“Thanks!!” Seru Jiwa menerima minuman dari Damar dengan sumringah. “Kamu pulang dulu kah?”
“Eum, nggak enak banget badan lengket seharian kerja. Untung masih segedung…” balas Damar duduk di ruang tamu Jiwa dengan santai seolah tempat itu adalah rumahnya sendiri.
“Besok nggak kerja kah?”
“Nggak padet lebih tepatnya. Aku juga mau ngajuin cuti. We need to make a plan for our trip.”
“Oh iya! Bener juga! By the way, kamu mau bahas apa?”
“Aku berencana mau nulis rubrik terkait praktik klenik dan peran guru spiritual dalam lingkungan para pejabat–” Jiwa tersenyum lebar mendengar ucapan Damar.
“Hari ini hari keberuntungan kamu karena itu topik yang aku angkat untuk jurnal tesisku. Sebentar,” ucap Jiwa meletakkan minumannya dan bangkit sejenak. Ia kemudian kembali dan menyodorkan iPad yang menampilkan jurnal online berjudul: “Mistik dan Politik: Praktek Klenik Dalam Politik Indonesia.”
“Bolehkan bahas kayak gini untuk tesis?”
“Heh, Kamu lupa ya kalau backgroundku ini Antropologi?” sungut Jiwa sambil bertolak pinggang sebelum kembali duduk di kursi kerja dan menyeruput minumannya.
“Bisa jelasin ke aku inti garis besarnya?”
“Kamu jurnalis tapi males baca?”
“Not today,” balas Damar menghela nafas panjang. “Aku pasti baca tapi nggak malam ini karena kepalaku mau pecah.”
Jiwa mendengus sebal, “Jadi intinya, praktek klenik dan perdukunan dalam politik negara kita itu udah terjadi bahkan dari abad ke-16.”
“Apa semua petinggi negara terlibat?”
“Nggak semua tapi bahkan dari Presiden kita yang pertama pun sudah melakukan praktek mistisisme,” jelas Jiwa.
“Bukti?”
“Kamu tau lakon wayangan kan?”
“Tahu.”
“Secara antropologis, wayang berfungsi sebagai media penyampai nilai moral dan ajaran hidup, di mana pesugihan sering ditampilkan sebagai contoh ketidakseimbangan antara dunia material dan spiritual. Di sisi lain, pesugihan juga bisa mengambil inspirasi dari mitologi wayang, terutama dalam hal ritual, tokoh mistis, dan konsekuensi moral dari keserakahan. Presiden Soekarno adalah penggemar berat dari lakon wayangan. Di tahun 1960-an, beliau pernah melakukan perhelatan lakon wayang di Istana Negara dengan lakon, Dalang, bahkan sinden pilihan beliau sendiri–”