SUMPAH KALA

Snowflakemlet
Chapter #3

Botol Putih Mencurigakan

Sebelum bertolak ke kantor, Damar dan Bhumi singgah sejenak di warung makan Tegal terdekat. Keduanya belum sarapan karena Damar bergegas pergi ketika Bhumi memberitahu bahwa ada scoop berita besar untuknya. 

“Sekelas menteri yang gajinya sudah milyaran masih main pesugihan kayak gitu…”

Damar dan Bhumi, yang sedang makan, sontak berhenti lalu menatap ke arah dua bapak-bapak lain yang juga sedang sarapan di sana. Penjaga Warteg menyalakan televisi yang menayangkan berita pagi perihal kematian Ibu Menteri yang sontak menjadi berita panas pagi itu. Damar sendiri sudah merilis artikel online on the spot terkait hal itu sebelum bergegas ke Warteg bersama Bhumi.

“Atau jangan-jangan dia kaya raya sampai bisa jadi Menteri karena bantuan klenik?” sambung bapak-bapak lainnya sebelum mereka tertawa. Miris sekaligus dilematis dirasakan Damar kala mendengar percakapan tersebut. Disatu sisi, ia merasa bahwa tak seharusnya menggunjingkan orang yang sudah tiada namun kemudian Damar teringat jika ia adalah seorang jurnalis yang empatinya kadang padam jika sudah dihadapkan pada scoop berita besar. Ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan bahan berita. 

“Kok ya aku nggak merasa kasihan ya lihatnya?” 

“Untuk apa kasihan sama orang kaya? Menteri itu kita yang gaji! Selama ini mereka dan bahkan Presiden kita saja sikapnya sudah seolah mereka lebih tinggi dari Tuhan! Nggak ada itu mereka merasa takut sama Tuhan makanya terus saja korupsi!” 

Damar mengunyah perkedelnya sembari membenarkan obrolan kedua bapak itu dalam hati. Sebagai warga negara kelas menengah, ia tak bisa menyalahkan jika rakyat tak merasa bersimpati pada pejabat yang meninggal atau menderita karena sakit. Beberapa hari lalu saja, di forum online, netizens menyoraki kasus anggota polisi yang dikeroyok massa tak dikenal. Bahkan ketika polisi muda itu meninggal, tak ada ungkapan keprihatinan atau bela sungkawa. Simpati dan empati sudah redup, bahkan mati, di masyarakat ini. 

Pemerintah tak lagi merasa membutuhkan rakyat sehingga mereka terus memperlakukan rakyat layaknya sapi perah. Uang dikuras namun tak ada pelayanan sepadan dari yang berwenang. Hukum yang tajam ke bawah membuat masyarakat tak lagi memiliki kepercayaan pada institusi penegak hukum. Kematian satu anggota polisi, kini terasa seperti sebuah hal yang patut dirayakan karena kekesalan pada institusi tersebut  memuncak saking maraknya kasus kematian warga sipil di tangan polisi dan hampir semuanya menguap begitu saja. 

Damar membayar setelah selesai sarapan. Ia dan Bhumi bergegas keluar dari Warteg menuju mobil yang terparkir di seberang jalan. “Mas dengar ndak obrolan bapak-bapak tadi?”

“Eum. Mereka nggak salah kok,” balas Damar santai. “Dan kita juga nggak bisa menyalahkan warga yang tidak bisa berempati atas kematian Bu Menteri. Negara ini sedang kritis. Perginya satu menteri juga bukan jaminan bahwa penggantinya akan lebih baik. Masyarakat akan terus skeptis sama pemerintah selama mereka terus begini.”

Keduanya pun tiba di samping mobil milik Damar, “Aku rasa kita wajib bersyukur karena Pak Ronan nggak bersedia untuk diajak kumpul sama PemRed lainnya di bawah instruksi Presiden.”

“Seberbahaya itukah Mas?”

Lihat selengkapnya