Malam itu, dingin Pegunungan Dieng tidak sekadar menembus kulit, melainkan merajam hingga ke dalam sumsum tulang. Bun upas—embun es yang mematikan bagi ladang kentang para petani—mulai turun merayap dari puncak-puncak bukit, melapisi dedaunan dan atap seng rumah warga dengan kristal-kristal tipis yang memantulkan cahaya bulan. Suhu di luar telah menyentuh angka nol derajat Celsius, tetapi di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter itu, hawa dingin terasa jauh lebih ganjil dan menikam.
Banyu meremas handuk lusuh di dalam baskom seng. Air di dalamnya begitu dingin hingga jemarinya hampir mati rasa. Di atas ranjang kayu yang terus berderit pasrah, Sekar meringkuk di bawah gulungan tiga lapis selimut tebal. Bibir anak perempuan berusia sepuluh tahun itu membiru pucat, giginya gemetaran hebat memunculkan suara gemeletak yang memecah keheningan malam. Namun, saat Banyu menempelkan telapak tangannya ke dahi sang adik, hawa panas membakar justru meletup, seolah ada api yang sedang menyala di dalam tengkorak kepala bocah itu.
"Mas... dingin, Mas..." bisik Sekar parau. Suaranya serak, tercekik oleh rasa sakit yang tak tertahankan.
"Sabar ya, Dek. Mas kompres lagi. Jangan dilepas selimutnya," Banyu menyapu keringat dingin yang mengucur deras di kening adiknya. Tangannya bergetar. Rasa cemas yang menggerogoti dadanya kini bertransformasi menjadi ketakutan murni.
Banyu melirik termometer digital yang tergeletak di atas meja bundar kecil. Alat kecil berlayar LCD itu berbunyi bip nyaring sebelum menampilkan angka yang membuat jantung Banyu seakan berhenti berdetak: 40,8 derajat Celsius. Angka itu belum pernah terlihat sejauh ini. Tiga jam lalu, suhu Sekar masih berada di angka 38,5. Banyu sudah memberinya dosis parasetamol ganda, mengoleskan baluran bawang merah dan minyak kayu putih ke sekujur dada serta punggungnya, tetapi grafik panas tubuh adiknya justru melonjak tanpa kendali.
Dengan napas memburu, Banyu kembali mencelupkan handuk ke dalam baskom. Pandangannya tak sengaja tertuju pada bekas luka jahitan di lutut kiri Sekar—sebuah keloid menimbul sepanjang lima sentimeter. Luka itu adalah monumen rasa bersalah Banyu. Lima tahun lalu, beberapa bulan setelah orang tua mereka tewas tragis dalam kecelakaan bus di jalur tengkorak Kejajar, Banyu yang baru berusia tujuh belas tahun teledor membiarkan Sekar membonceng sepedanya di turunan terjal. Rem sepeda itu blong. Sekar terlempar menghantam bebatuan tajam, sementara Banyu hanya menderita lecet ringan.
Sejak malam berdarah itu, Banyu bersumpah di hadapan pusara ayah dan ibunya bahwa ia akan mempertaruhkan nyawanya sendiri demi memastikan tidak ada lagi goresan luka yang menyakiti Sekar. Dialah yang membanting tulang menjadi pemandu wisata lepas di kawasan Candi Arjuna, bertani kentang di tanah sewaan, dan menyapu daun-daun gugur demi membiayai sekolah serta makanan adiknya.
Namun malam ini, Banyu merasa benar-benar tak berdaya. Lawannya bukanlah kemiskinan atau celaka fisik, melainkan sesuatu yang tak kasatmata.
"Mas... ada yang panggil Sekar di luar..." gumam Sekar tiba-tiba. Matanya terpejam rapat, tetapi kelopaknya bergerak-gerak gelisah seolah sedang mengalami mimpi buruk yang luar biasa mencekam.
Banyu menghentikan gerakan tangannya. Ia menajamkan pendengaran. Di luar kamar, hanya ada deru angin malam yang memukul-mukul papan dinding kayu rumah tua mereka. "Enggak ada siapa-siapa, Dek. Cuma angin. Mas ada di sini, Mas enggak akan ke mana-mana."
Banyu meraih termometer itu kembali, bermaksud memeriksa ulang suhu Sekar. Namun saat sensornya menempel di kulit dahi adiknya, layar LCD itu mendadak berkedip liar. Angkanya melompat dari 41,2 ke 42,5, lalu tiba-tiba meluncur bebas hingga menunjukkan angka 32,0 derajat Celsius—suhu hipotermia ekstrem yang secara medis berarti tubuh manusia telah berada di ambang kematian.