yang keras kepala. Ayah bahkan terang-terangan mengatakan sikap ibunya tak ubahnya penyakit yang kerap dialami para seniman. Ya, ibu Katrina adalah seorang penari atau seniman tari yang sudah banyak menerima penghargaan nasional maupun internasional. Dalam hal berkarya dan mewujudkan ambisinya, ibunya memiliki segudang idealisme yang mungkin membuatnya terlihat jenius, tapi juga sekaligus menghancurkannya. Karena idealisme yang tidak disertai kesejahteraan yang mumpuni, hanya menciptakan gap besar yang tidak akan bisa terisi sebesar apapun ambisinya. Kondisi yang seperti itu terus-menerus melahirkan ketidakpuasan yang membuat ibunya selalu merasa tidak cukup.
Tidak cukup hebat.
Tidak cukup modal.
Tidak cukup berbakat.
Tidak cukup koneksi.
Lalu, tidak cukup berhasil.
Hingga Katrina menyaksikan sendiri bagaimana ibunya yang selalu merasa tidak cukup itu perlahan menjadi sosok yang hanya memedulikan diri sendiri karena begitu banyak mimpinya yang tak terwujud. Dunia seakan hanya berputar pada sosoknya yang selalu terlihat menyendiri meski sang ibu selalu dikelilingi suami dan anaknya. Selalu tidak puas, selalu menyalahkan diri sendiri, menyalahkan keadaan dan membuatnya menjadi manusia paling menderita.
Dan Katrina menyaksikan semua itu hingga dirinya beranjak dewasa. Dulu dia tidak pernah sadar bagaimana pengaruh ibunya begitu besar pada dirinya. Keterbatasan dana, akses dan kesempatan kini mengubah dirinya tidak jauh berbeda dengan sosok ibu yang dulu dibencinya. Dan sekarang, Katrina tidak pernah merasa cukup lagi. Tidak cukup cantik, tidak cukup berbakat, tidak cukup kaya, tidak cukup kesempatan, dan juga tidak cukup berpengaruh untuk dihormati rekan-rekannya.
Katrina benar-benar membenci ibunya yang telah menciptakan monster dalam dirinya yang tidak pernah bisa dia kalahkan. Kebencian dalam dirinya membuatnya tak punya pilihan lain selain terlepas dari pemikiran selalu “tidak cukup”. Katrina berusaha mati-matian menciptakan kesempatan untuk dirinya. Bekerja serabutan dengan gaji rendah demi mengumpulkan uang untuk mengikuti audisi dan membeli pakaian-pakaian mahal, bahkan rela menjalani kehidupan malam sebagai waitress di kelab malam tempatnya mendapatkan tip-tip besar dengan berpakaian seksi dan menerima perlakuan tidak senonoh dari tamu-tamu kalangan elit. Dan puncaknya, dia dipaksa tidur dengan eksekutif produser yang mendanai film berbudget besar demi memuluskan jalannya untuk mendapatkan peran penting.
Di depan layar, semua orang mengira dia gadis baik-baik nan lurus yang merintis karir dari bawah dengan jujur, tapi di balik layar, dirinya hanyalah seorang jalang yang rela membuka celana dalamnya demi kesempatan besar yang dia dambakan hanya supaya Katrina tidak lagi merasa “tidak pernah cukup” dan berakhir menyedihkan seperti ibunya.
Namun, siapa yang menyangka, tidak ingin menjadi seperti ibunya justru membuatnya makin terperosok jatuh hingga akhirnya semua pencapaian dan ambisinya sudah tidak ada lagi artinya. Semuanya kosong belaka. Baik uang, kepuasan, hingga kebahagiaan kini menguap begitu saja. Yang tersisa hanya rasa sakit, penyesalan karena bukannya makin menjauhi jalan yang telah diambil oleh sang ibu, Katrina merasa dirinya hanya berputar-putar saja. Sampai akhir, bayangan sosok Frida Mariska, sosok ibunya akan selalu menghantuinya, membuatnya menanggung penyesalan yang tak terbantahkan.
Katrina kini menjadi pecundang—tidak hanya pelacur, karena sejak awal dia memilih untuk membenci sosok perempuan yang melahirkannya dan tidak ingin menemuinya lagi sejak Katrina merintis karirnya menjadi aktris. Namun, sikap keras kepalanya juga yang membuatnya menjadi anak durhaka yang membuatnya terus-menerus melupakan bahwa dirinya adalah anak ibunya. Sejak ibunya bercerai, tidak peduli seberapa besar keinginan Frida untuk bertemu, Katrina selalu mengabaikannya. Katrina bisa saja bersimpati atas apa yang dialami ibunya yang mengalami hal yang menyedihkan sebagai perempuan. Divonis kanker, kehilangan rahim, ditinggalkan suami karena perselingkuhan, dan kini mantan suaminya sudah menikah lagi dan akan menantikan anak mereka dari kehamilan istri barunya.
Ironisnya, meski merasa kasihan, Katrina merasa ibunya memang pantas mendapatkan “hukuman” semacam itu dan itu makin membuat Katrina benci pada diri sendiri. Kebenciannya semakin hebat saat Katrina pun dihadapkan pada situasi yang tidak ada bedanya dengan Frida.
Jalan seorang pecundang hanya ada satu: kematian, karena dirinya tidak cukup berani untuk melenyapkan penyesalannya. Jadi untuk apa bertahan lebih dalam dalam dunia yang hanya menyimpan rasa sakit untuknya? Katrina merasa lebih baik dia meninggalkan dunia yang tidak ada satu pun orang yang peduli padanya.
Diliriknya botol mungil berisi obat tidur di meja nakas samping tempat tidurnya. Dibukanya botol itu, demi mengeluarkan delapan atau sepuluh pil tablet sekaligus untuk ditelan sekaligus. Berikutnya, Katrina membiarkan rasa lemas menguasainya hingga akhirnya tubuhnya terbaring di ranjang. Perasaannya seperti melayang, dunia berputar seisinya dan lama kelamaan semakin buram dan gelap untuk beberapa saat, hingga yang tersisa hanya kesadarannya yang masih terikat dengan dunia.
Napasnya makin memburu, dan tenggorokannya terasa sesak, makin tercekat seiring jantungnya yang terasa akan meledak meski tubuhnya sudah tak bertenaga. Tatapan Katrina kosong menyaksikan lampu atap apartemennya yang terasa silau dan menusuk, dan telinganya berdenging tak lagi mendengar apa-apa.
Kematian tidak pernah sedingin ini dan sesepi ini. Namun, inilah yang diinginkannya, keheningan tanpa rasa sakit.