Keesokan harinya, Damar ke kantor sebentar untuk mengurus surat cutinya. Di sana ia bertemu dengan Bhumi yang menginap semalaman di sana dan pria itu berniat pulang. “Oh, Mas!”
“Kamu beneran nginep?”
“Eum..ketiduran pas kelarin tulisanku semalam. Ini baru mau pulang," ucap Bhumi.
“Udah ada kabar kapan mau jalan ke Karanganyar?”
“Tadi sih Mas Adhis kabarin aku katanya lusa,” ucap Bhumi masih terduduk malas di kursinya.
Damar mengangguk pelan, “Eh, Bhum, Kamu tahu Candi Sukuh kah?”
“Candi Sukuh? Eoh! Tahu. Kenapa?”
“Apa di sana kadang diadakan acara wayangan gitu?” tanya Damar.
“Ya, itu sekarang jadi tempat wisata Mas, letaknya ada di lereng Gunung Lawu. Candi itu sempat menuai kontroversi karena bentuknya kayak alat kelamin manusia–” jelas Bhumi.
“Hah?? Serius??”
“Iyo! Jadi dulu itu kisahnya…ada perempuan dari keluarga ningrat yang menjalin hubungan dengan laki-laki biasa. Mereka sudah berhubungan badan tapi keluarga wanita itu ndak setuju sama hubungan itu. Jadi mereka ini ndak ngaku kalau sudah berbuat sejauh itu. Akhirnya dibuatkanlah kayak semacam…opo yo namanya…artefak gitu bentuknya itu seperti alat kelamin pria, Lingga, dan wanita. Itu dulu digunakan untuk ngetes gitu apa si perempuan ningrat dan pacarnya ini masih perjaka dan perawan…” ujar Bhumi lebih jauh.
“Terus?”
“Pas mereka ngelewatin artefak itu, si perempuan mengalami pendarahan dan si laki-laki keluar seperti air mani gitu. Dari situ keluarga akhirnya tahu bahwa mereka sudah melanggar norma dan akhirnya diasingkan," jelas Bhumi lebih jauh.