Sekitar tiga hari berlalu sudah. Ki Sungkono berdiri di depan gapura bertuliskan “Desa Waringin.” Beberapa kendaraan berlalu-lalang melewati jalan setapak satu arah di lereng Gunung Lawu yang hanya bisa dilewati oleh satu kendaraan roda empat dan dua kendaraan roda dua.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di dekatnya. Seseorang turun dari sana dan Ki Sungkono mencuri pandang sejenak. Tatapan mereka bertemu dan pria tua itu balas membungkuk ketika orang itu membungkuk sopan seraya menegurnya sebelum masuk begitu saja. Ki Sungkono membiarkannya karena bukan itu yang ditunggunya.
Setelah mobil pertama pergi, berselang 5 menit kemudian, mobil mewah muncul di depannya. “Pak Surya…” sapa Ki Sungkono setelah Pak Jenderal Surya turun dari mobil dengan dibantu ajudannya, Tommy, yang kemudian menginstruksikan supir agar menjemput mereka besok.
“Apa kabar Mbah?” ucap Pak Surya menjabat tangan Ki Sungkono. “Semua sudah siap?”
“Semua sudah siap, Jenderal. Mari,” ucap Ki Sungkono mengajak Jenderal Surya berjalan memasuki desa.
“Untung udara di sini segar ya. Jadi jalan pagi di sini nggak berasa…karena udaranya segar,” ucap Jenderal Surya menghirup udara segar desa di pegunungan itu.
“Benar. Kita harus menyatu dengan alam sebelum melakukan meditasi,” ucap Ki Sungkono yang kemudian membimbing Pak Jenderal ke rumah dan membantunya berganti pakaian layaknya pakaian Ihram serba putih. Pria tua itu kemudian membimbing Jenderal Surya melalui jalan setapak menuju gua yang mereka sambangi kemarin. Semua sesajen dan dupa sudah disiapkan di dalam sana termasuk area untuk meditasi.
“Apa anda yakin mampu untuk bermeditasi selama 24 jam?” Tanya Ki Sungkono memastikan sekali lagi.
“Saya siap Mbah. Meditasi 24 jam tidak ada apa-apanya dibandingkan tanggung jawab jabatan saya sebagai Kapolres untuk beberapa tahun mendatang. Saya akan mempertahankannya mati-matian.”
“Baik. Nanti saya dan Mas Tommy akan menengok anda setiap dua jam sekali untuk memastikan kondisi anda.”
“Baik Mbah,” Jenderal Surya lekas duduk bersila di spot sesajen dan dupa yang sudah disiapkan. Ia memejamkan mata lalu mulai bermeditasi. Ki Sungkono pun kemudian meminta Ajudan Tommy untuk keluar dan tidak mengganggu jalannya meditasi.
“Saya mau tunggu di luar sini aja Mbah,” ucap Ajudan Tommy pada Ki Sungkono.
“Tapi–”