SUMPAH KALA

Snowflakemlet
Chapter #5

Butuh Kematian Lain

Kembali ke Jakarta, Damar keluar dari pantry kantor setelah membuat kopi. Ketika akan kembali ke mejanya, televisi di kantor menyiarkan info tentang kematian Ibu Sari Wulandari. Polisi bersikukuh bahwa kematian beliau disebabkan oleh serangan jantung. “Hari gini siapa yang percaya sama keterangan polisi?” Damar mengarahkan tatapannya pada sosok jurnalis senior yang dulu menjadi mentornya, Adhiswara, dan kini menjadi senior editor.

“Menurut gue ya mas, orang-orang tuh udah nggak peduli sama gimana matinya. Dari apa yang gue cek di sosial media, netizen lagi rame bahas konspirasi tentang sesajen di ruang Bu Menteri tewas,” ujar salah satu jurnalis lainnya. 

“Itulah! Taruhan sama gue, berapa banyak pejabat yang main klenik kayak gini?” ucap Adhis. 

“Mas, ada yang mau gue omongin sebentar…” ujar Damar menepuk dan menarik Adhis menuju bilik kerjanya. 

“Ada apa?” Damar meminta Adhis duduk di salah satu kursi dan ia lekas membuka komputernya. Damar menunjukkan foto TKP yang ia terima dari Bhumi. “Ini foto TKP yang dari Bhumi kan? Bukannya sudah dirilis?”

“Sudah, Mas. Tapi bukan itu yang mau gue bahas,” ucap Damar kemudian memperbesar foto dan menunjukkan sebuah botol putih di samping dupa. 

“Botol apa itu?”

“Itulah pertanyaan gue,” ucap Damar. “Polisi bilang Bu Menteri tewas karena serangan jantung…tapi jujur, botol putih ini ganggu gue banget.”

“Tunggu, jangan bilang kalau lo berpikir bahwa Bu Menteri bunuh diri?” 

“Itu bisa jadi satu kemungkinan yang nggak bisa diabaikan kan?” ucap Damar. “Mas, kalau kita bisa ungkap ini semua, itu akan mendatangkan keuntungan buat kita. Publik akan ada di pihak kita. Ini akan jadi kasus yang menarik untuk dibahas karena masyarakat online sedang mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Gue pribadi yakin bahwa kematian Bu Menteri bukan karena serangan jantung.”

“Terus apa rencana lo? Kalau masuk akal, gue bisa rekomendasikan ini ke Pak Ronan.”

“Kita harus telusuri dulu latar belakang Bu Menteri. I can work on it.

Adhis berpikir selama beberapa saat. “Oke, kumpulin dulu info sebanyak-banyaknya. Kalau lo rasa udah solid, berkabar sama gue nanti kita bisa atur semuanya.”

“Oke Mas!” 

By the way, si Bhumi lagi liputan ya?”

Lihat selengkapnya