Gema dentang lonceng perunggu itu masih merambat lambat di udara, menggetarkan kaca-kaca jendela dan membuat susunan piring kaleng di rak dapur berdenting kencang. Namun di atas pembaringan, detak jantung Sekar telah lenyap.
"Gak... enggak! Sekar, buka matamu!" Banyu meraung, kesadarannya runtuh mendadak.
Tanpa memikirkan hal lain, Banyu meletakkan dua telapak tangannya di tengah dada kecil adiknya. Ia menekan kuat-kuat satu, dua, tiga kali lalu meniupkan udara ke dalam mulut Sekar yang dingin bagai es kawah. Rasa amis sulfur dan aroma tanah basah langsung menyengat lidahnya, tetapi Banyu tak peduli. Ia terus memompa dada Sekar dengan sisa-sisa tenaga dan keputusasaan yang membakar paru-parunya.
"Jangan tinggalkan Mas, Sekar! Mas mohon... ambil nyawaku saja, jangan adikku!"
Pada hitungan RJP (Resusitasi Jantung Paru) yang kelimabelas, dada Sekar mendadak terangkat tinggi secara drastis. Bocah itu menyerap udara malam dalam satu tarikan napas yang panjang, tajam, dan menyakitkan. Suara erangan berat keluar dari tenggorokannya, disusul terbatuk-batuk hebat hingga air mata dan lendir dingin meleleh dari hidungnya.
Banyu merengkuh tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Tubuh Sekar bergetar hebat, napasnya tersengal-sengal kaku. Panas membakar di dahinya yang semula melompati batas wajar kini lenyap berganti menjadi dingin menyengat yang tak wajar.
"Mas..." bisik Sekar. Suara itu kini kembali menjadi suara adiknya suara bocah perempuan sepuluh tahun yang rapuh dan ketakutan.
"Iya, Dek! Mas di sini! Mas meluk kamu!" Banyu menangis sesenggukan, mengecup pucuk kepala adiknya berulang kali. Namun saat jemarinya menyusup ke selipan rambut Sekar, rasa kaku dan kasar menahan gerakannya.
Banyu menarik tangannya perlahan. Di bawah sinar lampu kamar yang kembali menyala remang, ia menatap helaian rambut Sekar.
Tidak ada lagi rambut hitam lurus yang setiap pagi rajin ia kepang dua sebelum adiknya berangkat ke sekolah dasar. Rambut itu kini sepenuhnya memadat, melilit kaku satu sama lain menjadi untaian-untaian gumpalan tebal yang pekat dan keras seperti pilinan serat ijuk. Bahkan saat Banyu mencoba memisahkannya dengan jemari, gumpalan itu tidak bergerak sedikit pun, seolah-olah telah menyatu secara biologis dengan kulit kepalanya.
Anak bajang.
Kata itu kembali bergema di kepala Banyu. Dalam budaya masyarakat Dataran Tinggi Dieng, anak-anak berambut gimbal dianggap sebagai titipan leluhur—sosok pilihan yang dipercayai membawa berkah atau justru petaka bagi keluarganya jika tidak dirawat dengan ritual ruwatan yang benar. Namun, proses tumbuhnya rambut gimbal secara normal selalu memakan waktu berminggu-minggu, didahului demam bertahap yang naik turun.
Sekar tidak melalui itu semua. Rambutnya berubah hanya dalam hitungan menit di tengah malam yang diiringi dentang lonceng gaib.
"Mas... leher Sekar panas banget..." aduh Sekar pelan. Matanya setengah terpejam, bola matanya yang semula keruh kini perlahan kembali normal, tetapi tatapannya tampak sayu dan kehilangan daya hidup.
Banyu menyingkap gumpalan rambut gimbal di tengkuk adiknya. Di sana, tepat di atas tulang leher bagian atas, ruam kehitaman yang Banyu lihat sebelumnya telah mengkristal menjadi pola yang sangat jelas. Ruam itu bukan sekadar lebam pembuluh darah, melainkan gumpalan pigmen hitam di bawah kulit yang membentuk simbol lingkar puser berukir runcing persis seperti aksara Kawi kuno yang sering terukir di batu-batu candi abad pertengahan.