Setelah menempuh sekitar 7 jam perjalanan dari Jakarta, Edrian yang bertolak ke Karanganyar dari pukul 7 pagi dari Stasiun Pasar Senen dan tiba di lokasi sekitar pukul 3 sore. Mobil yang dikendarai supir yang dipersiapkan untuknya tiba di gerbang masuk Desa Waringin. Ia sudah menerima kabar dari Wicak bahwa ada juniornya yang sudah lebih dulu berada di sana. Disaat bersamaan, Ia melihat pria muda berdiri di samping gapura masuk desa dan ia persis seperti apa yang dijabarkan Wicak.
“Maaf pak, bisa berhenti sebentar? Itu ada anak buah saya…” gumam Edrian berbicara dengan supir. Mobil pun berhenti dan ia membuka kaca jendela, “Bhumi?”
“Dokter Edrian??”
“Masuk,” ucap Edrian dan Bhumi pun bergegas masuk ke dalam mobil. Ia duduk di kursi belakang. “Dokter sendiri aja?”
“Ya, Penyidik nggak mengizinkan aku bawa tim dalam jumlah besar karena takut menarik perhatian. But one person is okay,” balas Edrian santai.
“Jadi Pak Kapolri beneran meninggal toh? Mas’e polisi kah?” tanya pak supir yang mengantar mereka.
“Saya Dokter Forensik Pak. Saya diutus pihak Polri untuk memeriksa kematian pak Kapolri.”
“Loh jasadnya ndak dibawa ke rumah sakit toh?”
“Harusnya dibawa tapi mereka maunya saya autopsi di tkp dulu kalau memungkinkan baru dibawa ke Rumah sakit. Nggak tahu juga kenapa begitu Pak…memang institusi itu bertindak sesuka hati mereka aja,” ucap Edrian seiring mobil yang dikendarai melewati beberapa orang polisi yang berjaga di sana.
“Jadi jasadnya masih di desa itu kah?” tanya Bhumi.
“Ya…udah lihat?”
Bhumi menggeleng pelan, “Saya ndak diizinkan masuk karena ndak ada kerabat warlok di sana. Mungkin karena ada kematian Pak Kapolri itu saya ndak diizinian masuk.”
“Wartawan kan? Yeah, mereka alergi sama kalian. Baiknya di dalam nanti jangan bertanya apapun.”
Tak perlu waktu lama, mereka tiba di rumah Ki Sungkono, seseorang yang membimbing Kapolri selama beliau mengunjungi desa tersebut. Jasad Kapolri diletakkan disana untuk sementara.
“Selamat siang, saya Edrian, saya ditugaskan Polri untuk memeriksa sementara jasad Pak Surya.”
“Ki Sungkono,” ucap pria tua itu. Bhumi refleks bersembunyi di balik tubuh jangkung Edrian ketika tak sengaja memergoki pria itu menatapnya.
“Saya akan cek dulu kondisi luarnya. Biar bagaimanapun, mendiang tetap harus dibawa ke Rumah Sakit terdekat untuk otopsi mendalam,” ucap Edrian memakai sarung tangan dan membuka selimut yang menutupi jasad. Ia terdiam ketika melihat sang Jenderal hanya mengenakan selembar kain putih layaknya pakaian haji. Ia ingin bertanya lebih jauh namun Edrian merasa jika hal itu bukanlah ranahnya maka ia memilih diam.
Indera penciumannya refleks bekerja ketika bau tak sedap menguar begitu Edrian menyibak selimut itu. Bau ini terasa familiar, “Fosfin? Pestisida?” gumamnya dalam hati. Perasaan tak enak melanda batinnya dan memorinya kembali pada kematian Bu Menteri. Jelas, ini adalah rangkaian dari pembunuhan berseri. Seseorang menargetkan pejabat dan membunuh mereka. Tapi kalau lokasinya di desa terpencil seperti ini, ada kecurigaan tersendiri. Warga desa bisa saja berkonspirasi untuk menghabisi Sang Jenderal. Namun pola yang sangat mirip dengan kematian Bu Menteri, sangat mengusik batin Edrian.