Sulur Luka

FA NELA
Chapter #16

Bab 16: Menelan Ketidakadilan

Setiap kali selesai wawancara, Mamanya pasti akan memulai pertanyaan dengan kata ‘bagaimana’ entah itu ‘bagaimana kondisi selama di perjalanan, apakah lokasinya jauh atau dekat, mudah atau sulit transportasinya; bagaimana proses wawancaranya, apakah Laila bisa mengerjakan soal tes dan menjawab pertanyaan dengan baik atau tidak; bagaimana hasil dari wawancara tersebut, apakah ada tanda-tanda Laila akan lolos atau gagal lagi; dan yang paling penting adalah bagaimana kondisi toilet dari kantor itu.’

Dari semua rasa penasaran sang Mama, Laila tentu menyortir kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan untuk tidak dia bagikan kepada orangtuanya. Baginya, apa pun yang terjadi di luar sana, jika itu hanya membuat Mamanya ikut merasakan sakit hati, lebih baik Laila pendam untuk dirinya sendiri. Keluarga Laila hanya perlu tahu bahwa wawancaranya belum ada kemajuan, belum dinyatakan lolos, atau paling aman, Laila akan berkata bahwa toilet kantor mereka tidak lebih baik dari Gaia Littera sehingga Laila sendiri yang memilih mundur dari wawancara.

Mungkin terkesan berlebihan, tapi rasa sakit pasca pembedahan dan hasil operasi fistulla yang belum 100% sembuh menyisakan rasa trauma dalam dirinya. Laila sempat satu-dua kali berusaha mengagalkan hasil wawancara dengan menjawab asal-asalan, saat alam bawah sadarnya memberi warning bahaya usai Laila melihat kondisi toilet suatu perusahaan. Dia terlalu takut untuk menyentuh ruang operasi lagi, terlalu stres untuk menjalani masa pemulihan—merasakan sakit yang teramat sangat ketika kasa steril menyentuh luka yang masih merah. Rasanya hanya dengan mengingatnya saja, dada Laila sudah langsung sesak.

 

Gaialittera dan 5 teman lainnya menambahkan cerita baru.

 

Pop up pemberitahuan dari Instagram muncul di handphone Laila. Sebenarnya bisa saja dia abaikan, tapi hatinya merasa terusik mengingat dirinya masih mengikuti akun sosial media dari Gaia Littera. Rencananya, Laila hanya ingin mengunjungi akun penerbit tersebut, lalu meng-unfollow dan menghapus semua tag atau hashtag dari setiap postingan yang mengarah ke sana. Hanya saja lingkaran berwarna pada akun Gaia Literra tiba-tiba membuat Laila penasaran. Untuk terakhir kalinya, Laila memutuskan membuka story mereka dan dihadapkan pada konten promosi buku terbaru dari divisi Athariz. Gara-gara hal, Laila jadi penasaran dengan kabar naskah yang terakhir dia edit bersama Pak Dito.

Laila tinggalkan laptopnya yang masih nyala sejenak, lalu sibuk mengetik judul naskah pada pencarian di internet. Ternyata naskah tersebut sudah beberapa bulan lalu terbit. Tapi Laila sama sekali tidak mendapatkan update apa pun dari pihak mereka. Feeling Laila jadi semakin jelek. Dia teruskan pencarian tentang halaman identitas dari buku itu. Tidak ketemu. Bahkan di bagian google books pun tidak tersedia. Laila terus mencari sampai ke toko buku online hingga website ISBN, dan akhirnya firasat Laila benar. Namanya tidak tercantum sebagai penyunting dari buku tersebut. Hanya ada nama Pak Dito dan satu orang lagi yang tidak Laila kenal. Seketika tubuh Laila lemas tak berdaya.

Padahal Pak Dito pernah memberi harapan, pada hari ketika Laila hendak berobat ke rumah sakit untuk pertama kalinya, tapi malah disuruh operasi dadakan. Saat itu Pak Dito meminta identitas Laila untuk dimasukkan ke dalam ISBN. Yang artinya, nama Laila kelak akan diikutsertakan sebagai salah satu penyunting buku. Tapi nyatanya, nama Laila tidak ada di sana. Kehadirannya selama tiga bulan di Gaia Literra ibarat sosok tak kasat mata, yang terabaikan begitu saja.

 

<Pengirim: Laila>

Assalamualaikum, Pak Dito. Mohon maaf mengganggu waktunya.

Saya Laila yang pernah bekerja di Gaia Literra, divisi Athariz tahun lalu.

 

Dengan memberanikan diri, Laila mengirim pesan whatsapp ke mantan kepala redaksinya dulu. Tak membutuhkan waktu lama, pesan itu langsung dibalas.

Lihat selengkapnya