Sulur Luka

FA NELA
Chapter #12

Bab 12: Operasi Pertama

Apakah semua sudah selesai? Laila membatin dalam hati.

Rasanya mual. Efek bius pada kaki perlahan memudar. Lalu, digantikan obat pereda nyeri berupa suntikan infus oleh perawat. Tapi obat tersebut sangat keras hingga lambung Laila seperti mau meledak—memuntahkan semua isi makanan yang ada di dalamnya.

Laila tidak nafsu makan. Semua menu yang disajikan oleh rumah sakit terasa hambar, sama sekali tak membangkitkan selera. Tapi gadis itu mau tidak mau memaksakan diri, meski harus mencampurkan nasi dengan kuah bubur kacang hijau ke dalam mulutnya. Baru setelah sebagian nasinya habis, Laila meminum obatnya kembali.

Sampai tak berselang lama, dokter bedah dan beberapa asistennya datang berkunjung ke ruangan. Mereka bermaksud mengecek hasil operasi kemarin siang. Memang, waktu yang dibutuhkan untuk operasi fistulla kemarin cukup memakan waktu lama. Baru di sore harinya Laila berhasil dikembalikan ke ruang inap dalam keadaan tak sadarkan diri. Di tengah malam, dirinya terbangun dengan mual-muntah cukup parah, lalu tertidur dan baru terbangun lagi di hari kedua, yaitu hari ini.

Melihat kondisi Laila yang tampak membaik, salah satu perawat langsung memintanya memiringkan tubuh menghadap kiri, lalu sedikit mengangkat paha dan memposisikan seperti memeluk guling. Laila menurut tanpa tahu apa yang hendak mereka lakukan. Mama sama mencurigakannya, pindah posisi ke hadapan Laila dan menggenggam tangan putrinya dengan wajah cemas.

“Kalau nggak tahan, gigit saja selimut.”

Hah? Jantung Laila berdebar tak karuan.

Seketika ada banyak orang yang menyentuh bagian belakang tubuh Laila. Ada yang menyangga pinggang Laila agar tak bergerak, ada yang mengangkat pahanya agar luka bekas operasi bisa lebih mudah dicek, dan juga ada yang tiba-tiba menarik kasa panjang dari lubang bekas operasi tanpa belas kasihan.

“ARGGGGHHH!!” Laila menjerit sejadi-jadinya. Teriakan menggelegar langsung memenuhi satu ruangan, bahkan mungkin terdengar sampai ke sepanjang lorong di lantai 5.

“SAKITTT!!” Tangisan histeris yang semakin kencang, Laila benar-benar tak sanggup menahan rasa sakit yang tak pernah terbayangkan seumur hidupnya. Dia memang belum pernah memiliki pengalaman melahirkan—yang katanya rasa sakitnya seolah diambang antara hidup dan mati. Tapi satu hal yang dia yakini sekarang, rasa perih bercampur panas, luka yang masih basah digesek paksa, seluarbiasa itu rasa sakit yang dia rasakan. Hingga jika dikasih pilihan, rasanya Laila ingin mati saja.

“UDAHHH!! SAKITTT!!”

Lihat selengkapnya