“Ya, itu…sejujurnya aku nggak kaget sih ketika dengar bahwa Bu Sari ternyata penganut kepercayaan hal-hal seperti itu. Percaya deh, beliau bukan satu-satunya petinggi negara yang terikat dengan ritual klenik atau pesugihan seperti itu,” ujar Jiwa menikmati es campurnya segelas berdua dengan Damar. Gadis bertubuh mungil, berkulit langsat dengan rambut kuncir kuda ciri khasnya, adalah sahabat dekat Damar sejak kecil.
Ia sehari-hari bekerja sebagai content creator, editor sekaligus penulis. Beberapa bukunya menjadi best-seller dan sedang dalam tahap negosiasi dengan production house untuk dijadikan live-action. Jiwa adalah seorang yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang Antropologi. Ia sering keluar masuk pedesaan dan daerah terpencil guna melakukan penelitian untuk bukunya. Diluar itu, Jiwa memang seorang gadis muda yang memiliki jiwa petualang. Ia memiliki channel Youtube yang merekam footage perjalanannya berkelana. Jika sedang tak ada pekerjaan, terkadang Damar ikut serta dengannya.
“Kira-kira, jenis ritual pesugihan apa yang dipakai Bu Menteri?”
Jiwa tertawa pelan mendengar pertanyaan Damar, “Jadi dibandingkan kasus kematiannya, kamu lebih penasaran sama ritual yang dia ikuti?”
“Bukannya itu yang jadi hot topic netizens?”
Jiwa mengangguk pelan, “Iya sih…masyarakat sekarang cenderung sudah nggak peduli sama pemerintah karena terlalu banyak kebijakan bodoh yang mereka buat dan merugikan kita. Setiap hari aku buka sosial media, isinya pasti masyarakat nyumpahin pejabat kita,” ucap Jiwa sambil menikmati alpukat pada es campurnya.
“Tapi menjawab pertanyaan kamu, kalau kamu mau menelusuri, menurut aku yang harus ditelusuri itu lokasi dimana Bu Menteri pertama kali terlibat dalam ritual itu. Karena ritual seperti itu banyak sekali! Apalagi di Pulau Jawa," ujar Jiwa.
“Ya susah dong, Wa…kalau praktik kayak gitu kan biasanya nggak ada jejaknya nggak sih?”
“Ya, memang perdukunan itu cenderung nggak terdeteksi di internet tapi bukan berarti nggak ada. Tapi biasanya, setahu aku ya, seseorang yang terlibat dalam ritual klenik pesugihan itu paling tidak akan diminta mendatangi tempat yang sama, minimal satu bulan sekali. Jadi kamu bisa menelusuri dari riwayat perjalanan Bu Menteri paling tidak selama satu sampai tiga bulan terakhir," ujar Jiwa lebih jauh.
Damar terdiam mendengarkan saran dari Jiwa yang terasa cukup masuk akal baginya. Pejabat yang melakukan perjalanan biasanya memiliki dokumentasinya sendiri. “Tapi bukannya tempat seperti itu cenderung terpencil ya? apa akan ada dokumentasinya juga?” gumam Damar tak yakin. Ditengah itu semua, ia melihat sosok Wicak muncul di pintu kafe. Damar mengangkat tangan seraya memberitahu dimana ia duduk.
“Itu siapa?” bisik Jiwa.
“Temen,” balas Damar. “Kenalin, Jiwa, temen gue. Ini Wicak, temen aku juga.”
Wicak dan Jiwa pun berjabat tangan sebelum akhirnya Wicak bergabung dengan mereka. Damar sempat menawarkan untuk pesan makanan namun Wicak menolaknya, “Gue to the point aja…” ucap Wicak menyodorkan sebuah map pada Damar.
“Apa ini?”
“Hasil lab forensik dari Dokter Ed," ucap Wicak menyerahkan laporannya pada Damar.
“Hah? kenapa lo kasih ini ke gue?”
“Karena polisi berniat untuk tutup kasus ini.”
“Secepat itu??” sambar Jiwa terkejut. “Tapi ya nggak kaget sama polisi–ah! Apa??” sungutnya ketika Damar menginjak kakinya dari bawah meja sementara matanya melirik ke arah Wicak. “Ah, kamu polisi??” seru Jiwa ketika baru menyadari semuanya. Gadis itu lekas meminta maaf berkali-kali.
“Nggak apa-apa, kebetulan aku juga benci institusiku,” balas Wicak santai.
“Nah, ini baru oknum!” ucap Jiwa menunjuk Wicak sambil terkekeh. Pria itu hanya tersenyum tipis. “Kalau kamu benci kenapa kamu jadi polisi?”
“Tertipu imajinasi masa kecil dan punya keluarga yang turun-temurun jadi polisi. Aku nggak punya pilihan. Tapi aku lolos murni dan masuk akademi tanpa sogokan,” ucap Wicak bangga.