SUMPAH KALA

Snowflakemlet
Chapter #1

Kematian Bu Menteri

Rabu Pahing, adalah salah satu hari yang dianggap sebagai hari keramat dalam kepercayaan Jawa. Tepat ketika jarum jam menyentuh angka 12 di malam hari, wanita itu membuka matanya lalu terbangun dari tidurnya seiring suara getar ponsel yang beradu dengan nakas kayu di sampingnya. Ia menoleh ke sisi kirinya, kosong. Sang suami berpamitan untuk pergi tugas ke luar negeri pagi ini. Tapi jauh di dalam hatinya ia tahu bahwa itu bukanlah tugas kantor dan hari ini dirinya bersumpah akan memberikan balasan terhadap seseorang yang menjadi ‘pendamping’ sang suami bertugas ke sana. 

Wanita itu membuka laci dan mengeluarkan sebuah botol berwarna putih tanpa label. Beberapa hari lalu, sang ‘Guru’ memberitahunya bahwa itu adalah bahan yang bisa digunakan guna menuntaskan keinginannya. Wanita itu menggenggam erat botol itu lalu beranjak dari tempat tidurnya. Ia melangkah mendekati sebuah lemari buku dan menekan sebuah tombol yang berada tepat di samping hingga terdengar suara yang menandakan seperti pintu yang terbuka. Tangannya menyentuh lemari buku itu dan membukanya dengan mudah, menunjukkan sebuah ruangan yang hanya dirinya ketahui keberadaannya.

Rumah mewah ini dibangun dari hasil jerit payahnya berpuluh-puluh tahun. Segala ruangan dan dekorasi yang ada di sini memiliki sentuhan tangannya. Sang suami tak tahu menahu, atau lebih tepatnya, tak terlalu memperdulikan hal itu. Dia hanya tinggal dan menjadikan rumah itu sebagai tempat untuk tidur. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan di kantor. Hubungan mereka sudah semakin dingin semenjak anak-anak bersekolah di luar negeri. Sang istri sibuk dengan tugas negara dan suami sibuk berbisnis. 

Ruang rahasia itu tidak terlalu besar. Terdapat sofa, Smart TV android berlayar besar, serta lemari buku yang lebih kecil. Di antara sofa dan meja tv, terdapat karpet dan dua meja kecil yang diatur sedemikian rupa; meja yang agak lebih tinggi berada di belakang meja yang lebih pendek. Beberapa ornamen terletak di atas meja itu seperti buah-buahan segar, kopi hitam yang selalu diganti, serta dupa dan potongan kembang tujuh rupa yang berada di dalam sebuah mangkuk perunggu yang terlihat mahal. 

Wanita itu memejamkan mata dan menghirup aroma dupa yang selalu membuatnya merasa lebih tenang. Ya, segala hal yang berada di ruangan ini membuatnya jauh lebih tenang dibandingkan eksistensi Tuhan. Malam ini, dia bersumpah akan mengirim teror pada wanita yang mendampingi sang suami ke luar negeri. Sang wanita binal yang selama ini ‘memuaskan’ suaminya di atas ranjang utama miliknya ketika ia sedang mengemban tugas negara. 

Wanita itu mendekati meja persembahan. Ia mengganti dupa dengan yang baru. Botol putih dibuka dan isinya dituangkan ke dalam wadah sampai habis sebelum dibakar. Perlahan, asap dari dupa tersebut mengudara dan wanita itu duduk di atas karpet dalam posisi bersila seperti hendak melakukan meditasi. 

Lihat selengkapnya