Pagi berikutnya, Wicak sudah dipanggil kembali ke ruang atasannya, “Kamu benar-benar yakin mau resign?” ucap Pak Sjahrir, atasan Wicak. “Atau karena sakit hati kemarin tidak saya libatkan di kasus Bu Menteri?”
“Bukan Pak. Kebetulan saya dapat tawaran yang lebih baik dan saya berniat untuk menyelesaikan Pendidikan saya.”
“Tch–sudah enak di sini tapi kamu malah milih bersusah payah…uang mudah cair di sini–”
“Uang bukan tujuan saya Pak,” sambar Wicak. “Keluarga saya cukup mampu.”
Pak Sjahrir menatap sebal bawahannya itu. Mereka sering berselisih paham karena perbedaan pendapat. Pria tua itu tak menyukai Wicak namun tak bisa membantah bahwa insting investigasi Polisi muda itu sangat bisa diandalkan dan selalu tepat. Namun idealisme Wicak menyulitkannya untuk mendapatkan keuntungan dari kasus-kasus yang mereka tangani. “Untung kamu anak mantan jenderal…” sungutnya sambil menandatangani surat resign Wicak. “Kamu loh ya yang minta resign!”
“Betul pak,” balas Wicak tersenyum dan mengucapkan terimakasih sebelum keluar dari ruang atasannya itu sambil menghela nafas lega. Beban moral yang diembannya selama ini pun akhirnya sirna. Ia menyusuri kantor kepolisian untuk yang terakhir kalinya. Miris ia melihat para juniornya itu menyeret para demonstran tak bersenjata yang sudah babak belur. Disatu sisi ia merasa bersyukur bahwa dirinya tak perlu terlibat dalam pengamanan demo sehingga Wicak tak perlu mengotori tangannya dengan darah rakyat. Namun di sisi lain ia merasa bersalah karena tak lagi punya wewenang untuk menghentikan para juniornya yang dididik untuk menjadi monster haus darah.
Wicak menghela nafas dan lanjut berjalan hingga ia mendengar jeritan tangis seorang wanita di salah satu ruangan.
“SUMPAH SAYA MASIH TELPONAN SAMA TOMMY MALAM ITU!”