”Frida, Frida….”
”…”
”Frida, kamu udah bangun?” tanya seseorang dengan suara panik. “Mas! Maaas! Frida udah sadar. Ke sini cepet!”
Perempuan itu mengerjapkan kelopak matanya, berusaha meraih kesadaran sekalipun kepalanya masih berdenyut hingga rasanya ingin meledak. Pandangannya masih begitu buram saat itu, tapi untuk beberapa saat semburan cahaya seolah berusaha mendobrak kelopak matanya, membuat pupilnya menyipit dan alisnya mengernyit karena terlalu silau. Dan saat membuka mata, dunia di sekitarnya mendadak begitu asing yang membuatnya harus mengajak seluruh elemen otaknya bekerja teramat keras dalam mencari tahu di mana, sedang apa, dan bersama siapakah dirinya sekarang.
Tak berapa lama, pintu ruangan menjeblak terbuka, dan seketika Frida memasang wajah penuh waspada. Seorang pria tampak cemas dan berjalan menghampirinya. Di belakangnya, perempuan paruh baya yang sudah lanjut usia mengikuti langkahnya. Frida mengenali mereka. Kedua orang itu adalah Dimas, mantan suaminya dan diikuti ibu Frida.
“Kamu udah tiga hari nggak sadar, Frida. Kami semua bingung dan khawatir,” seru sesosok perempuan yang barusan suaranya terdengar begitu sering, juga nyaring di telinga Frida. Frida tidak terlalu mengingat siapa sosok itu, dan dia yakin benar mereka belum pernah bertemu langsung, tapi ingatan sebuah memori yang terasa begitu jauh membuatnya yakin bahwa perempuan di dekatnya ini adalah istri baru Dimas.
“Kamu….”
“Aku Hestia! Panggil Hesti aja. Meski kita baru ketemu, tapi aku berasa kayak udah deket sama kamu karena Mas Dimas selalu ngomongin kamu meski kalian udah bukan suami istri lagi,” tuturnya, memperlihatkan raut wajah yang ramah, seolah dia tidak peduli dengan rasa sungkan yang biasanya mewarnai hubungan antara istri sah dan mantan istri suaminya.
“Sudahlah, Hes… Frida masih baru sadar. Jangan ngagetin dia dengan hal-hal yang nggak perlu.”
Frida menyadari sesuatu yang sejak tadi luput dari perhatiannya. Meski dirinya merasa aneh juga sedikit asing, tapi di tempat ini mereka semua memanggilnya “Frida”. Baginya, sebutan itu terasa salah, tapi anehnya juga begitu tepat, seolah dirinya sudah lama tidak mendengar orang-orang memanggilnya dengan nama Frida.
“Se-sebenarnya, berapa lama aku pingsan?” tanya Frida memberanikan diri, meski rasanya canggung bicara dengan mantan suami dan istri barunya yang dulu selalu dia hindari.
“Tiga hari kamu nggak sadarkan diri,” jawab Dimas, refleks mengulurkan tangan bermaksud mengelus rambut Frida.
Entah bagaimana, Frida bertindak lebih cepat dengan menepis tangan Dimas secara halus. Pria itu seketika menyadari kekeliruannya, melupakan bahwa Frida sudah bukan istrinya lagi.
"Katrina... di mana Katrina?" Frida tiba-tiba teringat sesuatu seolah di kepalanya hanya nama itu yang terngiang-ngiang. Lebih tepatnya, dia ingin tahu saat ini dirinya ada di mana?
Apakah ini semua cuma mimpi sesaat, penglihatan yang konon seseorang akan diperlihatkan hal-hal yang dia inginkan sebelum kematian menjemput? Atau memang ada keajaiban yang bisa membawa putrinya kembali ke sisinya? Yang mana pun itu, Frida hanya ingin melihat Katrina untuk terakhir kalinya andai setelah ini dirinya harus pergi untuk selamanya.
Meski baru saja Frida menepis tangan mantan suaminya, kali ini justru dirinya lah yang meraih lengan lelaki itu dan mencengkeramnya erat.
"Mas... tolong jawab, di mana Katrina? Aku mau lihat dia, aku mau ketemu dia lagi sebelum aku—"
"Mama...."
Frida mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, seraya memicingkan mata. Sepertinya dirinya tak salah dengar, tapi juga mungkin saja dia sedang mengigau saking samar dan lirihnya suara itu. Namun, Frida setengah mati berharap suara familiar itu akan memanggilnya sekali lagi.
"Mah... Mama...."
Saat Frida mulai meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi, saat itu orang-orang yang berdiri mengelilinginya perlahan memundurkan langkahnya, hanya supaya Frida bisa melihat lebih jelas siapa yang tengah menghampirinya.
Cantik, meski berwajah pucat, dan tengah berurai air mata dengan pakaian khas rumah sakitnya. Meski begitu, Frida teramat bisa mengenali wajah seorang gadis yang kini menghambur ke pelukannya. Seolah seperti mimpi, dia bisa merasakan kembali gadis kecilnya kini ada di pelukannya, dengan rambut ikalnya yang terasa begitu halus dan nyata di telapak tangannya, juga pipi yang sudah tidak lagi bulat seperti bertahun-tahun sebelumnya.
"Katrina? Kamu benar Katrina?" tanyanya yang masih belum puas karena meskipun gadis itu kini tenggelam dalam pelukannya, Frida masih butuh kepastian yang bisa mengonfirmasi bahwa dia benar-bener menyentuh dan memeluk putrinya sendiri.
"I'm sorry, Mah... I'm so sorry. Aku udah jahat sama Mama dan bikin Mama kecewa sama aku," ucap gadis di pelukan Frida, seolah suara tangisan Katrina lah yang meyakinkan dirinya bahwa semua yang di hadapannya ini nyata.
"Apa maksudmu, Katrina? Harusnya Mama yang minta maaf selama ini Mama udah ngira Mama udah ngelakuin semuanya buat kamu, tapi ternyata kamu tetep kesepian dan merasa sendirian. Mama nggak pantas, Mama nggak bisa diandalkan waktu kamu paling butuh Mama," sahut Frida, merengkuh erat tubuh Katrina, menciuminya terus menerus di puncak kepala, di dahi, di pipi, hingga di hidung gadis itu, seolah masih lekat di ingatannya saat pertama kali menggenggam tangan mungil dan menggendong tubuh kecilnya yang baru lahir setelah persalinannya. Betapa dunianya yang abu-abu mendadak jadi penuh warna seiring dengan kehadiran putri kecilnya itu.
“Ya tuhan, Katrina... Mama masih susah percaya kalau ini nyata. Mama beneran udah bangun dan bisa lihat kamu bernapas di deket Mama. Mama ternyata nggak meninggal, dan kamu juga nggak ninggalin Mama."
Setelah beberapa lama kehabisan kata-kata, Frida akhirnya mengucapkan apa yang ada di dalam kepalanya. Dilihatnya Katrina mengangkat wajahnya, matanya masih sembab karena isak tangisnya belum berhenti, tapi setidaknya tatapan bening matanya terlihat tulus disertai anggukan seolah menjawab semua pertanyaan penting di benak Frida.
"Aku di sini, Mah... Aku nggak mati seperti yang Mama kira," ucap Katrina meski masih berurai air mata, senyum di wajahnya kini tercetak jelas di sana.
"K-kenapa bisa begitu? Mama bener-bener mengira Mama nggak bisa ngeliat kamu lagi...." Frida tampak kebingungan, lalu melirik ke arah Dimas, berharap lelaki itu bersedia membantunya demi memberikan penjelasan.