“Baik, Mbak Laila, silakan perkenalkan diri,” ujar lelaki bertubuh kurus dengan wajah sedikit dingin. Dia duduk di hadapan Laila sembari memegangi selembar kertas yang berisi curriculum vitae.
Hari itu, setelah beberapa bulan menganggur, Laila akhirnya mendapat panggilan wawancara di sebuah perusahaan yang menjual perabot rumah tangga. Pekerjaan yang dilamar pun sedikit berbeda dari pengalaman kerja dia sebelumnya, yaitu admin media sosial.
“Baik, terima kasih atas kesempatannya. Perkenalkan nama saya Laila Zhafirah, lulusan S1 Ilmu Komunikasi kampus swasta, di Jakarta Selatan.” Laila memulainya dengan kalimat template, kemudian sedikit terbata-bata menjelaskan satu persatu pekerjaan yang pernah dia lakukan di masa lalu. Mungkin karena sudah lama tidak bersosialisasi secara langsung dengan orang lain selain keluarga, lidah Laila rasanya semakin kelu. Dia terlalu banyak mengeluarkan gumaman yang secara tidak sengaja membuatnya terlihat amatir.
“Saya pernah bekerja sebagai Copy Editor di Penerbit Pustaka Ifiyah dari eemm ... tahun 2016 sampai 2018. Lalu, emm .. resign dan sempat terjadi covid, eemm ... sehingga saya kesulitan mendapat pekerjaan baru. Dan mulai mendapat pekerjaan lagi di tahun 2021 di ... Penerbit Gaia Literra sebagai Editor Buku.”
Pada saat itu Laila menulis dan menjelaskan CV-nya secara jujur tanpa ada yang ditambah atau kurangi, termasuk masa bekerja di Gaia Literra yang hanya tiga bulan.
“Setelah lulus, kamu bekerja di Pustaka Ifiyah dari 2016-2018. Tahun 2019 ngapain?” tanya user itu menyelidiki dengan tatapan tidak bersahabat. Sesekali tangannya memperbaiki letak kacamata yang dia pakai, meski sebenarnya terlihat tidak ada masalah.
“Saya resign karena habis kontrak dan ... memutuskan untuk tidak memperpanjang emm ... karena ingin melakukan operasi telinga. Eemm ... sejak bayi saya memang memiliki penyakit THT, khususnya telinga. Saya ... mengalami kurang pendengaran.”
“Berarti sekarang pakai alat bantu dengar?” tanya bapak itu memutus penjelasan Laila.
“Tidak, Pak. Kalau untuk sekarang alhamdulillah sudah normal. Karena operasinya berhasil.” Sebenarnya pada masa kuliah, Laila memang sempat memakai alat bantu pendengaran, namun karena sering menimbulkan bunyi berdenging mengakibatkan Laila jadi tidak nyaman memakainya. Sejak itulah Laila memaksakan diri untuk mempercayakan kesehariannya pada pendengaran yang serba terbatas itu.
Meski kerap membuat lawan bicaranya geregetan karena terjadi miss komunikasi, tapi secara keseluruhan Laila tetap bisa menjalani dunia perkuliahan dan pekerjaan dua tahun di Pustaka Ifiyah dengan baik.
“Lalu, baru bekerja lagi di tahun 2021? Hanya 3 bulan? Ini fulltime atau freelance?”
Pertanyaan beruntun dari user seketika membuat nyali Laila menciut. Jantungnya mulai berdebar tidak nyaman. Perasaan mual menyeruak. Nada bicara bapak itu seolah menunjukkan dia menyesal telah memanggil Laila untuk datang hari ini.