“Ke Karanganyar dan lo mau resign?” ucap Edrian terkejut mendengar rencana Wicak. Pria itu mengajaknya makan malam bersama setelah bekerja.
“Iya. Nggak ada gunanya gue bolak-balik sana-sini. Sesederhana kasus ini aja–mereka minta gue untuk ambil laporan forensik dari lo, bukannya itu dijadiin acuan penyidikan malah dipake untuk konfirmasi– ‘Oh, ya udah berarti memang Bu Menteri kena jantung, selesaikan! Kita tutup kasus ini!’.” ucap Wicak menirukan ucapan atasannya. “Gila kali…Gue udah nggak sanggup kerja sama orang-orang kayak gitu. Tapi ya maklum aja banyak yang cuma tamatan SMA.”
“Emang lo nggak?”
“Pas pendidikan di sini iya, gue cuma tamatan SMA tapi terus gue ambil kuliah biarpun telat dan gap year pas ditempatkan di divisi siber dulu. Kita nggak sama. Bokap juga selalu nyaranin untuk sekolah lagi biarpun telat…biar nggak dibodoh-bodohin,” balas Wicak menikmati kerupuknya dengan gusar.
“Tapi lo masih mau nelusurin kasusnya Bu Menteri?”
“Eum! Mereka nggak bener-bener nutup kasus kok. Tapi cuma akan dibiarin gitu aja sama mereka biar kesannya ‘transparan’ ditengah gelombang masyarakat yang nggak percaya sama Kepolisian," balas Wicak.
“Tapi menurut lo, orang-orang tuh nggak peduli ya nggak sih sama kematiannya? Bu Menteri maksud gue–” ucap Edrian.
“Yeah…mereka mantengin karena butuh hiburan buat gosip aja. Gue nggak bisa nyalahin mereka," balas WIcak.
“Yeah…”
“Tapi menurut lo, Dok, lo lebih percaya dia bunuh diri apa dibunuh?”
“Dibunuh,” balas Edrian tanpa ragu. “Melihat karakteristik pejabat kita, menurut gue, bunuh diri itu nggak pernah ada di kamus mereka. Mereka lebih baik bunuh rakyat dibandingkan bunuh diri.”