Duk!
Pintu mobil ditutup. Suasana di sekitar komplek perumahan elit di kawasan Menteng, yang biasanya sepi, sontak ramai. “Mas Damar!” Seorang pria muda berusia kira-kira 29 tahun melambaikan tangan padanya. Meski bertubuh tinggi besar, sekitar 187 cm, Damar memiliki pergerakan yang luwes. Ia melangkah cepat menerobos kerumunan jurnalis yang berkumpul di depan sebuah rumah mewah yang kini dijaga ketat oleh polisi.
Pagi ini, semua dikejutkan oleh berita kematian yang datang dari Menteri Sosial aktif, Ibu Sri Wulandari. Beliau ditemukan tewas pagi ini oleh asisten rumah tangganya. Tim forensik sedang memeriksa kondisi dalam rumah. Dugaan sementara, ia tewas karena henti jantung meski akan dilakukan pemeriksaan dengan lebih details setelah jasad dibawa oleh Tim Forensik nanti. Alih-alih bergabung dengan sekumpulan jurnalis yang berusaha mendapatkan scoop berita, Damar justru melangkah santai pada pria yang memanggilnya tadi. Dia bernama Bhumi, berusia 25 tahun. Bhumi adalah jurnalis junior di bawah pengawasan Damar. Ia sudah bekerja di kantor media Nusantara Kita sebagai jurnalis selama satu tahun terakhir dan sering mengikuti Damar melakukan liputan.
“Kenapa malah di sini?” ucap Damar mendekati Bhumi yang berdiri di pinggir jalan. Pria itu mengenakan kaus oblong, celana pendek, dan sepatu olahraga, seolah mengindikasikan jika baru saja selesai berolahraga.
“Ndak perlu Mas…” balas Bhumi dengan logat Jawa yang masih kental meski sudah satu tahun berada di Jakarta. “Tadi sebelum mereka kumpul kayak zombie itu, aku sudah di sini duluan!” ucapnya bangga.
“Kok bisa?” balas Damar.
“Tadi aku lagi jogging…aku ngekos di komplek seberang sana,” ujar Bhumi menunjuk area perumahan kelas menengah yang berseberangan dengan komplek elit di sini. Memang Bhumi sering ber-jogging pagi karena Damar sering menyarankan untuk banyak berolahraga khususnya lari karena profesi mereka membutuhkan ketahanan dan kecepatan fisik ketika sedang mengejar scoop berita. “Aku sering lewat sini dan security komplek itu sudah kenal aku, Mas. Tadi pas lagi jogging, mau balik ke kosan, aku lihat ART dari rumah Bu Menteri keluar dan jerit-jerit manggil security sambil nyebut, ‘Ibu! Tolong ibu!’,” lanjut Bhumi sambil menirukan apa yang dia lihat.
“Terus kamu tolongin?”
“Yo, karena ndak ada siapapun–cuma ada security, mau ndak mau aku ikut masuk dan bantu memindahkan jenazahnya. Tak kira awalnya sakit atau kejang, atau bagaimana–tapi ternyata meninggal!” ujar Bhumi berapi-api.
“Kamu sempat ambil fotonya kah?” bisik Damar hati-hati. Ia tahu ini terkesan seperti tidak memiliki empati. Namun footage adalah hal penting dalam sebuah berita.
“Aku sempat ambil diam-diam pas lagi meleng. Tapi memangnya boleh dipublikasikan?” balas Bhumi ragu.
Damar menghela nafas panjang, “Nggak boleh sih…tapi tolong kirim saja ke aku, biar nanti kalau ada apa-apa, kita punya back-up nya.”
“Oh! Oke Mas!” Bhumi lekas mengeluarkan ponsel dan melakukan apa yang diminta Damar. Foto korban dikirimkan padanya melalui aplikasi WhatsApp. Damar membuka dan mengamati foto tersebut.
“Apa dugaan sementara dari polisi?”
“Katanya sih jantung," jawab Bhumi.